Pusat Kota Banjir, BPBD Salahkan Pemda

Seorang anak bermain di Jalan Jenderal Sudirman yang tergenang air di Lingkungan Kemang, Kelurahan Panancangan, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, Jumat (13/10). FOTO: QODRAT/RADAR BANTEN

SERANG – Setiap musim penghujan datang, delapan kabupaten/kota di Provinsi Banten, baru sibuk melakukan penanggulangan banjir. Yang mengherankan, banjir tidak pernah berhasil ditanggulangi di pusat perkotaan, padahal sejatinya jauh dari luapan aliran sungai.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten Sumawijaya, memang semua kabupaten/kota di Banten rawan banjir. Tapi khusus di pusat kota, apalagi di Kota Serang selaku ibukota Provinsi Banten, banjir genangan terjadi akibat drainase buruk. “Ini tentu ada kesalahan pemerintah daerahnya. Kalau drainasenya bagus dan terawat, harusnya Kota Serang tidak terjadi banjir genangan,” kata Sumawijaya kepada Radar Banten, kemarin.

Sumawijaya mengaku prihatin dengan banjir genangan di Kota Serang yang selalu terjadi setiap turun hujan. Menurutnya, hujan hanya beberapa menit saja, genangan banjir terjadi di setiap sudut kota. Ironisnya, kalau hujan terjadi berjam-jam, banjir genangan bisa sampai setengah meter di jalan protokol dan satu hingga dua meter di perumahan/kompleks warga kota.

“Padahal Sungai Cibanten di Kota Serang, posisinya bukan di atas tanah, tapi di bawah tanah. Jadi, banjir bukan karena luapan air sungai, tapi karena drainasenya tidak bagus,” ungkapnya.

BPBD, lanjut Sumawijaya, terus mendorong Pemkot Serang agar segera melakukan perbaikan drainase. Jika kurang besar harus dilebarkan, bila banyak sampah harus segera dibersihkan. “Ini butuh komitmen dari kepala daerahnya. Penyumbatan air setiap turun hujan disebabkan dua hal, drainase dan sampah,” jelasnya.

Selama ini, BPBD Banten telah menginstruksikan BPBD kabupaten/kota untuk selalu siaga menghadapi bencana, termasuk bencana banjir. “Banten Selatan identik dengan banjir dan longsor setiap musim hujan datang. Sementara di Banten Utara terutama di wilayah perkotaan terjadi banjir genangan. Kalau pemerintah kotanya sigap, BPBD hanya fokus melakukan penanggulangan bencana banjir dan longsor di perdesaan,” tegasnya.

Sumawijaya meminta pemerintah kota, khususnya Kota Serang, untuk aktif melakukan pengecekan drainase komunal yang ada di wilayahnya. Sedangkan soal sampah yang sering menambah parah banjir genangan, harus dilakukan gerakan bersih-bersih kota. “Pak Gubernur kan telah memulainya melakukan gerakan bersih-bersih kota, harusnya ini terus dilanjutkan oleh bupati/walikota,” pintanya.

Sebelumnya, Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang Tubagus Furqon mengatakan, lima titik utama yang sering banjir genangan di Kota Serang berada di Kecamatan Cipocokjaya dan Kasemen. “Lima titik utama yang terkena banjir itu di Pakupatan, Citra Gading, Penancangan, Kasemen, dan Cipocok, ketinggian dari 40 sampai 50 (centimeter), paling parah di Citra Gading,” katanya.

Furqon melanjutkan, setiap musim penghujan, BPBD selalu menerjunkan tim ke lima titik tersebut dengan dilengkapi peralatan lengkap seperti perahu karet dan tenda pengungsian.

Juli lalu, Gubernur Banten Wahidin Halim mengajak Walikota Serang melakukan gerakan Banten bebersih di 11 titik di Kota Serang. Wahidin berharap, kegiatan bersih-bersih lingkungan secara bersama-sama bisa menjadi momentum atau tanda dimulainya kerja penataan Banten Lama dan Kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten. “Jadi, bukan cuma hari ini kita akan bersih-bersih seperti ini, tapi untuk seterusnya. Masing-masing pemerintah daerah bisa mengagendakan kegiatan bersih-bersih di lingkungan dan daerahnya setiap hari Jumat seperti sekarang ini,” katanya.

Pada bagian lain, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BKMG) Kelas I Serang memperkirakan puncak musim hujan akan terjadi pada dasarian atau sepuluh hari pertama Januari 2018. Puncak musim hujan itu akan berlangsung sampai dasarian pertama bulan Februari mendatang.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kelas I Serang Tarjono mengungkapkan, saat ini, wilayah Banten baru memasuki musim penghujan. “Sedangkan untuk frekuensi curah hujan tidak dapat kami prediksi,” ujar Tarjono, Kamis (19/10).

Namun berdasarkan pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, daerah yang rawan longsor adalah bagian selatan Banten. Prakirawan BMKG Kelas I Serang Widya Khairunnisa menambahkan, saat ini, kondisi curah hujan di Banten masih terbilang normal. Intensitas curah hujannya juga tidak ekstrem.

“Disebut ekstrem kalau satu jam, 20 mililiter,” terangnya. (Rostinah-Deni S/RBG)