Relokasi SD Terdampak Tol, Dewan Bakal Panggil PT Wika

0
369 views
Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Serang mengunjungi SDN Cilayangguha yang terdampak proyek Tol Serang-Panimbang di Kecamatan Cikeusal,Sabtu (11/1).

SERANG – DPRD Kabupaten Serang segera memanggil PT Wika sebagai pelaksana proyek pembangunan Tol Serang-Panimbang. DPRD akan mendesak perusahaan untuk segera merelokasi sekolah yang terdampak proyek.

Sekadar diketahui, sebanyak empat SD yang terdampak proyek Tol Serang-Panimbang di wilayah Kecamatan Cikeusal dan Kecamatan Kragilan. Meliputi SDN Cilayangguha, SDN Inpres Cikeusal, SDN Seba di Kecamatan Cikeusal, serta SDN Cipete di Kecamatan Kragilan. Meskipun pembangunan tol sudah berjalan, keempat SD sampai saat ini belum direlokasi.

Baru-baru ini, pihak SDN Cilayangguha di Kecamatan Cikeusal diresahkan dengan adanya pematokan lahan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah khawatir akan ada penggusuran gedung meski belum menerima informasi apa pun dari pelaksana proyek.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serang Imam Gozali mengatakan, pihaknya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Cilayangguha, Kecamatan Cikeusal yang terdampak proyek pembangunan Tol Serang-Panimbang pada Sabtu (11/1). Sidak dilakukan bersama anggota DPRD lain, yakni Muhammad Novi Fatwarohman, Dian Damayanti, dan Jajat. “Kita berencana memanggil PT Wika melalui Komisi II DPRD. Kita akan mendesak PT Wika segera merelokasi SD yang terdampak tol. Kita akan panggil dinas terkait dulu sebelum ke PT Wika,” ungkapnya melalui sambungan telepon seluler, Minggu (12/1).

Kata Imam, pihaknya juga akan meminta pelaksana proyek tol kooperatif kepada pihak sekolah. Termasuk soal informasi penggusuran dan sebagainya. Seperti soal pematokan lahan, kata Imam, pihak sekolah tidak pernah menerima informasi sebelumnya. “Kita juga akan mendesak pelaksana proyek dengan memberikan tenggang waktu untuk relokasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala SDN Cilayangguha Enin Suhartini mengatakan, proses belajar mengajar di SDN Cilayangguha sudah tidak kondusif karena terganggu alat berat yang beroperasi di lokasi proyek tol. Katanya, lokasi proyek berdekatan dengan lokasi sekolah. “Belajar mengajar terganggu, ada gangguan getaran juga. Lantai sekolah keramiknya pada copot, genting berjatuhan,” keluhnya.

Enin khawatir, dengan gangguan tersebut menyebabkan para siswa terjatuh ke jurang lokasi proyek tol yang berada di sekitar sekolah. “Jurangnya sampai 15 meter. Kita khawatir siswa jatuh ke situ,” ujarnya.

Oleh karena itu, Ia meminta, proses relokasi gedung sekolah segera dilaksanakan. Karena, ia menilai, proses relokasi juga cukup menghambat program yang akan dilakukan kepala sekolah. “Dengan tidak ada kejelasan ini, program kepala sekolah jadi terhambat,” pungkasnya. (jek/zai/ags)