Foto : Kodrat/Radar Banten

Finalis Puteri
Indonesia 2019 asal Banten Anastasia Praditha memiliki background
jurnalistik. Profesi yang digeluti alumnus S-2 di International Communication
for Business Development LSPR dan S-1 Ilmu Komunikasi FISIP UI itu memiliki
pengalaman enam tahun bekerja di stasiun televisi, tiga tahun di TVRI,
dan tiga tahun di Kompas TV sebagai jurnalis dan news presenter.  

Saat berkunjung ke Graha Pena Radar Banten, Selasa (12/2), wanita 25 tahun yang akrab disapa Ditha itu bilang, jika sudah menjadi Puteri Indonesia tidak akan meninggalkan dunia kewartawanan. “Saat ini pasti fokus di Puteri Indonesia selama setahun, tapi menurut aku profesi jurnalis kan kayak lifetime job, seumur hidup.  Aku rasa (jurnalis-red) pekerjaan seumur hidup. Kalau selesai bertugas (di Puteri Indonesia-red) aku akan kembali menjadi jurnalis. Itu memang panggilan (jiwa-red) dan aku merintisnya sudah sedari dulu,” jelas wanita dengan tinggi 172 sentimeter itu.

Sejak kecil, wanita yang tinggal di BSD, Tangerang Selatan itu  sudah rajin menulis di majalah dan koran anak-anak. “Memang ekspresi aku tuh lewat menulis, lewat dunia jurnalistik,” aku finalis Putra-Putri Batik Nusantara 2011 itu.

Kata Ditha, jadi seorang jurnalis itu ada sense-nya. “Ketika di jalan, ada orang yang membutuhkan, kita akan tanya background dan ceritanya. Ini sama (seperti tugas jurnalistik-red) cuma beda mediumnya. Kalau misalkan (kegiatan jurnalistik-red) medianya televisi, koran, radio, tapi ini aku punya konten sendiri yang bisa di-share lewat sosial media aku,”  tutur pemilik akun Instagram @apraditha dengan 33,9 ribu pengikut itu.

Mengikuti ajang Puteri Indonesia, kata Ditha, membuka banyak kesempatan. Dengan background dia sebagai seorang jurnalis di ajang Puteri Indonesia, akan lebih banyak kesempatan untuk memperkenalkan Banten.

“Di situlah aku akhirnya terpilih untuk mewakili Banten,” jelasnya.

Ditha mengakui, secara background, finalis Puteri Indonesia lainnya banyak yang dari entertainment. Sedangkan dari dunia jurnalis, bisa dihitung jari. “Teman-teman lain (finalis-red) sudah sangat mempersiapkan diri (mengikuti ajang ini-red) misal ikut beauty camp selama setahun. Sementara aku secara profesional fokusnya di jurnalistik. Aku rasa itu adalah kesempatan besar. Kenapa tidak boleh seorang jurnalis ikut dalam ajang Puteri Indonesia?” tandasnya.

Dengan ikut di kontes Puteri Indonesia, Ditha berharap dapat memotivasi  jurnalis lain. “Kita bisa kok ikut ajang beauty queen seperti ini. Dan, punya wadah yang lebih besar untuk menginspirasi orang. Kalau jurnalis, wadahnya adalah televisi atau medianya sekarang,” papar Ditha.

Keikutsertaan Ditha di ajang Puteri  Indonesia memiliki cerita tersendiri. Saat itu ia sedang jadi pembawa acara, ada yang melihat potensi dirinya. “Terus dia bilang kamu ikutan Puteri Indonesia aja. Saat itu aku berpikir, ah enggak usahlah, kan aku udah punya karir. I’m okay, enggak masalah. Kenapa aku harus ikut atau mengorbankan yang sudah aku jalani beberapa tahun ini untuk ikut ajang yang sehari semalam? Istilahnya kayak begitu. Tapi, dia terus knowledge aku, selama enam bulan loh. Aku pikir apa salahnya kan (dicoba-red), mana tahu rezeki. Akhirnya aku jalani,” jelas Ditha.

PARIWISATA BANTEN

Sebelum dinobatkan sebagai delegasi Banten di ajang Puteri Indonesia, Ditha bersama tiga kandidat asal Banten mengikuti seleksi dari Mustika Ratu sebagai penyelenggara. Diakui Ditha, dari empat orang yang ikut audisi, yang paling dirasa representatif mewakili Banten adalah dirinya.

“Di situ aku mengenalkan potensi wisata di Banten. Aku juga memperkenalkan sejauh mana mengenal Banten. Terutama dalam perjalanan hidup sebagai jurnalis. Aku juga melakukan peliputan di berbagai tempat pariwisata di Banten seperti Tanjung Lesung, TNUK dengan WWF menanam terumbu karang, ke Banten Lama, dan mengenal suku Baduy. Aku pernah berpartisipasi dalam Seba Baduy,” tukas Dhita.

Menurut Ditha, transformasi sebagai jurnalis menjadi Puteri Indonesia itu tidak gampang. “Berat banget, syok. Persiapan fisik aku lakukan, gimana bisa grooming layaknya seorang putri,” imbuhnya lagi.

Motivasi lain Ditha di ajang itu, ingin menginspirasi dan mengedukasi perempuan. Menurutnya, ini kesempatan untuk membuat perempuan terlihat lebih kuat. Selain itu, bisa memperluas networking, mengenal banyak orang, dan punya teman-teman baru.

Sebelum memasuki masa karantina pada 27 Februari dan grand final pada 8 Maret, agenda Ditha sebagai Puteri Indonesia Banten cukup padat. Setelah 8 Februari lalu bertemu Dinas Pariwasata Banten, pada 12 Februari seusai berkunjung ke Graha Pena Radar Banten, Ditha melawat ke beberapa daerah yang terdampak tsunami.

Target Ditha di ajang Puteri Indonesia 2019, menjadi yang terbaik. “Aku enggak main-main, tapi ini bukan ambisius. Semaksimal mungkin aku melakukan persiapan. Hasilnya, tinggal yang menentukan adalah Tuhan dan pihak yayasan, siapa orang paling bisa diajak kerja sama setahun ke depan. Menurutku, lomba itu enggak cuma hari itu doang. Target menang pasti ada, tapi mental juara juga harus ada, siap kalah atau menang,” jelas Ditha.

Sebelum mengakhiri obrolan dengan redaksi Radar Banten, Ditha menggambarkan Banten dengan kalimat inspiratif. “Banten potensial, Banten jawara,” pungkasnya. (zee/alt/ira)