Ada peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Tampaknya tak berlaku bagi Emah (31), nama samaran, yang ditemui wartawan di sebuah warung miliknya di Pontang. Emah saat itu hanya memakai pakaian daster bergemericik gelang di tangan, kalung di leher, dan anting di telinga berlapiskan emas layaknya Bu Bariah yang ada di kisah dongeng anak-anak zaman dulu berjudul ‘si Unyil’.

Emah termasuk ciri-ciri wanita matrealistis. Buktinya, Emah lebih memilih menjadi istri kedua ketimbang mempertahankan rumah tangga yang sudah lama dibinanya bersama sang suami, sebut saja Ubed (35), nama samaran. Persoalannya sepele, hanya karena Emah enggak mau diajak hidup senang. Bingung kan? Maksudnya, enggak dikasih nafkah sama suami ‘senang’, setiap hari makan nasi campur garam doang juga ‘senang’. Hehehe.

Intinya faktor ekonomilah, Emah ogah merasakan penderitaan dalam berumah tangga.
Awalnya kehidupan rumah tangga Emah dan Ubed yang berprofesi sebagai petani baik-baik saja. Pasangan yang sudah dikaruniai satu anak yang masih balita ini, masih menerima keadaan. Apalagi, ekonomi Emah sedikit terbantu setelah ditopang dengan usaha membuka warung. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit hati Emah terusik dengan sikap tetangga yang suka pamer mulai dari pamer perhiasan sampai mobil baru, belanja, hingga seringnya jalan-jalan setiap akhir pekan. Merasa dilecehkan, Emah akhirnya banyak menuntut terhadap suami yang pendapatannya hanya cukup buat makan.

Sikap Emah mulai berubah 180 derajat ingin mengejar hasrat layaknya kehidupan tetangga. Minta uang buat beli make-up buat bersoleklah, minta uang belanja, sampai minta jatah uang buat jalan-jalan. Tak digubris sama sang suami, Emah pun geram dan mencari pelarian dengan mendekati lelaki lain yang lebih mengerti kebutuhannya. Namun, lelaki yang didekati Emah sudah beristri. “Saya realistis saja Kang (menyebut wartawan-red). Zaman sekarang kalau suami jarang kasih duit, mending cari lagi,” cetus Emah.

Emah pun mulai bermain api dengan suami orang, istilah zaman now itu Emah termasuk perempuan pelakor alias pencuri laki orang, dan mulai mengesampingkan kehadiran suami dalam kehidupannya. Namun, sikap Emah yang semakin hari semakin menunjukkan sikap janggal membuat sang suami semakin curiga dan mulai menyelidiki apa yang terjadi.

Setelah mengetahui Emah main hati dengan lelaki lain, Ubed bukannya menegur, malah membalas kelakuan buruk Emah dengan mencari pelarian sama halnya dengan Emah, yakni kencan dengan wanita lain. Oalah, ini ibarat kata air susu dibalas air galon tiga rebu.

Sejak itu semakin hari kehidupan rumah tangga mereka sudah tidak harmonis lagi. Sampai akhirnya setahun kemudian mereka mereka tak bisa mempertahankan rumah tangganya karena keduanya saling memilih selingkuhannya masing-masing. Yaelah. Terang saja, lelaki yang dijumpai Emah selalu memenuhi kebutuhan Emah meski berstatus sudah beristri. Emah bahkan sampai rela jadi yang kedua asal bisa bergaya. Ya salam… “Sudah enggak ada chemistry sama Kang Ubed,” akunya. Bilang saja sama-sama buaya. Wkwkwk.

Singkat cerita, Emah pun jadi istri kedua selingkuhannya, sebut saja Boni. Bukannya menikmati hari-harinya sebagai istri kedua yang bisa membuatnya bahagia, Emah malah jatuh ke jurang yang lebih dalam. Jeng jeng jeng. Setelah resmi dimadu, Emah baru mengetahui jika sifat suami barunya pelit alias cap jahe. Tidak sampai di situ, Emah juga selalu mendapat cacian dan makian setiap bertemu dengan istri tua sang suami. Ya nasib.

“Malah makin pusing jadi istri kedua. Setiap hari di rumah terus. Suami selalu bilang enggak ada kalau saya minta uang. Padahal, saya tahu duitnya banyak,” keluhnya.

Emah bahkan harus menerima kenyataan pahit setelah ditalak suami keduanya atas permintaan istri pertama. Beruntung, Emah bertemu jodohnya kembali berprofesi sebagai karyawan pabrik yang tak lain tetangganya sendiri. Emah akhirnya menjalani profesinya semula membantu suami membuka usaha warung warisan ibu tercinta. Mudah-mudahan langgeng ya, Mbak dengan suami barunya, amin. (Haidaroh/zai/dwi)