Rela Dicaci Maki untuk Membahagiakan Istri

0
106

Kalau berbicara urusan bisnis, Sueb (51), nama samaran, sudah melakoninya sejak masih SD. Berbeda dengan anak-anak lain yang hanya menggendong tas berisi buku dan alat tulis, Sueb kecil tanpa ragu menenteng baskom berisi es pisang buatan sang ibu untuk dijajakan kepada teman dan guru.

Demi membantu ekonomi keluarga yang berada di titik terendah, Sueb sudah diajarkan mencari nafkah sejak belia. Hebatnya, setiap kali membawa jajajan, semua dagangannya habis terjual. Katanya, es pisang cokelat buatan sang ibu memang paling enak.

“Dulu itu saya paling senang kalau dapat uang sepuluh ribuan. Saat itu uang segitu jumlahnya gede. Bisa kebeli nasi empat bungkus,” curhat Sueb kepada Radar Banten.

Sueb yang menjadi anak kesayangan orangtua tak pernah mengeluh saat diminta sang ibu berjualan. Baginya, menjajakan makanan dan melihat orang lain senang dengan membeli dagangannya, itu merupakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai. Saking asyiknya berjualan, bahkan terkadang Sueb lupa akan kewajiban sekolah. Banyaknya tugas yang tidak dikerjakan, bahkan sering tak masuk kelas.

Hingga beranjak remaja, Sueb mulai gengsi berjualan. Seiring dengan tumbuhnya rasa suka kepada lawan jenis, Sueb muda sering tak percaya diri kalau harus diminta berjualan lagi. Parahnya, karena memang sudah melekat dengan image penjual es pisang cokelat, Sueb mengaku, dahulu teman-teman memanggilnya dengan nama Sueb Piscok. Waduh.

“Ya mereka pada manggil begitu. Waktu itu saya sampai enggak mau jualan lagi, Kang. Malas diledekin trus, serasa enggak punya harga diri begitu saya,” curhatnya.

Hingga suatu hari, sang ibu jatuh sakit. Setiap malam batuk dan menderita demam, Sueb dibuat ketakutan. Sampai akhirnya, atas saran saudara dan tetangga, sang ayah membawa ibu Sueb ke rumah sakit. Namun apalah daya, lantaran tak ada biaya, semua usaha sia-sia. Ayah Sueb yang hanya pekerja serabutan pun pasrah pada keadaan.

Terpaksa, sang ibu yang sedang  menderita dibawa kembali ke rumah. Diberi obat-obat biasa yang hanya bisa menetralisir saja, sang ibu sebenarnya sempat membaik selama beberapa hari. Namun selang tiga minggu kemudian, Tuhan menentukan takdir lain. Ibu Sueb meninggal dunia. Innalillahi.

Dirundung duka yang sangat besar, Sueb sempat putus asa dan tak mau bersekolah. Namun setelah diberi nasihat serta semangat oleh guru dan kawan-kawan, ia pun sadar bahwa hidup bukan hanya untuk diratapi, tapi terus dijalani dan dihadapi. Bersama sang ayah dan ketiga kakaknya, ia berjuang tanpa kehadiran seorang ibu. Duh sabar ya, Kang!

“Waktu itu saya sempat berpikir, cuma karena enggak ada uang, ibu saya enggak bisa dirawat di rumah sakit. Sejak saat itu, saya bertekad buat jadi orang kaya, saya harus kaya,” ungkapnya emosi.

Sueb pun mulai aktif berjualan lagi, tak memikirkan masalah gengsi dan malu, tingkat percaya dirinya meningkat berlipat ganda. Di usia muda, berbagai jenis usaha ia lakukan, mulai dari berdagang es pisang sampai berjualan kaus kaki, Sueb juga sempat bekerja. Pokoknya, demi mendapat uang, apa pun dilakukan.

Sampai usia beranjak dewasa, lantaran tidak memikirkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi, Sueb memilih menikah. Katanya, saat itu ia diminta ustaz atau guru mengaji untuk segera mencari calon istri. Tak jauh-jauh, seolah ingin segera berumah tangga, sekali berkenalan dengan wanita tetangga desa, sebut saja Sasa (49), Sueb langsung menikahinya.

Sasa pun tak jauh berbeda. Terlahir dari keluarga sederhana, ia memang tidak neko-neko dalam mencari suami. Asal baik dan menyayangi, pasti diterima dengan stulus hati. Mengikat janji sehidup semati, Sueb dan Sasa resmi menjadi sepasang suami istri.

Tapi, meski Sasa termasuk wanita yang tidak banyak menuntut. Bukan berarti Sueb bisa nyaman menjalani hari-hari baru bersama sang istri. Soalnya, keluarga Sasa, terutama sang ibu, nyatanya tidak sama dengan anaknya. Ia justru sering memandang Sueb sebelah mata. Maklumlah, saat itu Sueb hanya memiliki usaha warung kecil biasa. Astaga.

“Kalau soal dipandang sebelah mata bahkan sampai ada yang caci maki sih banyak, Kang. Bukan cuma ibu mertua, kakak saya sendiri juga begitu. Anggap saya enggak bisa apa-apa. Untungnya punya istri sabar, jadi enggak terlalu pusing. Pokoknya, waktu itu saya janji, kalau sudah sukses, istri harus saya manja, apa yang diminta pasti saya berikan,” akunya.

Namun hebatnya, seolah kebal akan tekanan yang datang, Sueb menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk terus giat bekerja. Siang malam mengurusi warung sederhana, memberi pelayanan terbaik kepada pembeli, perlahan Sueb memperluas jaringan dan memperlengkap barang dagangan.

Sampai akhirnya, ia mulai menjadi agen bagi para pedagang-pedagang lainnya. Dengan keuletan tingkat dewa, ditambah sikap jujur dalam berniaga, Sueb memperoleh kepercayaan pelanggannya. Selang tiga tahun kemudian, Sueb pun mulai merasakan buah dari perjuangan.

Membeli kendaraan pribadi, membangun rumah untuk istri, semua dilakukan Sueb seolah menjawab sindiran orang-orang yang selama ini merendahkannya. Tak hanya itu, sesuai janjinya dahulu. Sueb dengan lembut bertanya pada sang istri tercinta tentang apa yang diinginkan. Dengan lembut dan penuh perasaan, Sasa yang saat itu belum lama melahirkan anak pertama, menginginkan naik haji bersama. Maka dengan semangat juang mencari rezeki, Sueb pun mengumpulkan uang, ia lekas mendaftar haji. Dengan terus memperbaiki kualitas diri, akhirnya Sueb dan Sasa berangkat ke Tanah Suci.

Alhamdulillah, Kang, saya dan istri sudah haji. Toko juga sekarang punya karyawan banyak bahkan beberapa di antara mereka sudah bisa membuka usaha sendiri. Pokoknya, kerja keras saya cuma buat anak istri,” katanya bangga.

Semoga Kang Sueb dan Teh Sasa terus sejahtera dan bahagia. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)