Ribuan Nelayan Berhenti Melaut

0
1496
Perahu nelayan bersandar di pesisir pantai Muara Cibareno, Desa Cibareno, Kecamatan Cilograng, beberapa waktu lalu

WANASALAM – Cuaca ekstrem yang terjadi sejak awal tahun 2021 ini bukan saja menimbulkan sejumlah musibah, tetapi juga mengakibatkan ribuan nelayan di Kabupaten Lebak berhenti melaut.

Para nelayan lebih memilih untuk tinggal di rumah, mereka khawatir hujan yang disertai angin kencang mengancam keselamatan apabila memaksakan diri mencari iklan di laut.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Binuangeun Ahmad Hadi membenarkan, saat ini para nelayan sedang mengalami musim paceklik.

Kata dia, sudah lebih dari satu bulan, ribuan nelayan di Lebak selatan memilih tinggal di rumah. Mereka terpaksa bekerja serabutan menjadi kuli bangunan, tukang ojek, dan buruh tani untuk menutupi kebutuhan hidup mereka.

Namun demikian, kata Hadi, ada pula nelayan yang tetap memaksa diri mencari iklan, walaupun hasilnya kurang maksimal.

“Iya kang, sudah lebih dari satu bulan ribuan nelayan tidak melaut. Karena itu, nelayan di sini sedang menjalani musim paceklik,” kata Hadi kepada Radar Banten, kemarin.

Dia memastikan, kondisi angin kencang dan gelombang tinggi sangat membahayakan bagi para nelayan yang nekat berangkat mencari ikan ke laut.

Oleh karena itu, Pemerintah Daerah melalui pemerintah desa dan kecamatan selalu mengingatkan para nelayan untuk menghentikan sementara aktivitas mencari ikan di laut. Kecuali, kondisi cuaca sudah membaik, maka nelayan diperbolehkan untuk mencari ikan.

“Lebih baik di rumah memperbaiki alat tangkap ikan atau mencari pekerjaan lain yang lebih aman untuk menutupi kebutuhan hidup. Jangan memaksakan diri melaut, karena membahayakan jiwa para nelayan,” ungkapnya.

Hadi bercerita, setiap nelayan yang memaksakan diri pergi melaut hasilnya kurang optimal. Pendapatannya hanya cukup untuk menutupi biaya operasional.

“Hasilnya kurang, sehingga pasokan ikan ke TPI Binuangeun dan TPI lain di Lebak selatan sangat minim,” ujarnya.

Terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizki Pratama menyatakan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan dini gelombang tinggi pada 6 – 8 Februari 2021 di pesisir pantai Lebak selatan.

BMKG kemudian meneruskan informasi peringatan dini gelombang tinggi tersebut kepada perangkat pemerintahan di tingkat kecamatan dan desa. Tujuannya, agar mereka menyampaikan imbauan supaya nelayan tidak melaut untuk sementara waktu.

“Peringatan dini gelombang tinggi di pesisir Lebak selatan harus menjadi perhatian para nelayan. Jangan nekat melaut, karena kondisi cuaca sedang tidak bersahabat,” katanya.

Febby mengaku, telah menurunkan para relawan yang bertugas memonitor kondisi gelombang di wilayah Lebak selatan. Kemudian, para relawan itu melaporkan setiap peristiwa yang terjadi. Selanjutnya, koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah desa dan kecamatan agar penanganan setiap kejadian di lapangan bisa mudah dilakukan.

“Masyarakat nelayan kita imbau hati-hati dan waspada. Kalau tidak memungkinkan, jangan memaksa untuk pergi melaut. Saya kira, mereka lebih paham mengenai kondisi tersebut, karena puluhan tahun beraktivitas di laut,” katanya. (tur/zis)