Warga menanam bibit rambutan rarakan.

Rambutan Parakan merupakan buah khas Tangerang namanya. Buah dengan nama latin Nephelium lappaeum sp ini menjadi icon Kabupaten Tangerang setelah Ayam Wareng. Sayang, kelestarian pohon ini semakin tergerus akibat minimnya lahan yang digantikan surga properti.

KANTOR Badan Penyuluhan Pertanian Cisauk masih sepi, Rabu (29/11). Hanya dua-tiga motor milik penjaga kantor terparkir di sudut halaman. Maklum siang itu, sejumlah pegawai masih berada di lapangan memberikan penyuluhan pertanian. Jika dari luar, kantor ini nampak tak berpenghuni. Tumpukan dedaunan masih menumpuk di sana-sini. Suasana kantor sangat sejuk. Hawa segar tercampur bau pupuk kompos tercium di semua sudut. Sementara di belakang kantor, terpampang luas lahan luas.

Di halaman belakang itu, pihak BPP menanam ribuan bibit tanaman. Mulai dari durian, mangga dan rambutan. Namun yang paling banyak adalah bibit pohon rambutan. Ya, Rambutan Parakan, buah khas Kabupaten Tangerang.

Sudah hampir 14 tahun lamanya, rambutan ini didapuk sebagai varietas unggulan oleh Kementerian Pertanian. Ini dibuktikan oleh Keputusan Menteri Pertanian no. 518Kpts/PD.210/10/2003   yang terbit Oktober 2003.

Untuk mencari rambutan parakan yang manis, berbuah padat, tebal serta sedikit kandungan air ini semakin sulit dilakukan. Bahkan, di kawasan penghasil rambutan parakan itu sendiri, yakni di daerah Parung Panjang, Rumpin Kabupaten Bogor hingga Legok, Cisauk, Pagedangan Kabupaten Tangerang sekalipun.

Beberapa saat kemudian, seorang pria memanggil dari jauh. Pria berkulit hitam dan berbadan kekar menghampiri wartawan. Langkahnya tegap khas petani pada umumnya. Senyumnya tersungging setelah mengetahui kedatangan Radar Banten yang ingin mengetahui bibit tersebut. Nama pria itu adalah Nasrif (53). Dirinya lah yang mengelola pembibitan rambutan Parakan mulai dari bibit hingga tumbuh besar. ”Dua bulan lagi mau berbuah mas. Kirain mau borong rambutan,” ujarnya sembari tertawa.

Di Kantor BPP Cisauk, bibit rambutan Parakan ditanam di sejumlah titik. Untuk pembibitan mereka taruh di bawah pohon rindang dan ruangan khusus. Sementara bibit yang sudah berumur 1-2 bulan, mereka tanam pada lahan khusus.

”Perlakuannya harus khusus, mulai dari perawatan, pemupukan hingga pasca pemanenan. Ini dilakukan agar kualitas pohon dan buah terjamin dengan baik. Jadi wajar kalau ada yang mau ngambil bibit banyak yang ke sini (BPP Cisauk-red),” terang Nasrif.

Pembibitan rambutan Parakan dilakukan sejak 1980-an. Kini masyarakat Cisauk dan Pagedangan banyak yang menjadikan pohon rambutan sebagai pelindung rumah mereka. Namun, sekarang banyak yang hilang akibat lahannya dijual untuk perumahan.

”Kalau dulu, pohon-pohonnya besar dan rindang, buah-buahnya merah tua, masih tegak memenuhi ratusan hektar lahan di Cisauk dan Pagedangan, tapi kalau sekarang masih sedikit,” jelasnya Nasrif.

Dikatakannya, perkembangan rambutan parakan mengalami penurunan pertumbuhan yang sangat drastis. Apalagi, produktivitasnya cukup rendah. Per pohonnya kurang lebih dapat menghasilkan 1200 – 2000 buah per tahun atau sekitar 40 – 68 kilogram per tahun. Ini mengakibatkan rambutan parakan ini semakin sulit dicari. ”Parakan hanya bisa tumbuh di selatan, kalau di utara banyak yang tidak berbuah,” terangnya.

Dijelaskannya, rambutan jenis ini dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 1.500-3.000 mm per tahun dan suhu udara antara 22 sampai 35 derajat celcius. ”Untuk bisa mengetahui bahwa rambutan ini asli parakan atau tidak harus ada sertifikat. Sertifikat ini khusus bagi sang pengelolanya sendiri,” jeasnya.

Disinggung masalah pemeliharaan, Nasrif mengatakan cukup mudah. Pemeliharaan tanaman yang penting adalah membersihkan kebun dari gulma dan memangkas tunas-tunas liar/tunas air yang muncul. “Cuma itu saja. Tapi kadang banyak hama juga. Itu yang harus kita waspadai,” ujarnya.

Untuk masalah prospek ekonomi, Nasrif mengaku selalu memasarkan rambutan miliknya kepada tengkulak yang selalu datang ke perkebunan miliknya. Biasanya para tengkulak memborong rambutan per pohon yang dihargai kurang lebih Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, melihat banyak tidaknya buah rambutan yang dipanen. ”Malah ada pemilik pabrik makanan olahan datang agar bisa dijadikan buah kaleng. Buah Parakan sangat manis itu yang menjadi magnetnya,” tandas pria dua anak tersebut. (TOGAR HARAHAP/RBG)