Rela Bertaruh Nyawa Meski Status Honorer

0
862 views
Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan saat melihat ruang karantina, Rabu (1/4) malam.

Karantina Tenaga Medis RSUD Banten

Enam perawat cantik sedang duduk santai di meja makan, sambil membuka nasi kotak berwarna putih yang di dalamnya terselip air mineral berisi 240 ml. Para pejuang kemanusiaan Covid-19 itu, baru bersiap menyantap menu makan malam mereka sekira pukul 19.04 WIB, usai melaksanakan tugas mulia di RSUD Banten.

Deni Saprowi – SERANG

Mereka adalah tenaga medis pertama, yang dijumpai Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tempat karantina tenaga kesehatan RSUD Banten, yang berlokasi di Rumah Dinas Gubernur di Kawasan Pendopo Lama Gubernur, Jalan Brigjen Syam’un Nomor 5, Kota Serang, Rabu (1/4) malam.

Kedatangan Fitron dan sejumlah awak media, tidak lantas membuat enam perawat itu membatalkan jam makan malam mereka. Sambil menyambut ramah dan melempar senyum terbaiknya, para perawat itu justru menawari Fitron dan wartawan untuk ikut malam bersama.

Meja makan yang tampak mewah, dengan dikelilingi 8 kursi, masih menyisakan dua kursi kosong untuk ditempati. Namun, Fitron memilih untuk berdiri sambil menanyakan kabar mereka dan mengucapkan selamat makan malam. “Saya enggak kebagian,” canda Fitron.

Membalas candaan Fitron, salah seorang perawat langsung menawari Fitron untuk duduk bersama.

“Masih banyak Pak,” jawab perawat berkerudung hitam sambil menunjuk ke arah samping meja makan, tempat penyimpanan nasi kotak.

Tempat meja makan itu, hanya sekira dua meter dari tempat cuci piring atau ruang dapur. Di sana terdapat botol hand sanitizer yang menarik perhatian Fitron. Namun saat dicoba, hand sanitizer itu sudah habis. “Ini hand sanitizer-nya habis, harus diisi lagi,” cetus Fitron.

Dari meja makan, Fitron langsung meninjau kamar para perawat dan kamar dokter yang sedang dikarantina. Kamar pertama yang dikunjungi berdampingan dengan ruangan televisi yang sedang menyala.

Di kamar pertama, para perawat yang tinggal di kamar memilih untuk keluar. Ada sekira delapan kasur di ruangan yang berukuran rumah subsidi yang disusun sejajar. Tidak ada meja elevisi di dalamnya, namun dilengkapi dengan AC.

Selanjutnya di kamar kedua, pemandangannya agak berbeda. Meskipun ukurannya hampir sama dengan kamar pertama, namun tempat tidurnya hanya sekira enam kasur sehingga tidak terlalu pengap dan ada lemari untuk menyimpan baju dan barang milik dokter. Kasurnya pun tidak semuanya kasur lantai. Ada tempat tidur yang cukup ditempati dua orang.

Di dalamnya ada salah seorang dokter yang tampak kaget dengan kehadiran Fitron dan wartawan. Meskipun bersedia dikunjungi, tetapi dokter itu menjauhi kamera wartawan.

Selanjutnya di kamar ketiga dan keempat, yang lokasinya berdampingan, kehadiran Fitron mendapat sambutan paling hangat. Para perawat begitu antusias dikunjungi salah satu wakil rakyat.

Alhamdulillah kami di sini semua dijamin Pemprov,” kata salah seorang perawat yang menyambut Fitron di depan pintu kamar ketiga.

Fitron dipersilakan meninjau langsung kondisi dalam kamar, dimana ada sejumlah perawat yang sedang asyik dengan gadget miliknya. Kamar tiga dan empat ukurannya hampir sama dengan kamar pertama.

Kepada Fitron, mereka menyampaikan aspirasinya. “Pak Dewan, kami di sini makan dan minum sudah cukup. Hanya saja masih kekurangan handuk, vitamin, dan buah-buahan,” tutur seorang perawat.

Sedangkan di kamar keempat, salah seorang perawat langsung mencurahkan isi hatinya. Ia mengaku ikhlas jauh dari keluarga selama mengurus pasien Covid-19 di RSUD Banten yang menjadi pusat rujukan Covid-19 Provinsi Banten. Namun ia meminta, lokasi karantina ditambah, lantaran di Pendopo Lama terlalu penuh dan sulit melakukan physical distancing. “Kami bukan mengeluh, namun tempat tidur kami terlalu berdekatan,” curhatnya.

Usai menyerap aspirasi perawat di kamar tiga dan empat, Fitron pun mengunjungi kamar kelima. Sebuah ruangan yang diisi sekira 25 perawat dengan kasur lantai berhimpitan. Ruangan itu ada tiga sekat, namun sekatnya tidak semua tembok, melainkan ada yang hanya menggunakan lemari, seperti tinggal di asrama mahasiswa.

Di sudut ruangan, ada empat perawat yang sempat berbincang dengan Fitron terkait kondisi kesehatan mereka. Usai memotivasi mereka, Fitron bergegas mencari petugas jaga/piket dari RSUD Banten, yang mendampingi para perawat dan dokter selama dikarantina. Ia ingin memastikan semua kebutuhan tenaga medis dipenuhi selama dikarantina. Fitron berjanji akan menyampaikan hasil sidaknya kepada Kepala Dinkes Banten dan Direktur RSUD Banten melalui rapat khusus Komisi V DPRD Banten.

Namun, sebelum Fitron meninggalkan lokasi karantina, sejumlah perawat honorer meminta bantuan kepada Fitron terkait nasib mereka. “Kami mah Pak selalu siap di garda terdepan membantu melayani masyarakat yang terjangkit Covid-19, tapi kami mohon, kami ini sudah delapan tahun lebih jadi honorer, mohon ada kebijakan dari Pemprov agar kami diprioritaskan jadi PNS,” ungkap perawat honorer laki-laki mewakili teman-temannya.

Ia menambahkan, untuk aksi kemanusiaan, para perawat honorer rela bertaruh nyawa paling depan. “Tapi kami bukannya tidak ikhlas, kami hanya minta status kami diperjuangkan,” pungkasnya.

Usai menerima aspirasi perawat honorer, Fitron meminta mereka untuk fokus menjaga keselamatan selama bertugas. “Teman-teman adalah pejuang kemanusiaan yang sedang melaksanakan tugas mulia. Hal lain kita bahas setelah bencana ini berakhir,” pesan Fitron.

Hampir 40 menit Fitron melakukan sidak, ia pun berpamitan pada semua tenaga medis yang sedang dikarantina. Kepada wartawan, Fitron mengaku bangga dengan perjuangan tenaga medis yang dikarantina di Pendopo Lama. “Kita ikut prihatin fasilitas tempat tidurnya tidak standar Covid-19, ini jadi catatan Komisi V untuk segera dievaluasi pemprov. Sebab mereka yang dikarantina rela bertaruh nyawa menyelamatkan pasien corona, tapi mereka kurang terjamin keselamatannya, dengan tidur berhimpitan,” katanya. (*)