Puluhan Ribu Wisatawan Padati Negeri di Atas Awan

Destinasi wisata negeri di atas awan di Gunung Luhur, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, dipadati wisatawan lokal dan nasional, kemarin. Foto : Dok Pengelola Obyek Wisata Gunung Luhur

LEBAK – Pesona obyek wisata alam Negeri di Atas Awan Gunung Luhur di Ciusul, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, menyedot perhatian wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Gunung Luhur pada Minggu (22/9) diperkirakan mencapai puluhan ribu orang.

Informasi yang dihimpun Radar Banten, ramainya wisatawan lokal dan nasional yang berkunjung ke Gunung Luhur membuat kemacetan parah di ruas Jalan Cipanas – Warung Banten. Kemacetan mulai terjadi dari Desa Citorek hingga ke obyek wisata. Dari data pemerintah desa setempat, jumlah mobil yang berwisata ke negeri di atas awan sebanyak 1.200 unit, sedangkan jumlah motor mencapai 3.000 lebih.

Akibatnya kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali dari Citorek sampai ke lokasi wisata. Kondisi tersebut membuat pengunjung memilih untuk turun dari kendaraan dan jalan kaki ke Gunung Luhur untuk bisa berswafoto di spot-spot foto yang telah disediakan pengelola obyek wisata alam yang baru 10 bulan beroperasi.

Dedi, pengelola obyek wisata alam Negeri di Atas Awan Citorek menyatakan, wisatawan yang berkunjung ke Gunung Luhur mencapai puluhan ribu orang. Mereka mulai datang ke Citorek pada Sabtu (21/9) sore hingga Minggu dini hari. Bahkan, pada Sabtu malam penginapan dan lahan untuk mendirikan tenda sudah penuh, sehingga banyak wisatawan yang beristirahat di mobilnya masing-masing.

“Wisatawan mulai berdatangan ke Gunung Luhur sejak Sabtu sore. Mereka langsung ke penginapan dan mendirikan tenda di lokasi yang telah disediakan,” kata Dedi kepada Radar Banten, Minggu (22/9).

Alumni Perguruan Tinggi La Tansa Mashiro ini mengungkap, wisatawan puas dengan keindahan alam di Gunung Luhur. Hamparan awan yang menggantung di bawah bukit menjadi pemandangan yang paling dinantikan. Bahkan, wisatawan telah naik ke atas Gunung Luhur untuk melihat sunset dan gumpalan awan yang menutupi lembah dan pemukiman penduduk di Citorek.

“Untuk fasilitas di Gunung Luhur kita akui masih terbatas. Tapi kita komitmen akan terus menambah fasilitas bagi wisatawan agar mereka aman dan nyaman ketika menikmati liburan di sini,” ungkapnya.

Narta, Kepala Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber membenarkan obyek wisata alam Negeri di Atas Awan dipadati pengunjung sejak akhir pekan lalu. Jumlah pengunjung diperkirakan lebih dari 20.000 orang. Mereka datang ke Gunung Luhur menggunakan mobil dan sepeda motor.

“Kapolres Lebak yang baru AKBP Firman Andreanto bersama rombongan dari Mabes Polri juga berkunjung ke sini. Kendaraan mereka terjebak macet dan akhirnya jalan kaki,” kata Narta.

Para wisatawan yang berkunjung  bukan hanya berasal dari Pulau Jawa. Mereka ada yang datang dari Aceh, Lampung, dan Papua. Para wisatawan tersebut mengakui keindahan alam di Citorek Kidul. Perjalanan jauh dari Aceh terbayar dengan pesona alam Gunung Luhur.

“Saya ngobrol dengan beberapa wisatawan dari Aceh dan Papua. Mereka takjub dengan keindahan alam di sini. Walaupun ada beberapa catatan yang disampaikan. Salah satunya terkait akses jalan yang masih dalam tahap pembangunan,” jelasnya.

Ke depan pemerintah desa akan menambah berbagai fasilitas untuk dinikmati para pengunjung. Penataan obyek wisata Negeri di Atas Awan akan dilakukan secara bertahap. Karena pemerintah desa harus koordinasi dengan pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan pemerintah daerah.

“Fasilitas pendukung wisata akan menjadi faktor penting dalam pengembangan obyek wisata di Gunung Luhur. Bahkan kita usulkan agar dibangun rest area di beberapa lokasi. Tujuannya untuk mencegah terjadinya kemacetan parah seperti yang terjadi hari ini (kemarin-red),” ungkapnya.

Narta menambahkan, pembangunan jalan beton dari Citorek sampai Warung Banten belum tuntas 100 persen. Bahkan, pihak pemborong sampai sekarang belum membangun jalan beton dari Citorek sampai lokasi wisata alam di Gunung Luhur. Tapi dari Gunung Luhur ke Warung Banten kegiatan pembangunan jalan beton sudah direalisasikan.

“Salah satu penyebab kemacetan parah yang terjadi di Gunung Luhur karena pembangunan jalan beton diloncat kurang lebih sepanjang satu kilometer. Kami sendiri enggak tahu alasannya kenapa,” terangnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Lebak Imam Rismahayadin menyatakan, tingginya antusiasme masyarakat  tidak lepas dari peran media sosial yang mempromosikan obyek wisata ini. “Saya bersyukur, wisatawan yang datang ke Lebak terus mengalami peningkatan. Hal ini akan mendongkrak perekonomian masyarakat di sekitar lokasi wisata dan masyarakat Lebak pada umumnya,” ungkapnya.

Imam menjelaskan, kehadiran obyek wisata ini memberikan alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di atas ketinggian. Apalagi jarak tempuh dari Jakarta ke Lebak cukup dekat. Ditambah lagi akses Jakarta ke Rangkasbitung sudah mulai terbuka. Wisatawan hanya butuh waktu 1 jam 40 menit bisa sampai Rangkasbitung dengan menggunakan commuter line. Dari Rangkasbitung, wisatawan bisa menggunakan jasa travel atau pemandu wiaata untuk berkunjung ke Gunung Luhur dengan biaya yang murah meriah, yakni paket wisata mulai dari Ro250 ribu hingga Rp400 ribu.

“Saya optimistis target kunjungan wisatawan ke Lebak sebanyak satu juta orang dapat tercapai di akhir tahun 2019,” pungkasnya. (tur/alt)