Puluhan Koperasi di Lebak Terancam Dibubarkan

0
1.244 views
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Babay Imroni (tengah).

RANGKASBITUNG – Sebanyak 82 koperasi, akhir tahun ini, akan dibubarkan. Hal tersebut terjadi karena puluhan koperasi tersebut tidak aktif dan belum pernah melakukan rapat anggota tahunan (RAT) serta tidak beraktivitas selama lebih dari setahun.

Berdasarkan data di Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Lebak, jumlah koperasi di Bumi Multatuli sebanyak 818 unit, dengan rincian 736 koperasi dalam kondisi aktif, dan 82 koperasi tidak aktif. Ratusan koperasi tersebut bergerak di bidang usaha simpan pinjam dan koperasi serba usaha (KSU).

Kepala Bidang Kelembagaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Asep Wahyudin mengatakan, pada 2016, Dinas Koperasi dan UKM melakukan pendataan koperasi di 28 kecamatan. Hasilnya, ada 818 koperasi yang berbadan hukum dan tersebar di wilayah Lebak. Setelah dilakukan verifikasi, hanya 736 koperasi yang dinyatakan sehat atau aktif.

“Koperasi merupakan soko guru perekonomian. Karenanya, kita dukung tumbuh dan berkembangnya koperasi di Bumi Multatuli,” kata Asep Wahyudin, Rabu (7/6).

Menurutnya, koperasi tidak aktif yang berjumlah 82 unit tidak langsung diusulkan untuk dibubarkan. Lembaga koperasi tersebut dibina terlebih dahulu oleh Dinas Koperasi dan UKM Lebak. Jika tidak bisa diaktifkan lagi maka koperasi tersebut bakal diusulkan untuk dibubarkan kepada pemerintah pusat. “Pada 2016, kita membubarkan 16 koperasi karena sudah tidak bisa dibina lagi,” paparnya.

Selama ini, kata dia, pegawai Dinas Koperasi dan UKM terus berupaya untuk melakukan pembinaan dengan cara turun ke lapangan. Bahkan, setiap tahun pemerintah daerah menyelenggarakan pelatihan manajemen koperasi dan laporan keuangan koperasi. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman pelaku koperasi dalam membuat laporan keuangan yang disampaikan dalam rapat anggota tahunan (RAT).

“Koperasi aktif dan sehat dapat dilihat dari aktivitasnya dalam menjalankan usaha. Tidak hanya itu, lembaga koperasi harus intens melakukan RAT,” jelasnya.

Asep berharap, ke depan, lembaga koperasi yang ada di Lebak bisa tumbuh dengan baik dan menjadi koperasi sehat. Jika koperasi sehat maka ekonomi masyarakat di Lebak akan tumbuh sehingga Lebak akan keluar dari predikat sebagai daerah miskin dan tertinggal.

“Pembubaran koperasi merupakan jalan terakhir yang akan ditempuh pemerintah. Kita akan upayakan pembinaan terlebih dahulu supaya koperasi yang tidak aktif menjadi sehat dan berkualitas,” tegasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Babay Imroni mengatakan, koperasi memiliki peranan penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat di Indonesia. Karena itu, pemerintah daerah punya perhatian besar terhadap perkoperasian di daerah. “Selain pelatihan, kita juga lakukan pembinaan dengan turun langsung ke lapangan,” ungkapnya. (Mastur/RBG)