Maraknya berita perceraian yang dilatarbelakangi perselingkuhan, membuat Minten (39) nama samaran kerap mewanti-wanti agar selalu berhati-hati. Apalagi sang suami, sebut saja Tuple (41) memiliki pekerjaan mumpuni dan terkadang sangat aktif di masyarakat.

Sontak hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan rumah tangga. Apa mau dikata, yang namanya wanita, kalau sudah punya firasat buruk, pasti tak akan bisa tenang menjalin hubungan. Duh, jangan parno gitu atuh, Teh!

“Bukan begitu, Kang. Soalnya, saya punya tetangga yang berbahaya. Kalau enggak bisa jaga suami dengan baik, wah, bisa celaka rumah tangga,” curhat Minten kepada Radar Banten. Wih, berbahaya gimana maksudnya, Teh?

“Hmm, ini saya bukan ngomongin orang ya, Kang. Tapi dia mah memang begitu. Suka ganggu suami orang,” kata Minten. Aih-aih.

Minten mengaku, kalau berbicara urusan cinta, ia memiliki banyak pengalaman sewaktu muda, baik yang bahagia maupun menderita. Jadi, meski belum terbukti nyata, ia bisa mengetahui maksud jahat terhadap suaminya. Katanya, dengan status sang tetangga sebagai janda anak dua, Minten tak bisa tenang menjalani hubungan.

Terlahir dari keluarga sederhana, ia menjadi anak paling disayang keluarga. Soalnya, Minten anak terakhir dari empat bersaudara dan anak perempuan satu-satunya. Apa yang diminta, pasti terlaksana. Hingga usia beranjak dewasa, penyeleksian dalam menentukan calon pendamping hidup pun dilakukan.

Silih berganti lelaki mengisi hari-hari, tetapi belum ada yang mampu membuat Minten yakin untuk memilih. Maklumlah, dengan penampilan anggun ditambah kecantikan yang memesona, bukan perkara sulit bagi Minten menarik hati lelaki idaman. Sampai suatu hari, ia dipertemukan secara tak sengaja dengan salah satu teman kakaknya, Minten jatuh cinta pada pandangan pertama. Lelaki itu tak lain ialah Tuple.

Meminta bantuan pada sang kakak, Minten dan Tuple sukses menjalin cinta. Dengan peristiwa kebetulan tak disengaja itu, mereka sepakat menuju jenjang pernikahan. Status Tuple yang bisa dibilang perjaka kaya, tak disia-siakan Minten untuk cepat-cepat menuju tahap yang lebih serius.

Tuple bukan lelaki biasa. Meski keluarganya sederhana, ia memiliki posisi yang bagus di tempatnya bekerja. Dengan gaji yang lumayan besar, ia tak perlu pusing memikirkan persiapan pernikahan.

Mempertemukan kedua keluarga, prosesi lamaran pun terlaksana. Hebatnya, tiga bulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Tuple dan Minten resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan ekonomi yang mumpuni, Tuple tampak berhasil membahagiakan sang istri.

Membeli rumah dan kendaraan pribadi, rumah tangga keduanya mendapat apresiasi besar dari keluarga. Menyambut hangat penuh manja setiap kali berkunjung ke rumah, Minten menjadi anak yang dibanggakan. Wajarlah ya, entah karena nasib baik atau memang sudah takdir Tuhan, Minten mendapat suami mapan. Beuh, ini sih namanya rezeki anak bungsu.

“Ya alhamdulillah, Kang. Soalnya kan dibanding sama kakak-kakak saya, mereka tuh kebanyakan merintis dulu dari bawah,” curhatnya.

Seiring berjalannya hari, rumah tangga keduanya berjalan lancar. Sang suami sibuk bekerja, Minten pun telaten mengurus rumah dan melayani Tuple. Hingga setahun usia pernikahan, hadirlah anak pertama, membuat hubungan mereka semakin mesra.

Namun, meski semua terkesan baik-baik saja, nyatanya tidak dengan perasaan Minten yang gelisah. Semua bermula ketika beberapa tetangga membincangkan hal yang panas waktu itu. Ya, maklumlah ibu-ibu, pasti tahu segala hal yang berbau tak sedap. Sambil merendahkan suara, mereka asyik berbagi cerita. Wih, memang pada ngomongin apa sih, Teh?

“Katanya, saya harus hati-hati sama suami. Sesuatu yang manis di awal itu biasanya menyakitkan ujungnya. Kan suami kamu sudah kaya dari awal, jadi bisa kemungkinan dia punya istri simpanan. Apalagi tuh tetangga kamu, akhir-akhir ini sering pulang malam,” kata Minten meniru ucapan teman-temannya.

Hingga suatu sore, ketika Minten baru saja pulang dari pasar, Minten tampak pucat dan lemas. Pandangan matanya membayang tak jelas. Saat lengannya membuka pintu gerbang, ia tak tahan dengan pusing di kepala. Tubuhnya ambruk membentur gerbang rumah. Sang suami serta beberapa tetangga lekas mengangkatnya ke dalam.

Tiga hari kemudian, Minten dibawa ke rumah sakit terdekat di daerahnya. Ia dirawat selama beberapa minggu. Sampai akhirnya ia sembuh dan diperbolehkan pulang, Minten banyak dijenguk teman di rumah. Namun, pulang sakit bukannya mendapat kabar bahagia, ia justru diterpa berita buruk terkait keberlangsungan rumah tangga. Aih-aih, ada apa lagi ini, Teh?

“Kata salah satu tetangga yang memang dekat sama saya, pas saya sakit, janda samping rumah itu bilang, semoga Teh Minten meninggal, nanti kan suaminya bisa nikah sama saya,” kata Minten meniru ucapan sang tetangga. Astaga, parah amat ya.

Saat mendengar hal itu, Minten menangis semalaman. Ia pun menceritakan hal itu pada Tuple. Beruntung, sikap sang suami tak terpancing emosi. Dengan lembut dan penuh kehangatan, Tuple berjanji, suatu hari nanti, kalau Minten merasa tak nyaman, mereka akan pindah rumah ke areal kompleks.

Subhanallah, semoga apa yang direncanakan sesuai dengan keinginan. Langgeng terus ya Teh Minten dan Kang Tuple! (daru-zetizen/zee/ags)