Rapat Dewan Gubernur BI, Pacu Pertumbuhan Ekonomi

SERANG – Kepala Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja memastikan bahwa Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi lima persen sebagai langkah memacu pertumbuhan ekonomi.

“Penurunan suku bunga diharapkan akan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi Banten di tengah melambatnya ekonomi dunia dan domestik. Dengan turunnya suku bunga, diharapkan penyaluran kredit dan pembiayaan pembangunan di Banten dapat meningkat,” kata Erwin kepada Radar Banten, Jumat (25/10). 

Erwin mengungkapkan, dari data perbankan Banten sampai triwulan III tahun 2019, kredit perbankan hanya tumbuh 3,88 persen atau melambat dibandingkan triwulan II sebesar 8,46 persen (yoy). Berdasarkan jenis penggunaan, melambatnya penyaluran kredit tersebut disebabkan oleh melambatnya kredit modal kerja 3,57 persen dan menurunnya kredit investasi 4,6 persen. Sementara kredit konsumsi masih tumbuh relatif tinggi sebanyak 10,91 persen. Perlambatan kredit juga di sebabkan oleh menurunnya kredit kepada korporasi, yaitu tumbuh -0,88 persen, dari sebelumnya 6,97 persen di triwulan II 2019.

Ia mengungkapkan, transmisi pelonggaran kebijakan moneter terus berlanjut didukung kecukupan likuiditas perbankan yang memadai serta pasar uang yang stabil dan efisien. Sementara harian volume Pasar Uang Antar-Bank (PUAB) pada September 2019 tetap tinggi sebesar Rp17,95 triliun. Likuiditas perbankan juga tetap baik, tercermin pada rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang besar, yakni 19,47 persen pada Agustus 2019, tidak jauh berbeda dari kondisi Juli 2019 sebesar 19,66 persen.

Ia menambahkan, perkembangan ini memengaruhi penurunan suku bunga PUAB pada semua tenor sebagai sasaran operasional kebijakan moneter yang bergerak di kisaran level suku bunga kebijakan sebesar 5,24 persen pada September 2019. Suku bunga kredit juga mulai menurun, terutama pada kredit investasi dan kredit modal kerja yang masing-masing tercatat sebesar 10,11 persen dan 10,33 persen.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memastikan kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi di pasar uang, serta memperkuat transmisi bauran kebijakan yang akomodatif,” katanya.

Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Banten Syaiful Bahri menyambut positif penurunan suku bunga acuan. “Perbankan juga harus cepat mengikuti dengan segera menurunkan bunganya. Jangan berlama-lama supaya cepat dirasakan manfaatnya oleh pengusaha,” ungkap Syaiful via telepon seluler.

Ia melanjutkan, suku bunga rendah sangat dinantikan untuk memacu dunia usaha. Seperti bunga kredit modal kerja dan bunga pembiayaan kendaraan. “Bunga kredit kendaraan saat ini masih terasa sangat besar,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten itu.

Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi sosok menteri ekonomi pada Kabinet Indonesia Maju. Seperti  Erick Tohir  yang menjadi Menteri BUMN. Dia berharap kebijakan ekomomi pada tahun mendatang berpihak pada pertumbuhan ekonomi kerakyatan. (skn/aas/ira)