Ilustrasi: JPNN

Banyak masalah dan terkesan emosian, begitulah yang tergambar di raut wajah Rasmi (41), bukan nama sebenarnya. Dengan daster dan rambut acak-acakan tak tersisir, ia duduk di teras rumah menunggu anaknya yang sejak dua hari lalu belum pulang. Katanya, itu semua gara-gara Bejo (43), nama samaran. Aih, memang ada apa, Teh?

“Ya kalau waktu itu, saat saya usia 32 tahun dan Kang Bejo 34 tahun, enggak ada kejadian ribut-ribut, anak saya juga enggak nakal kayak begini. Pokoknya, sejak kejadian itu, hidup saya jadi makin susah,” kata Rasmi kepada Radar Banten.

Tak lama kemudian, remaja laki-laki masuk tanpa permisi. Berkali-kali Rasmi memanggil, seolah tak dianggap, remaja itu nyelonong masuk. Apalah daya, Rasmi naik pitam dan masuk ke dalam. Terdengar teriakan ibu dan anak itu saling adu mulut. Selang beberapa menit kemudian, sang remaja keluar dengan jaket hitam dan melesat dengan motor yang dikendarai temannya di depan rumah.

Rasmi duduk, ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Jelas sekali ada masalah yang sedang ia alami. Rasmi mengaku, ia rindu pada senyum dan tawa manja sang anak. Katanya, dahulu, setiap sepulang sekolah, ia dan anaknya makan sepiring berdua, jalan-jalan sore. Ya, memang saat itu, Bejo sudah jarang pulang. Sehingga, banyak waktu Rasmi dihabiskan bersama sang anak ketimbang suami.

“Duh, Kang, dia itu anak baik. Di sekolah juga berprestasi. Banyak orang yang senang ke dia. Tapi, semua itu berubah gara-gara si Bejo,” ungkapnya. Aih.

Meski awalnya enggan berbicara banyak tentang sosok Bejo, Rasmi kembali berpikir dan mencoba menguatkan hati. Ia pun menuturkan bagaimana peristiwa itu membuatnya seperti saat ini. Kecewa, sakit hati, benci, itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya tentang Bejo.

Rasmi bercerita, pertemuannya dengan Bejo sebenarnya sudah diatur kedua orangtua. Padahal, saat itu ia sedang menjalin hubungan dengan kekasihnya semasa SMA. Namun, apalah daya, cinta hanya tinggal kenangan, Rasmi tak punya kekuatan, jadilah ia menerima lamaran Bejo dalam ketersiksaan.

“Ya, waktu itu mah saya merasa serba salah. Enggak diterima pasti dimarahi orangtua, diterima ya pasti bakal menyakiti pacar saya. Tapi, akhirnya dia rela melepas saya walau harus dengan emosi,” curhatnya mengenang masa lalu.

Pertama kali melihat Bejo, Rasmi mengaku tak ada perasaan sama sekali. Tapi, katanya, hal itu berbeda dengan Bejo, ia tampak senang dan bersemangat ingin segera menuju pelaminan. Wajar saja, katanya, sewaktu muda Rasmi memiliki wajah cantik dan kulit putih menggoda. Kalau sekarang sih, mungkin karena beban pikiran atas banyaknya masalah, kecantikannya memudar.

“Yang namanya istri mah tergantung suami. Kalau suaminya selalu kasih uang perawatan dan belanja mah, pasti bakal cantik. Ini mah boro-boro,” ungkapnya.

Singkat cerita, membawa rombongan keluarga lengkap dengan seserahan nan mewah, Bejo menunaikan janjinya pada kedua orangtua Rasmi. Dengan pesta yang digelar meriah, mengundang banyak tamu dari berbagai kalangan, Bejo dan Rasmi resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Rasmi ingin tinggal bersama keluarganya. Namun, Bejo menolak dan ingin hidup mandiri. Meski sempat saling diam dan tak menyapa, tapi akhirnya, berkat peran ayah Rasmi, Bejo pun luluh dan menuruti kemauan istri. Oalah, baru menikah saja sudah ribut.

“Ya begitulah, Kang. Saat itu saya tahu kalau karakter dia tuh egois. Tapi, saya mencoba buat terima apa adanya,” curhat Rasmi.

Setahun kemudian, Rasmi dikaruniai anak laki-laki lucu dan imut. Bejo pun tampak bahagia menyambut kehadiran sang buah hati. Hubungan mereka menjadi semakin harmonis. Bersama-sama merawat si kecil, Bejo semakin bersemangat bekerja. Ya, ia bekerja sebagai salah satu pegawai senior, di salah satu perusahaan swasta di Tangerang milih ayahnya.

Namun, kebahagiaan tak berlangsung lama. Seiring berjalannya hari, ketika sang anak beranjak balita, Bejo meminta pindah ke rumah milik kakaknya yang ia beli. Namun, Rasmi bergeming, ia tetap tak mau pisah dari orangtua. Apalah daya, Bejo terus memaksa, keributan pun tak bisa dihindari.

Parahnya, kali ini orangtua Rasmi tak bisa berbuat banyak. Mereka tak berani pada Bejo, melihat Rasmi dibentak dan dikasari, ayah ibunya cenderung diam meski hati bersedih. Soalnya, Rasmi mengaku, selain kaya, keluarga Bejo juga punya jasa besar atas perekonomian keluarga Rasmi.

“Kesal, Kang. Saya marah, dia malah ngegampar. Jadi, ya sudah, saya cuma bisa diam. Besoknya langsung pindah,” katanya.

Rasmi mengaku, sejak pindah ke rumah pribadi hingga saat ini, dirinya seolah sudah kebal pada tingkah Bejo. Katanya, ia sampai tak tega pada kedua orangtua yang khawatir pada kehidupan cucunya. Akhirnya, salah satu cara agar melihat mereka bahagia ialah berpura-pura tersenyum meski kenyataannya menderita.

Ya, enam bulan sebelum terjadi perubahan pada sang anak, seolah tak sanggup lagi menahan kesabaran atas amarah dari kebiasaan Bejo mabuk-mabukkan, berjudi, dan segala tingkah buruk lainnya, Rasmi pasrah pada keadaan. Katanya, hari itu sang anak dilarikan ke rumah sakit setelah dikeroyok teman-temannya. Aih, kok bisa sih, Teh?

“Ya, itu tuh gara-gara dia enggak terima di-bully, dikatain anak pemabuk. Terus anak saya mukul duluan, teman-temannya marah dan terjadilah pengeroyokan,” ungkapnya.

Rasmi panik. Di sisi lain, ia hanya memegang uang belasan ribu. Ya, Bejo sudah lama tak menafkahi sebagai mana suami pada istri. Diteleponlah Bejo dan diberitahu kalau anaknya babak belur. Bejo pun mengiyakan akan segera datang. Namun, sampai dua jam lebih ia tak menunjukkan batang hidungnya.

Beruntung ada saudara yang membantu. Rasmi membawa anaknya pulang, hingga sore datang, beberapa orang menjenguk sang anak. Rasmi terus menelepon Bejo, tapi tak diangkat. Hingga kesekian kalinya, barulah ada jawaban, Bejo mengaku lupa karena ada kerjaan mendadak.

Namun, tak lama kemudian, salah seorang warga bilang kalau tadi ia melihat Bejo masuk ke salah satu pusat perbelanjaan bersama wanita muda. Rasmi pun malu sekaligus kecewa. Ia mengamuk saat Bejo pulang. Perceraian pun tak bisa dielakkan.

Parahnya, menjalani hidup sendiri, Rasmi kewalahan membiaya uang jajan sang anak. Lantaran Bejo lebih sering memberi uang, entah karena terpengaruh omongan bapaknya, anak lelakinya itu tak mau menuruti kemauan Rasmi. Kini, Rasmi hidup bagai tak tentu arah dan tujuan.

“Saya yang melahirkan dia, saya yang merawat dia. Tapi, gara-gara si Bejo, dia jadi nakal dan enggak nurut ke saya,” tukas Rasmi.

Ya ampun, sabar ya Teh. Semoga anaknya sadar dan kembali nurut ke teteh. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)