Ratu Ubur-ubur Jadi Tersangka, Tak Dijerat Penistaan Agama

0
83
Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin bersama jajaran berdialog dengan pimpinan Kerajaan Ubur-ubur Aisyah, di kediaman Aisyah, Lingkungan Tower Sayabulu, Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Senin (13/8).

SERANG – Status tersangka telah disematkan penyidik Satreskrim Polres Serang Kota kepada Aisyah Tusalamah. Ratu Kerajaan Ubur-ubur itu terancam pidana enam tahun penjara lantaran disangka melakukan ujaran kebencian.

“Seperti yang sudah pernah saya sampaikan, Ibu AS kita jerat Pasal 28 ayat (2) UU ITE. Sejak tanggal 19 Agustus 2018,” kata Kapolres Serang Kota Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Komarudin ditemui di Mapolres Serang Kota, Kamis (23/8).

Dikatakan Komarudin, penyidik tidak menjerat Aisyah dengan Pasal 156 a KUH Pidana tentang Penodaan Agama lantaran belum memenuhi unsur. “Hal ini karena unsur penistaan agama yang dilakukan Aisyah tidak di ruang terbuka dan di muka umum. Untuk menjerat Aisyah dengan pasal ini, sebelumnya harus ada teguran dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) lebih dulu,” jelas Komarudin.

Penyidikan perkara itu harus menunggu hasil pemeriksaan kejiwaan Aisyah Tusalamah dari RSJ Grogol, Jakarta Barat. “Paling cepat pemeriksaan 14 hari di RSJ Grogol. Walaupun, sebelumnya kami sudah menerima diagnosa awal RS dr Drajat Prawiranegara bahwa yang bersangkutan mengalami semacam depresi,” beber Komarudin.

Namun, Komarudin menegaskan, apa pun hasil dari pemeriksaan kejiwaan Aisyah Tusalamah tidak akan memengaruhi penyidikan. “Sudah memberikan keterangan sudah BAP di kita, di tengah perjalanan penyidikan ada indikasi ke arah sana, tentu hakim yang akan menentukan,” jelas Komarudin.

Selain itu, penyidik masih berkoordinasi dengan beberapa ahli untuk merampungkan penyidikan perkara tersebut. Di antaranya, ahli bahasa, ahli pidana, ahli kejiwaan, dan ahli sosiologi.

“Untuk bisa sedikit meredam isu yang simpang siur, yang bersangkutan kami kirim (ke RSJ Grogol-red) untuk dilakukan penelitian lebih mendalam. Mengingat, permasalahan ini sangat sensitif betul kepada masyarakat,” kata Komarudin.

Disinggung soal isu pesta seks sebagai ritual yang dilakukan pengikut Kerajaan Ubur-ubur, Komarudin berjanji untuk mendalami informasi tersebut. “Terkait informasi apa pun yang berkembang saat ini, kami akan kaji lebih dalam. Saat ini kelompok (pengikut Kerajaan Ubur-ubur-red) masih dalam pengawasan kami. Artinya, bisa kami periksa, dan dalami dengan melihat aktivitas keseharian mereka,” ungkap Komarudin.

Namun, kata Komarudin, tidak ada ritual menyimpang yang dilakukan para pengikut Aisyah Tusalamah selama berada di penampungan. “Pantauan kami, di tempat yang disiapkan Pemkot, aktivitasnya cukup positif dan tidak ada ritual-ritual, “ kata Komarudin.(Merwanda/RBG)