Rancaiyuh Dirikan BUMDes untuk Membangun Desa

0
259 views
Staf Desa Rancaiyuh (kiri) memberikan pelayanan administrasi kependudukan kepada warga di Kantor Desa Rancaiyuh.

TANGERANG – Komitmen Pemerintah Desa Rancaiyuh, Kecamatan Panongan, membangun desanya lebih maju terus dilakukan. Selain pembangunan infrastruktur, juga dari pengembangan usaha. Yakni, melalui badan usaha milik desa (BUMDes).

Kepala Desa Rancaiyuh Suherman mengatakan, BUMDes milik Desa Rancaiyuh sudah terbentuk tahun ini. Unit usahanya, sedang dimatangkan. ”Alhamdulillah, tahun ini, kami sudah memiliki BUMDes Jati Mandiri. Rencananya akan diisi unit usaha sembilan bahan pokok. Jadi kami akan menyediakan air minum, gas elpiji, dan kebutuhan pokok lainnya,” kata Suherman kepada Tim Saba Desa Radar Banten di ruang kerjanya, Jumat (29/3).

Suherman menerangkan, pihaknya juga sedang mengkaji berbagai unit usaha lain seperti ternak ayam petelur, bebek petelur, dan kambing. ”Ternak ayam petelur dipilih karena dirasa menguntungkan. Enggak ada ruginya. Kotorannya bisa dijual jadi pupuk, telurnya bisa dipanen tiap hari, dan ayamnya kalau enggak produktif laku dijual. Jadi enggak ada yang kebuang,” terangnya.

Tentang gas elpiji, BUMDes Jati Mandiri yang mendapatkan alokasi anggaran sekira Rp127 juta itu akan membuka usaha pangkalan gas elpiji. Rencananya akan menyediakan sekira 1.000 tabung.

”Masih dalam kajian. Usaha gas elpiji jadi pilihan usaha tepat karena barangnya tidak busuk dan banyak dibutuhkan masyarakat. Tetapi, kami terkendala soal perizinannya yang sulit,” tutur Suherman.

Untuk program pemberdayaan masyarakat, lanjut Suherman, Pemerintah Desa Rancaiyuh sudah mengadakan pelatihan budi daya lele, perbengkelan, dan las pada 2018. ”Untuk budi daya lele masih berjalan hingga saat ini. Kalau bengkel las belum berjalan lagi karena minat dari pemuda yang ikut pelatihan tidak untuk membuka usaha, melainkan untuk bekal kerja di pabrik,” bebernya.

Suherman juga mengaku kesulitan dalam membangun sarana infrastruktur fisik. Baik pembangunan jalan, gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) desa, Posyandu, dan lainnya. ”Karena kami tidak memiliki tanah bengkok atau tanah aset desa. Satu-satunya tanah aset desa ya kantor desa ini. Mau melakukan pengadaan tanah juga tidak bisa, karena tidak ada anggaran untuk pengadaan tanah. Yang ada hanya pembangunan saja,” tutur Suherman yang menjabat Kades Rancaiyuh periode 2017-2023 itu.

Meski unit usaha dalam BUMDes masih dalam kajian dan masih ada hambatan dalam pembangunan infrastruktur desa, Suherman berharap, agar warganya mau berkomunikasi terbuka secara langsung untuk menyampaikan aspirasi serta kritik. Dengan begitu, bisa bersama-sama Pemerintah Desa Rancaiyuh membangun desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

”Kalau ada kritik dan saran tentang desa, sebaiknya langsung sampaikan ke saya, agar cepat ada solusinya dan tidak salah persepsi yang bisa menghambat pembangunan desa,” tutup Suherman. (pem/rb/sub)