Rangkasbitung, Kota Basis Pergerakan Tokoh Revolusioner Banten

Grafis: Arya Bayu/Radar Banten

INI kisah perjuangan para pemuda Banten di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menjelang menyerahnya Jepang, Juni tahun 1945.

Selain Serang, ibukota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung dikenal sebagai basis pergerakan sejumlah tokoh revolusioner Banten. Jelang menyerahnya Jepang Juni 1945, sejumlah pemuda Banten —tergabung dalam Badan Pembantu Keluarga Peta (BPP)— menggelar rapat rahasia di Rangkasbitung. Tepatnya di rumah Tachril.

Apa yang dibicarakan? Menurut laporan Tan Malaka, yang kemudian dikutip Harry A Poeze dalam bukunya Pergulatan Menuju Republik: Tan Malaka 1925-1945, ada dua agenda dalam pertemuan  itu. Pertama, membahas kemungkinan kemerdekaan Indonesia setelah Jepang menyerah. Kedua, memilih wakil Banten menghadiri Konferensi Pemuda di Jakarta sekira 9 Agustus 1945.

Yang terasa istimewa dalam pertemuan Rangkasbitung itu hadir Tan Malaka alias Ilyas Husein. Di Banten, Tan Malaka lebih beken dengan nama Ilyas Husein. Dalam pertemuan itu berkembang dua argumen. Sebagian besar pemuda ngotot akan memutuskan hubungan dengan Jepang dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sementara, yang lainnya berpendapat bahwa biar bagaimana pun kerja sama dengan Jepang masih perlu dijalin.

Akhirnya, Tan Malaka mengusulkan agar perbedaan itu diselesaikan di konferensi Jakarta saja. Lalu, Tan Malaka terpilih sebagai wakil Banten ke Jakarta bersama enam pemuda lainnya. Salah satunya adalah Tje Mamat, seorang pemuda beraliran radikal. Tje Mamat adalah pendiri Dewan Rakyat Banten.

Masih dalam buku Pergulatan Menuju Republik: Tan Malaka 1925-1945, disebutkan  bahwa pertemuan di kediaman Tachril itu menjadi tonggak awal beberapa peristiwa lain yang mewarnai kondisi politik Banten selama periode awal revolusi.

Dosen sejarah STKIP Setia Budi Rangkasbitung Nelly Wahyudin membenarkan, Tan Malaka menghadiri rapat rahasia tersebut. “Tapi, dari literasi yang saya baca, hingga saat ini saya tidak tahu pasti alasan kenapa rapat tersebut digelar di rumah Tachrir. Siapa Tachrir dan apa perannya juga belum terungkap dalam sejarah,” kata Nelly kepada Radar Banten, kemarin.

Nelly menambahkan, berdasarkan diskusi para pakar sejarah, banyak versi tentang lokasi kediaman Tachrir yang dijadikan rapat rahasia itu. “Memang ini perlu riset sebab minim sekali catatan soal pertemuan rahasia di Rangkas. Rumah Tachrir disebut-sebut berada tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Rangkasbitung. Tepatnya di perumahan minyak yang sekarang sudah dibangun mal. Ada juga yang menyebutnya di kawasan balong atau sentral tidak jauh dari taman makam pahlawan di Rangkasbitung. Ada pula yang menyebut di dekat Alun-alun, tepatnya di belakang bangunan RSUD Adji Dharmo. Coba konfirmasi ke Pak Bonnie (Bonnie Tryana-red),” pungkas Nelly. (Deni S-Supriyono/Radar Banten)