SERANG – Bagi sebagian pelajar, puasa Ramadan dan sekolah sedang libur panjang, bukan berarti waktunya berleha-leha di rumah. Waktu tersebut harus diisi dengan kegiatan positif, seperti pergi ke perpustakaan.

Seperti terlihat pada Senin (20/6) pagi ini, ruang Perpustakaan Daerah Pemprov Banten di Pakupatan, Kota Serang, ramai dikunjungi pelajar. Mereka asyik memilih buku dan membacanya di meja yang telah disediakan.

Khairinnisa, siswi SMAN 2 Kota Serang, bersama rekannya sering mengunjungi Perpustakaan Daerah untuk mengisi waktu luang di siang hari. Ia lebih memilih berkunjung ke perpustakaan daripada pergi berjalan-jalan, yang bisa menghabiskan banyak energi. “Di sini lumayan bisa nambah pengetahuan. Daripada jalan-jalan ke mal misalkan, apa juga yang dicari. Mending stay di sini. Banyak buku dan sejuk lagi. Kalau sudah sore, tinggal pulang ke rumah cari makanan untuk persiapan buka puasa,” ujarnya.

Kabid Deposit dan Pengembangan Perpustakaan pada Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Banten mengatakan,  bulan Ramadan pengunjung masih berada di kisaran 350-400 orang. Sama seperti hari-hari biasanya. “Tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Kami menjalankan rutinitas layaknya jam pelayanan di luar bulan Ramadan. Mungkin persepsi orang di bulan Ramadan ini pengunjungnya menurun karena malas keluar rumah, padahal tidak juga. Kami tidak melihat adanya kemerosotan pengunjung,” kata Rosmawati.

Rosmawati menuturkan, rutinitas BPAD pada bulan Ramadan tidak ada yang khusus. Jam layanan masih dibuka dari pukul 08.00-15.30 WIB. Pada Sabtu-Minggu juga masih tetap dibuka. Tidak ada pengurangan jam operasional layaknya instansi lain.

Pembelian buku khusus religi juga tidak diadakan pada bulan Ramadan ini. “Karena kami tidak terfokus pada momen tertentu saja. Beli bukunya variatif dengan berbagai pilihan sesuai subyek, misalnya buku anak-anak, keterampilan ataupun sejarah. Dalam membeli buku kami mengacu pada hasil seleksi yang dilakukan oleh tim, misalnya berdasarkan hasil survey keinginan dari pemustaka yang datang ke BPAD,” tuturnya.

Setelah hasil survey didapat, kemudian dipertimbangkan oleh pustakawan dan katalog yang datang dari berbagai penerbit buku. BPAD dapat memutuskan membeli buku dengan judul sesuai pertimbangan. Kebutuhan buku di BPAD Banten dalam setahun mencapai 9.000 buku dan dibeli per triwulan.

“Kenapa belinya triwulan karena antisipasi kami apabila ada buku baru yang keluar setiap bulannya. Kalau kami alokasikan pembelian pertahun, kami tidak akan bisa beli buku baru karena anggarannya sudah habis. Kami menginginkan koleksi terbaru memadati rak-rak buku supaya keinginan pengunjung terpuaskan. Setiap tahunnya buku yang banyak diminati, yakni sastra dan buku anak-anak,” ujarnya. (Wirda)