Ratusan Warga Terkena ISPA di Bojonegara

Sejumlah pasien mengantre untuk berobat di ruang pelayanan Puskesmas Bojonegara, Senin (2/7).

BOJONEGARA – Pasien penderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Puskesmas Bojonegara hingga semester pertama tahun ini mencapai 401 orang. Jumlah itu diprediksi akan bertambah. Selain berada di kawasan berdebu dampak dari industri, juga dipicu pola hidup yang kurang sehat.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Bojonegara dokter Sumeri mengungkapkan, ISPA merupakan penyakit peringkat kedua setelah penyakit febris (demam) yang banyak dikeluhkan masyarakat. Pada 2017, pihaknya menerima kunjungan pasien penyakit ISPA mencapai 1.274 orang atau menduduki peringkat kedua setelah penyakit batuk.

“Tahun ini, sampai semester pertama mencapai 401 kunjungan pasien penderita ISPA dan diperkirakan akan terus bertambah sampai Desember,” ujarnya yang ditemui Radar Banten di ruang kerjanya, Senin (2/7).

Diakui Sumeri, penderita ISPA di wilayahnya cukup tinggi. Selain wilayah yang berdebu dampak dari banyaknya industri, juga dipicu pola hidup masyarakat yang kurang sehat. Dijelaskan Sumeri, penyakit ISPA bukan hanya disebabkan bakteri, melainkan juga dari alergi dan debu.

“Kami sudah menyosialisasikan program Germas (gerakan masyarakat hidup sehat-red) ke masyarakat agar penyakit ISPA bisa ditekan,” katanya.

Ia berharap, masyarakat rutin berkonsultasi ke puskesmas ketika ada keluhan. Pihaknya sudah menyediakan spesialis konseling bagi masyarakat yang ingin konsultasi. “Jangan tunggu sakit,” imbaunya.

Di tempat yang sama, salah satu warga Kecamatan Bojonegara, Jamaludin (26) yang datang ke Puskesmas untuk berobat mengaku, sering terkena penyakit ISPA lantaran setiap hari sering menghirup debu di jalan dampak dari industri.

“Sudah beberapa hari ini mengalami sakit tenggorokan. Ternyata kena ISPA,” akunya. (Adi/RBG)