Guru Besar Ekonomi UI Renald Khasali. Foto: Jawa Pos

JAKARTA – Perekonomian Indonesia menghadapi era Shifting sebagai kelanjutan dari gelombang disruption. Sayangnya, pemahaman dunia usaha lamban dalam menghadapi perubahan.

Guru Besar Ekonomi UI sekaligus Manajemen Rumah Perubahan Rhenald Kasali menuturkan dikhawatirkan ada banyak usaha nasional yang berpotensi gagal memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi baru akibat disrupsi.

“Banyak orang mengatakan dunia memasuki era new normal. Tapi apa konkretnya new normal dalam kehidupan baru?” tanyanya di sela-sela peluncuran buku terbarunya, The Great Shifting di Rumah Perubahan, Sabtu (21/7), sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Lewat kajiannya, ia menunjukkan sejumlah peristiwa shifting yang terjadi dalam bidang konsumsi, industri pelayanan kesehatan, keuangan dan perbankan, hiburan, esteem economy, asuransi, pendidikan, pariwisata, mainan, dan kebudayaan.

Pertama, ketika pendapatan masyarakat meningkat, maka sejumlah produk akan menjadi barang inferior. Dan ini menunjukkan kegagalan para CEO dalam membaca shifting dan terperangkap dalam a blame trap karena terlalu percaya pada pernyataan pelemahan daya beli.

Rhenald Kasali menunjukkan, puncak dari peradaban bahasa yang dijelajahi manusia sepanjang sejarah adalah munculnya collaborative society, dan pada puncaknya terbentuk kompetensi bangsabangsa untuk melahirkan teknologi baru. Dan semakin ke sini teknologi semakin cepat mengubah kehidupan beserta segala yang dikonsumsinya.

Ia memberi contoh kasus hilang dan memudarnya perusahaan-perusahaan besar saat berhadapan dengan peradaban teknologi baru. Semisal runtuhnya VOC menyusul terbentuknya Revolusi Industri di abad 18-19 yang memusnahkan kekuatan logistik 4.875 kapal layar milik VOC.

Revolusi Industri melahirkan kapal laut dengan mesin-mesin uap yang terus ber-evolusi menjadi VLCC berbahan bakar cair dengan pelabuhan-pelabuhan yang modern, yang mampu mengangkut hingga 25.000 kontainer ukuran 22 feet. Dan imbasnya terasa hingga ke pelabuhan Tanjung Priok yang tidak cepat menyesuaikan diri.

Baru setelah pelabuhan-pelabuhan milik BUMN itu memilih jalan transformasi belakangan ini, kapalkapal ukuran medium mulai masuk kembali ke pelabuhan nusantara dan mulai menurunkan biaya logistik.

Namun Rhenald menambahkan, transformasi logistik itu belum selesai. Konsep Tol Laut yang digagas Presiden Jokowi masih harus terus dilanjutkan dengan reformasi birokrasi berbasiskan teknologi digital dengan dukungan infrastruktur.

Pertama, produk beralih menjadi platform dan platform mengubah kehidupan secara luas dan mengakibatkan banyak produk menjadi inferior dan ditinggalkan peradaban baru.

Kedua, kehidupan baru menimbulkan efek jejaring yang mengubah sifat produksi menjadi nirbatas, kolaboratif, dan serba sharing. Terjadi proses penghancuran pasar existing namun sekaligus menimbulkan efek inklusi semisal/inancial inclusion atau jargon “kini setiap orang bisa terbang.”

“Ini berarti perekonomian baru berpotensi menggerus gap kaya-miskin dengan memberi ruang yang lebih besar bagi masuknya kelompok konsumen yang kurang beruntung menjadi consumer,” jelasnya.

Ketiga, adalah keliru mereduksi makna Shifting sebagai perpindahan belanja dari dunia riil ke dunia online. Shifting seperti itu sudah pasti walaupun selalu disangkal pelaku-pelaku usaha lama yang terimbas. Shifting yang paling besar justru terjadi secara horizontal dan cross industry, yang mengakibatkan pelaku industri sulit melacak.

Ia memberi contoh cross Shifting terjadi dari konsumsi atau spending pada barang-barang retailgoods seperti minuman berenergi dan snack jajanan ke perjalanan wisata, hiburan, game online dan asuransi kesehatan.

Keempat, perbaikan infrastruktur dan orientasi pembangunan dari pendekatan trickle down yang melahirkan pengusaha besar di sektor perkotaan ke pembangunan pedesaan telah menimbulkan kesempatan baru di desa yang memunculkan dualisme ekonomi antara pembentukan megacities dan start-up pedesaan.

Tersalurkannya dana desa sebesar Rp 180 triliun dalam tiga tahun berturut-turut, disertai dengan pembangunan infrastruktur jalan desa sepanjang 121 ribu kilometer, berpotensi melahirkan shifting dari megacities ke perekonomian desa

Dan kelima, kemajuan dalam Revolusi Industri 4.0 yang berjalan begitu cepat telah melahirkan potensi ancaman baru bagi industri konvensional. Dibahas pula strategi corporate shifting yang tengah menjadi hot topics dalam perekonomian new normal. (uji/JPC/JPG)