Ratusan Penambang Kalimaya Banting Setir Jadi Buruh

0
396 views
Perajin batu kalimaya di Kecamatan Maja menggosok batu kalimaya di rumahnya, Senin (19/12).

MAJA – Sejak enam bulan terakhir, ratusan penambang batu kalimaya di Kecamatan Curugbitung dan Maja beralih profesi menjadi buruh. Cuaca ekstrem, penghasilan yang tidak menentu, dan menurunnya minat masyarakat terhadap batu kalimaya menjadi faktor utama para penambang meninggalkan lubang yang menjadi tempat perburuan batu tersebut.

Endang, penambang batu kalimaya asal Kecamatan Curugbitung, mengatakan, faktor cuaca menjadi penyebab utama masyarakat meninggalkan profesi sebagai penambang kalimaya. Ia mengakui, curah hujan yang tinggi bisa mengakibatkan kecelakaan di dalam lubang. Katanya, daripada membahayakan, lebih baik menjadi buruh tani di kampung. “Saya sudah enam bulan enggak menambang lagi. Penghasilannya enggak menentu, karena hujan terus dan takut longsor,” kata Endang kepada Radar Banten, Senin (19/12).

Dikatakannya, perburuan batu kalimaya sudah mengalami kelesuan sejak awal 2016 lalu. Minat masyarakat terus menurun dan banyak yang tidak tertarik lagi mengoleksi batu kalimaya sebagai batu akik. Kondisi ini, kata dia, jelas berdampak terhadap penambang, karena biaya produksi tidak akan tertutup dengan hasil penjualan kalimaya. “Lebih baik jadi buruh kasar atau buruh tani. Walaupun penghasilannya kecil, tapi saya sudah pasti dapat uang buat menghidupi anak dan istri di rumah,” katanya.

Opik, perajin batu kalimaya di Pasirkacapi, Kecamatan Maja, membenarkan, para penambang batu kalimaya sudah jauh berkurang dibandingkan pada 2014 dan 2015. Waktu itu, masyarakat di Curugbitung dan Maja banyak yang menambang, karena harga batu kalimaya cukup tinggi dan banyak dicari masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, sekarang masyarakat sudah mulai meninggalkannya. “Di Pasirkacapi saja, lebih dari 50 orang yang sudah beralih profesi jadi buruh tani. Tapi, masih ada satu dua orang yang tetap bertahan, karena enggak bisa kerja lain,” terangnya.

Kata Opik, waktu batu kalimaya ramai, mampu menjual kalimaya sebanyak 10 hingga 20 buah dengan harga Rp500 ribu hingga Rp3 juta. Namun, tiga bulan belakangan ini selain sulit untuk mendapatkan bahan batu kalimaya, harga jual dari para penambang pun cukup tinggi. “Apalagi saat ini peminat atau calon pembeli yang datang berkurang dibandingkan dengan beberapa bulan lalu,” katanya. (Ali/Radar Banten)