Rapid Test Tak Serentak

Prioritas untuk PDP dan Tenaga Medis

SERANG – Pemprov Banten telah menerima bantuan 3.600 alat rapid test virus corona (Covid-19) dari pemerintah pusat. Alat tes cepat corona itu diprioritaskan untuk pasien dalam pengawasan (PDP) dan tenaga medis di delapan kabupaten kota dan di RSUD Banten sebagai rumah sakit pusat rujukan Covid-19 Provinsi Banten.

Terbatasnya alat rapid test membuat Pemprov Banten melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tidak bisa menggelar pengetesan massal untuk seluruh masyarakat Banten.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, Dinkes Banten telah memiliki prosedur dan kriteria masyarakat yang diprioritaskan untuk pemeriksaan terkait virus corona sesuai arahan pemerintah pusat.

“Yang kita prioritaskan adalah mereka yang berisiko menularkan Covid-19 terlebih dahulu. Jadi untuk tahap awal rapid test dilakukan pada yang benar-benar membutuhkan seperti PDP dan tenaga medis,” kata Ati kepada wartawan usai menerima bantuan alat pelindung diri (APD) dari Bank Banten di kantor Dinkes Banten, KP3B, Kota Serang, Kamis (26/3).

Ati yang juga menjabat Kepala Dinkes Banten ini melanjutkan, keterbatasan alat rapid test tidak hanya dialami Provinsi Banten, namun juga seluruh daerah di Indonesia. “Untuk menambah alat rapid test, Dinkes Banten sudah memesan atau melakukan pengadaan 150 ribu alat rapid test, namun alat itu baru bisa diterima akhir April medatang,” tuturnya.

Ia melanjutkan, setelah PDP dan tenaga medis di tes corona, selanjutnya diprioritaskan untuk orang yang kontak erat baik dengan PDP atau pun dengan kasus positif. “Jadi kami mohon maaf belum bisa melakukan tes corona kepada seluruh masyarakat mengingat jumlah rapid test yang ada sangat terbatas,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ati memaparkan, 3.600 alat rapid test bantuan pemerintah pusat telah didistribusikan ke Dinkes kabupaten kota se-Banten. Diharapkan kabupaten kota juga menggunakan alat tes cepat itu sesuai peruntukannya. “Hari ini (kemarin-red) kami juga telah mendistribusikan 600 alat rapid test ke RSUD Banten. Untuk segera digunakan besok (hari ini-red),” tegasnya.

Ati memerinci, alat rapid test yang didistribusikan ke Tangerang Raya (Kota Tangerang, Kota Tangsel, dan Kabupaten Tangerang) sebanyak 600 alat. Dinkes Kota Serang 200 rapid test, Kabupaten Serang 250 rapid test, Kabupaten Pandeglang 250 rapid test, Kabupaten Lebak 200 rapid test, dan Kota Cilegon 150. “Distribusi alat rapid test disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kabupaten kota, sambil melihat perkembangan Covid-19 di Banten,” ungkapnya.

TERIMA PASIEN RUJUKAN

Sementara itu, dua hari beroperasi sebagai rumah sakit pusat rujukan Covid-19 di Banten RSUD Banten telah menerima 14 pasien rujukan dari sejumlah rumah sakit yang ada di Banten. “Satu pasien yang dirujuk ke RSUD Banten telah dinyatakan positif oleh rumah sakit sebelumnya,” beber Ati.

Ati menambahkan, jumlah pasien yang dirujuk ke RSUD Banten diperkirakan akan mengalami penambahan hingga beberapa hari ke depan, lantaran sejumlah rumah sakit telah mengonfirmasi untuk merujuk pasien dalam pengawasan ke RSUD Banten. “Data sementara baru 14 pasien yang telah masuk RSUD Banten,” ungkapnya.

Terkait tenaga medis, Ati mengaku di RSUD Banten sudah disiapkan sebanyak 594 orang, mereka dibagi menjadi tiga shift dalam bekerja. “Tapi kaitan dengan rapid test, kita utamakan dulu untuk pasien, setelah itu para tenaga medis. Itu pun rapid test-nya tidak dilakukan serentak, tetapi berdasarkan shift yang ada. Para tenaga medis juga harus melihat dulu pola dan cara melakukan rapid test kepada pasien,” urainya.

Kendati rapid test tidak dilaksanakan serentak, tapi Ati mengaku akan menerapkan konsep karantina kepada para medis, artinya dua minggu tugas jaga, dua minggu karantina. “Ada mazhab yang menyebutkan bahwa ketika zona sudah dipisahkan yaitu satu zona infeksius dengan zona non-infeksius maka tidak perlu melakukan karantina selama dua bulan pun itu masih aman. Apalagi selama melaksanakan tugasnya, para tenaga medis menggunakan APD secara lengkap,” tambahnya.

Kendati begitu, untuk paramedis yang tetap ingin dikarantina atau tidak pulang ke rumahnya masing-masing, pihaknya menyediakan karantina atau ruangan untuk melakukan isolasi sendiri.

“Kami sudah siapkan Pendopo Lama untuk para tenaga medis, di sana telah dilengkapi tempat tidur, AC, dan lain sebagainya. Prinsipnya, sejak RSUD Banten dijadikan pusat rujukan Covid-19, kami tidak sembarangan. Beberapa kali kami lakukan rapat dengan Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Persatuan Rumah Sakit, beberapa perhimpunan dokter spesialis, dan juga dengan Kementerian Kesehatan. Dari sisi keamanan dan sebagainya sudah sesuai dengan SOP yang ada,” tegasnya.

Terpisah, Gubernur Banten Wahidin Halim mengungkapkan, Pemprov Banten terus mengupayakan untuk mendapatkan alat rapid test dan APD lebih banyak lagi untuk menekan penyebaran virus corona dan melindungi paramedis. “Kita terus berupaya sampai kapan pun, termasuk rapid test ini kami terus cari, agar orang dalam pemantauan (ODP) semuanya bisa dites corona,” ungkapnya.

Wahidin menambahkan, telah menginstruksikan petugas penertiban untuk membubarkan kerumunan-kerumunan di tengah masyarakat khususnya yang dilakukan kalangan muda. Karena potensi penyebaran virus cukup besar apabila terjadi kerumunan dan sulit mendeteksi dari mana virus berasal. “Tak bosan saya mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap virus corona. Ayo lakukan tindakan pencegahan mulai dari diri kita sendiri dengan pola hidup sehat, menghindari keramaian, dan mengikuti arahan pemerintah,” tegas WH.

RSDP TAMBAH SATU PDP

Sementara itu, pasien PDP di RSUD dr Dradjat Prawiranegara Serang (RSDP) bertambah satu orang. Total pasien yang dirawat di RSDP hingga kemarin berjumlah tujuh orang.

Pasien yang masuk ruang perawatan khusus Covid-19 pada Selasa (24/3) berusia enam bulan asal Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Pasien mempunyai keluhan demam, batuk, pilek, dan sesak napas. “Pasien rujukan dari RSUD Cilegon, dirawat di RSDP ditemani ibunya,” kata Humas RSDP Khoirul Anam.

Anam mengatakan, sudah membawa swab keenam pasien yang sedang dirawat ke Litbangkes Jakarta untuk diuji laboratorium. Namun, hingga saat ini belum ada hasilnya. “Empat pasien sudah semakin membaik dan sudah bisa pulang, tapi hasil swabnya belum keluar,” ujarnya.

Namun, untuk pasien yang baru masuk, pihaknya belum melakukan uji swab. Karena masih menunggu alat khusus untuk anak. Sementara itu, data yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, jumlah ODP di Kabupaten Serang sebanyak 224 orang, tiga orang PDP, dan belum ada warga yang dinyatakan positif Covid-19. Tiga warga PDP itu berasal dari Kecamatan Jawilan, Padarincang, dan Kecamatan Anyar.

TANGSEL PERPANJANG DARURAT

Virus corona semakin meluas penyebarannya sudah di seluruh kecamatan se-Tangsel. Upaya menanggulanginya, Pemkot Tangsel akan melakukan perpanjangan tanggap darurat bencana dimulai sejak 19 Maret hingga 1 April mendatang.  

Data terbaru, Kamis (26/3) jumlah ODP sebanyak 204 dan PDP ada 89 orang. Kasus konfirmasi sebanyak 17 dan meninggal dunia empat orang.

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, situasi penyebaran virus corona sudah menyebar di tujuh lokasi kecamatan se-Tangsel. ”Awalnya kita menetapkan kejadian luar biasa (KLB). Perkembangannya, kasus terus meningkat hingga akhirnya dikeluarkan surat keputusan Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany dengan nomor No 360/Kep.100-HUK/2020, tentang status tanggap darurat bencana wabah penyakit coronavirus disease 2019 berlaku sejak 19 Maret hingga 1 April,” katanya saat ditemui di Posko Gugus Tugas Virus Corona di Resto Kampung Anggrek, Kecamatan Serpong, Kamis (25/3). ”Kemungkinan akan diperpanjang lagi sampai 29 Mei, surat keputusannya tengah dibuat kembali oleh Bu Airin,” tambahnya

BANTUAN APD MENGALIR

Selain dari pemerintah pusat, Dinkes Banten menerima bantuan APD dari berbagai perusahaan yang ada di Banten. Kemarin, Bank Banten memberikan bantuan 500 unit virus transport media (VTM) dan 95 set APD. Bantuan tersebut diberikan oleh Lekso Miryawan selaku Pimpinan Cabang Bank Banten Serang dan Rahmad Hidayat selaku CSR Bank Banten kepada Kepala Dinkes Banten dr Ati Pramudji Hastuti, juga disaksikan juga oleh Sunaryo sebagai Ketua Forum CSR Provinsi Banten.

Bantuan itu akan langsung didistribusikan Dinkes Banten kepada pengelola ambulans dan ke RSUD Banten. Menurut Ati, selain dari Bank Banten, Pemprov Banten juga menerima bantuan APD dari PT Mayora 60 set yang diberikan kepada RSUD Banten, 3.500 google glass juga diberikan ke RSUD Banten sesuai arahan PT Mayora yang ingin menyumbangkan ke RSUD Banten.

Selain itu, ada pula bantuan dari PT Trasti berupa masker bedah sebanyak 24.300 unit untuk provinsi, 37.500 unit di Kabupaten Tangerang, 7.500 unit di Kota Tangerang, 15.000 unit di Kota Tangerang Selatan, 10.000 unit di Kabupaten Serang, 2.500 di Kabupaten Pandelang, 2.500 di Kota Cilegon dan 700 unit di Kabupaten Lebak dan bantuan dari PT Asahimas Chemical berupa 100 liter NaCIO 10 persen dan Kempu sebanyak 4 buah yakni cairan disinfektan. (den-jek-you/air/ags)