Reaktivasi Rel KA Rangkasbitung-Labuan Terkendala Bangunan

0
154
Warga melintas di Jalan Ketileng, kemarin. Pemerintah berencana mengaktifkan kembali jalur KA yang mati. FOTO: UMAM/RADAR BANTEN

CILEGON – Rencana pemerintah pusat yang akan mengaktifkan kembali rel kereta api jalur Rangkasbitung-Cilegon-Labuan sampai saat ini masih terus digodok. Reaktivasi kembali jalur tersebut ditargetkan dimulai pada 2021 mendatang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten Revrie Aroes mengatakan, pihaknya sudah mulai melakukan pendataan. “Mana saja lahan milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) dan mana saja lahan milik warga setempat,” katanya kepada wartawan usai menghadiri pengukuhan pengurus DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten di The Royale Hotel Krakatau, Selasa (19/9).

Revrie menjelaskan, pihaknya bersama perwakilan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan perwakilan PT KAI bakal menggelar sosialisasi terkait rencana reaktivasi rel kereta api jalur Rangkasbitung-Cilegon-Labuan. “Untuk reaktivasi rel kereta api jalur Rangkasbitung-Labuan saat ini sudah tahap pembuatan DED (detailed engineering design). Cuma yang buat DED bukan kami, tapi pemerintah pusat yaitu Kemenhub,” jelas Revrie.

Kata Revrie, pihaknya akan terus menyosialisasikan rencana reaktivasi rel kereta api tersebut. Jika ada bangunan rumah warga yang ada di lahan milik PT KAI, dengan terpaksa harus dibongkar. “Walaupun ada lahan milik warga tapi jaraknya berdekatan dengan rel kereta api maka akan kami komunikasikan dengan warga tersebut. Ini lantaran jarak aman rumah warga dengan rel kereta api itu sekitar 25 meter. Baik dari sisi kiri maupun dari sisi kanan,” ujar Revrie.

Dikatakan Revrie, rencana reaktivasi rel kereta api tersebut bukan cuma jalur Rangkasbitung-Labuan, tapi ada juga jalur Saketi-Bayah. “Cuma yang bakal digarap lebih dulu itu jalur Rangkasbitung-Labuan. Dan rencananya 2021 sudah mulai penggarapan infrastruktur,” kata Revrie.

Lebih lanjut kata Revrie, kendala yang dihadapi antara lain ada perlintasan rel kereta api yang sudah berubah fungsi. Ada yang sudah menjadi masjid dan ada juga yang sudah menjadi sekolah. “Kalau sudah berubah, ya harus ada relokasi sebelum dibongkar,” imbuh Revrie.

Dikonfirmasi, Humas Ditjen Kereta Kemenhub Joice Hutajulu mengaku sampai saat ini pihaknya masih dalam proses identifikasi dan studi awal. “Setahu kami belum sampai pada pembuatan DED. Tapi akan kami cek kembali,” tandasnya. (Umam/RBG)