Remaja Pembunuh Eno Itu Dituntut 10 Tahun Penjara

Sidang Lanjutan Pembunuhan Eno Parihah

Sidang Eno
Massa meminta agar terdakwa dihukum mati di PN Tangerang, kemarin. (Foto: Hendra Saputra)

TANGERANG Rahmat Alim atau RAL (15), terdakwa pembunuhan Eno Parihah (18), dituntut sepuluh tahun penjara oleh tim jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Tangerang, Jumat (10/6). RAL punya peran kuat dalam menghabisi nyawa buruh asal Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Serang, itu.

Tim JPU yang terdiri atas Jaksa M Ikbal Hadjarati, Agus Kurniawan, Taufik Hidayat, dan Putri Wulan Wigati membacakan surat tuntutan terhadap RAL di Pengadilan Negeri (PN) Klas I A Tangerang, Jumat (10/6).

Dalam sidang yang berlangsung tertutup itu, JPU beranggapan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan terhadap Eno bersama-sama dengan saksi Rahmad Arifin dan Imam Hapriadi.

Kajari Tangerang Edyward Kaban mengatakan, terdakwa terbukti melanggar Pasal 340 ayat (1) ke-1 primer jo Pasal 55 UU No 11 Tahun 2012 KUH Pidana tentang Pembunuhan Berencana.

“Tuntutan hukuman kepada terdakwa anak (RAL-red) berdasarkan pasal 81 ayat (6) bahwa apabila pidana dilakukan oleh anak-anak yang diancam dengan hukuman mati atau seumur hidup, pidana maksimal sepuluh tahun sesuai dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Anak,” kata Edyward Kaban di gedung Kejari Tangerang, kemarin.

M Ikbal Hadjarati mengungkapkan, tuntutan yang diajukan dalam persidangan tersebut berdasarkan surat dakwaan dan fakta di persidangan yang diperkuat sejumlah alat bukti. “Kami menuntut anak (RAL-red) sepuluh tahun penjara,” kata Ikbal.

Jaksa berpedoman alat bukti berupa surat visum yang menyatakan terdapat air liur terdakwa yang menempel pada dada sebelah kiri korban. Alat bukti kedua berupa keterangan ahli yang menyebutkan darah Eno menempel pada tangan kanan RAL.

Bukti selanjutnya, berupa bekas gigitan di dada korban, yang meninggalkan struktur gigi yang identik dengan gigi RAL. Selain itu, darah Eno yang menempel di tangan RAL itu kemudian diusapkan pada tembok kamar kos dan sidik jarinya menempel di sana. “Sidik jari itu identik dengan tangan RAL,” ujar Ikbal.

Kasi Pidum Kejari Tangerang Andri Wiranofa menambahkan, dalam persidangan tersebut, tim JPU juga menunjukkan alat bukti pamungkas yang akan ditampilkan dalam sidang tuntutan ini. Alat bukti pamungkas tersebut berupa, bercak darah Eno pada baju terdakwa.

“Sesuai hasil visum Puslabfor Mabes Polri bahwa bercak darah yang ditemukan di baju anak (RAL-red) saat ditemukan di rumahnya identik dengan darah korban. Nah, alat bukti itu, yang juga tadi kami sampaikan dalam persidangan,” pungkasnya.

Mahfudoh, Ibu Eno, mengaku tidak menerima tuntutan jaksa tersebut. Meskipun RAL masih di bawah umur, ia berharap agar terdakwa dituntut hukuman mati. “Itu masih belum maksimal, harusnya dihukum mati sesuai dengan perbuatannya membunuh anak saya secara keji,” ujarnya.

Sementara, di depan gedung PN Tangerang, ratusan massa kembali menggelar aksi demo di depan gedung PN Tangerang. Massa yang berasal dari Forum Keluarga Banten dan Front Pembela Kebenaran mendesak hakim PN menjatuhkan hukuman mati terhadap RAL.

Bahkan, sejumlah demonstran meminta agar RAL diserahkan untuk diadili oleh masyarakat. “Serahkan sama kami, biar kami yang menghukum mati Rahmat Alim (RAL-red). Rahmat Alim harus dihukum mati,” teriak sejumlah demonstran.

Sempat terjadi ketegangan antara pendemo dan petugas kepolisian. Adu mulut terjadi saat sejumlah pendemo memaksa merangsek masuk di dalam gedung PN. Ratusan polisi yang berjaga di lokasi itu akhirnya berhasil menghalau demonstran untuk masuk ke gedung PN Tangerang.

Kuasa Hukum RAL, Alfan Sari, tetap meyakini terdakwa tidak terlibat dalam pembunuhan sadis tersebut. Pihak kuasa hukum RAL masih bersikukuh agar seorang yang bernama Dimas untuk dihadirkan dalam perkara tersebut.

“Kami yakin klien kami tidak bersalah. Karena pertama, saksi mahkota atas nama Arifin (Rahmad Arifin-red) sudah bilang bukan RAL yang ikut membunuh Eno, tapi Dimas,” ujar Alfan.

Sementara itu, seusai sidang, sempat terjadi kericuhan. Seorang wanita yang mengaku sebagai kakak kandung korban mencaci maki kedua orangtua terdakwa.

Bahkan, wanita berkerudung hitam itu terus mengikuti orangtua terdakwa sejak keluar ruang sidang hingga ke lantai bawah gedung PN.

Sambil melontarkan cacian, wanita tersebut berusaha melempar sepatu ke arah orangtua terdakwa. Namun, berkat pengawalan petugas, emosi wanita tersebut dapat diredam.

“Oh, ini orangtuanya Alim (RAL-red). Dasar orangtua enggak bisa mendidik anak. Kalau anaknya biadab, apalagi orangtuanya,” teriak wanita tersebut.

Pantauan wartawan, sidang dimulai sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Ratusan aparat kepolisian bersiaga mulai dari luar gedung hingga luar ruang sidang pengadilan. Meski berlangsung aksi demo, sidang berjalan lancar.

RAL menjalani sidang secara maraton sejak Selasa (7/6) lalu. Sidang yang dipimpin Hakim RA Suharni digelar tertutup untuk umum karena RAL masih di bawah umur. Sidang akan dilanjutkan kembali pada Senin (13/6) mendatang dengan agenda pembacaan pleidoi dari pihak kuasa hukum terdakwa.

Pembunuhan terhadap Eno Parihah (18), karyawati PT Polyta Global Mandiri (PGM), terjadi di kompleks Pergudangan 8, Blok DV, RT/RW 01/06, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Jumat, 13 Mei 2016 lalu.

Pembunuhan sadis dengan memasukkan gagang cangkul ke dalam kemaluan korban dilakukan oleh tiga pelaku. Mereka ialah tersangka Imam Hapriadi alias Bogel dan dua orang temannya, yaitu Rahmad Arifin alias Dayat serta RAL yang kasusnya sedang disidangkan lebih awal karena terdakwa masih tergolong anak di bawah umur. (Hendra Saputra/Radar Banten)