Rano-Embay Kompak Tolak Komunisme

0
572 views
DISAMBUT PENDUKUNG: Calon Gubernur Rano Karno ditemani Calon Wakil Gubernur Embay Mulya Syarief disambut para pendukungnya.

LEBAK – Suhu politik di Banten kian menghangat menjelang pemungutan suara 15 Februari mendatang. Dua pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten terlihat agresif menjajakan program dan rencana kerja yang akan dilakukan dalam tempo lima tahun yang akan datang.

Calon Gubernur Rano Karno yang berkunjung ke kediaman Buya Sujana Karis di Lebak (6/2) kembali mengajak warga menjaga kebersamaan dan menghindari adu domba yang diembuskan oleh sementara kalangan. Ia meminta warga tidak mudah terpancing oleh hasutan dalam bentuk selebaran gelap berisi kampanye hitam yang disebarkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Secara khusus Rano berjanji akan memberikan perhatian yang lebih kuat pada sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Khusus di bidang kesehatan, ia akan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan BPJS yang disediakan pemerintah. Sementara untuk warga yang tak mampu membayar iuran, Rano menjamin alokasi dana khusus yang bersifat afirmatif sambil terus meningkatkan kemampuan masyarakat.

Rano tegas-tegas menolak ajakan sementara pihak yang meminta Banten meniru Korea Utara dan Kuba. “Untuk apa kita ikut negara komunis? Kita punya Pancasila. Kita negara yang berketuhanan. Ideologi kita sudah ideal bagi bangsa Indonesia karena Pancasila menegaskan keberpihakannya pada wong cilik. Jangan bermimpi komunisme bisa hidup di sini,” tegas Rano.

Di kesempatan yang sama calon wakil gubernur Embay Mulya Syarief juga mengingatkan warga berhati-hati pada bahaya laten komunis. Embay mengaku terkejut saat cagub Wahidin Halim mengambil contoh Kuba dan Korea Utara sebagai model yang perlu ditiru saat acara debat kandidat di televisi nasional, beberapa hari lalu.

“Untuk layanan kesehatan tak perlu meniru cara-cara komunis. Kita punya Islam. Kita punya Pancasila. Itu saja sudah lebih dari cukup. Sebagai aktivis gerakan antikomunis sejak tahun 1966, saya merasa ajakan Pak Wahidin ini cukup membahayakan kita semua sebagai masyarakat yang beragama dan percaya pada keberadaan Allah swt. Janganlah komunisme itu dibawa-bawa ke Indonesia, apa lagi ke Banten,” papar Embay.

Dalam debat sepekan yang lalu diketahui Wahidin Halim menjanjikan layanan kesehatan tanpa kelas dengan merujuk pada dua negara komunis Kuba dan Korea Utara. Ajakan ini sontak memicu reaksi negatif dari para ulama Banten yang selama ini tegas menolak komunisme hadir di Banten.

Di hadapan wartawan yang hadir Embay juga meminta warga untuk mengantisipasi praktik money politics yang diperkirakan akan terjadi secara masif. Ia meminta aparat kepolisian bertindak proaktif menjaga keamanan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Saat dikonfirmasi, Wakil Sekretaris Tim Pemenangan Wahidin-Andika, Bahrul Ulum, menanggapi santai pernyataan Rano-Embay. Menurutnya, mengambil nilai-nilai positif dari mana pun adalah suatu hal yang baik.

“Tidak harus dibesar-besarkan persoalan pelayanan kesehatan model seperti apa dan dari mana, bukankah hadist Nabi mengatakan bahwa undzur maqola wala tandzur man’kola. Selama tidak menyingkirkan ajaran Islam dan nilai-nilai Pancasila kenapa harus dipersoalkan‎,” tegas Ulum.

Senada, Fitron Nur Ikhsan, Juru Bicara pasangan Wahidin-Andika. Ia menilai, penolakan Rano-Embay terkait gagasan Wahidin tidak relevan sama sekali.

“Kekhawatiran mereka (Rano-Embay) aneh, Boleh mereka melakukan klarifikasi akan isu komunisme, tapi tidak mesti dibawa ke urusan Kuba dan Korut sebagaimana statement Pak WH soal meniru layanan kesehatan,” kata Fitron melalui WhatsApp messenger.

“Secara politik, itu seperti mengharapkan pantulan efek karambol. Perdalam saja gagasan masing masing, toh tujuannya sama, menang dan lalu memberikan yang terbaik buat masyarakat,” kata Fitron. (Deni S/Radar Banten)