Rencana Penyerahan Aset JLS Tuai Penolakan

0
1817

CILEGON – Wacana penyerahan aset Jalan Lingkar Selatan (JLS) oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menuali penolakan dari anggota DPRD Kota Cilegon Hasbi Sidik.

Anggota legislatif dari Fraksi Gerindra itu menjelaskan, nilai aset JLS sangat besar, potensi ekonomi yang bisa diraup Pemkot Cilegon dengan keberadaan jalan itu pun cukup besar. Jika aset itu diserahkan, Hasbi hawatir jika potensi keuntungan yang bisa diraih pemerintah bisa ikut hilang.

“Nilai ekonomis kedepan yang akan menjadi sumber pendapatan daerah akan hilang,” ujar Hasbi di kantor DPRD Kota Cilegon, Kamis (25/3).

Pemkot Cilegon berkilah jika wacana penyerahan aset JLS itu karena besarnya anggaran pemeliharaan yang perlu dikeluarkan. Hal itu menurut Hasbi tidak bisa menjadi dasar penyerahan aset.

Menurutnya, untuk pemeliharaan jalan, pemerintah bisa mengoptimalkan bantuan anggaran dari pemerintah provinsi, selain itu, dengan melibatkan industri, karena selama ini pihak industri paling banyak menerima manfaat dari keberadaan jalan tersebut.

Pemerintah juga harus melihat nilai historis dari pembangunan jalan yang membentang melintasi Kecamatan Cibeber, Kecamatan Citangkil, dan Kecamatan Ciwandan tersebut. Pemikiran untuk melimpahkan kepemilikan aset dinilai Hasbi sebuah pemikiran yang tidak bijak.

“Jangan diserahkan ke provinsi dong, itu tidak baik,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Cilegon Helldy Agustian menyebut jika wacana penyerahan aset JLS masih dalam pembahasan. Ia belum menerima laporan hasil kajian rencana tersebut.

Namun menurut Helldy, dasar penyerahan aset JLS karena pemerintah melihat kebutuhan anggaran pemeliharaan yang sangat besar. Disisi lain dinilai tidak ada kerugian yang akan ditelan Pemkot Cilegon jika pelimpahan aset itu dilakukan.

“Sekarang pengaruhnya bedanya apa kalau itu diserahkan ke provinsi, kan masih bisa digunakan juga, hanya bedanya di pemeliharaan,” ujarnya.

Helldy menilai, pelimpahan aset JLS sebagai langkah bentuk efesiensi anggaran, karena ia menilai lebih baik jika anggaran untuk pemeliharaan jalan itu dialihkan untuk pembangunan jalan di lingkungan.

“Kalau anggaran besar lebih baik bangun jalan di kampung-kampung. Kita bicara efisiensi anggaran, insya allah tidak akan ada potensi pendapatan yang hilang,” katanya. (Bayu Mulyana)