Ribuan Rumah di Dua Kabupaten Terendam Banjir

0
1365
Dua orang korban banjir di Kampung Wantisari, Desa Wantisari, Kecamatan Leuwidamar, mengangkut sofa agar tidak rusak terendam banjir, kemarin.

LEBAK – Hujan deras dengan intensitas tinggi sejak Minggu (6/12) dinihari mengakibatkan banjir di Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Ribuan rumah di dua kabupaten itu terendam banjir dengan ketinggian air hingga satu setengah meter.

Banjir dan longsor di Kabupaten Lebak menerjang 14 kecamatan. Akibatnya, ada 1.200 unit rumah warga terendam, 29 rumah rusak, dan tiga santri terseret arus Sungai Cilangkahan di Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping.

Pantauan Radar Banten di Desa Wantisari, Kecamatan Leuwidamar, rumah warga di kampung tersebut terendam banjir dengan ketinggian air satu setengah meter lebih. Masyarakat mengungsi ke lokasi yang aman. Aparat kepolisian, TNI, dan relawan tangguh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak telah siaga di lokasi. Mereka membantu proses evakuasi warga terdampak banjir ke lokasi yang lebih tinggi.

Deni Tarudin, warga Wantisari mengatakan, banjir luapan Sungai Cisimeut merendam rumah di Kampung Wantisari. Untuk itu, warga mengevakuasi barang-barang berharga ke rumah kerabat yang tidak kebanjiran. Tapi, ada juga yang memilih bertahan di rumah lantai dua karena ingin menjaga harta benda miliknya.

“Air naik sekira pukul 10.00 WIB dan pukul 15.00 WIB mulai surut. Warga langsung membersihkan rumah dari lumpur,” kata Deni kepada Radar Banten, Minggu (6/12).

Banjir yang merendam pemukiman penduduk di Wantisari merupakan yang terbesar sejak 20 tahun. Banjir luapan Sungai Cisimeut dengan ketinggian mencapai satu meter lebih pernah terjadi pada tahun 2000 dan baru terjadi lagi kali ini.

“Ini siklus banjir 20 tahunan. Selama ini enggak pernah terjadi banjir dengan kondisi parah seperti sekarang,” jelasnya.

Deni mengungkap, tidak ada korban dalam musibah banjir di Leuwidamar. Banjir selain merendam ratusan rumah  juga menghanyutkan hewan ternak. “Ada laporan dari masyarakat yang kambingnya hanyut terbawa arus sungai Cisimeut,” ungkapnya.

Dadih, santri Pondok Pesantren Darul Ulum  Kampung Cigembrong, Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping, menyatakan, tiga santri Ponpes Darul Ulum terseret arus sungai ketika mandi di Sungai Cilangkahan 2. Dua santri yakni Saripudin (20) dan Andi (18) berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan di pohon bambu, sedangkan Muhamad Apud (17) hilang terbawa arus. Peristiwa tersebut terjadi pukul 12.30 WIB. Korban yang hilang masih dalam proses pencarian tim search and rescue (SAR) bersama masyarakat setempat.

“Iya, tiga santri sedang mandi di sungai. Tiba-tiba air datang cukup deras dan membawa hanyut ketiga santri. Dua orang selamat setelah berpegangan pohon bambu, sedangkan satu orang santri hilang,” terangnya.

Para santri terbiasa mandi di sungai. Bahkan kerap menyeberangi sungai ketika akan ke kampung sebelah. Tapi, saat kejadian arus sungai tiba-tiba besar dan menghanyutkan santri. “Mohon doanya semoga teman kami yang hilang cepat ditemukan,” harapnya.

Senada disampaikan Camat Malingping Cece Saputra. Kata dia, satu orang santri Ponpes Darul Ulum hilang akibat terseret arus Sungai Cilangkahan. Ia langsung menghubungi tim SAR dan pihak kepolisian untuk melakukan upaya pencarian. Dengan harapan, korban hilang yang merupakan warga Pandeglang cepat ditemukan.

“Tim SAR sudah melakukan penyisiran di bantaran Sungai Cilangkahan. Sampai sore hari korban belum ditemukan,” jelasnya.

Mantan Camat Wanasalam ini mengungkap, banjir luapan Sungai Cilangkahan di Malingping merendam 27 rumah di Desa Bolang dan Rahong. Kejadian tersebut sudah dilaporkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial (Dinsos) Lebak.

“Di Malingping ada 27 rumah yang terendam di dua desa yakni Desa Bolang dan Rahong. Untuk perkembangan selanjutnya akan terus kita update, sekarang kami masih di lapangan untuk memonitor kondisi debit air sungai,” paparnya.

RUSAK INFRASTRUKTUR

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak Febby Rizki Pratama mengungkap, dari laporan pemerintah kecamatan dan relawan tangguh BPBD Lebak, ada 14 kecamatan dan 37 desa yang terendam banjir dan longsor. Dengan rincian, 1.200 unit rumah terendam, 29 rumah rusak diterjang longsor, dan tiga orang hanyut di Sungai Cilangkahan.

“Banjir merendam ribuan rumah di Lebak, sedangkan longsor dan pergerakan tanah terjadi di  Kecamatan Muncang, Lebakgedong, Cirinten, dan Cipanas,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, banjir, longsor, dan pergerakan tanah mengakibatkan infrastruktur di beberapa kecamatan rusak. Jalan Leuwidamar-Muncang ambles sepanjang 10 meter, bangunan SDN 1 filial Sinarjaya, Muncang, rusak, Jalan poros desa Mekarmanik di Kecamatan Bojongmanik ambles sepanjang 10 meter, dan pilar utama jembatan gantung permanen Desa Sangiang-Bolang, Kecamatan Malingping, ambruk.

“Relawan bersama tim SAR dari BPBD, kepolisian, TNI sudah diterjunkan ke lokasi untuk membantu proses evakuasi. Di beberapa kecamatan, banjir sudah mulai surut dan masyarakat kembali ke rumah masing-masing,” terangnya.

Feby menginformasikan, kondisi wilayah kecamatan yang paling parah terdampak banjir yakni Kecamatan Banjarsari, Leuwidamar, dan Wanasalam. Di Kecamatan Banjarsari untuk sementara terdapat 419 rumah terendam di sembilan desa, Kecamatan Leuwidamar 373 rumah di lima desa, dan Kecamatan Wanasalam 153 rumah di empat desa.

“Untuk kondisi terkini Sungai Ciberang yang terpantau di pos pantau Jembatan Keong, ketinggian permukaan air mencapai 580 sentimeter di atas permukaan air laut dengan status awas,” tukasnya.

BANJIR PANDEGLANG

Sementara di Kabupaten Pandeglang, banjir menerjang beberapa kecamatan. Di Kecamatan Munjul merendam 10 rumah warga di Desa Munjul dan 3 hektare sawah.

Bupati Pandeglang Irna Narulita meninjau lokasi banjir dan menginstruksikan instansi terkait untuk membantu dan memberikan pertolongan kepada korban banjir.

“Saya instruksikan BPBD dan Dinas Sosial dan stakeholder terkait untuk secepat mungkin menyalurkan bantuan. Kita harus bergerak cepat membantu korban banjir, baik mengevakuasi warga, menyiapkan tempat penampungan, penyaluran bantuan dan lain sebagainya. Semuanya harus bertindak cepat agar kebutuhan korban terpenuhi,” kata Irna.

 Irna mengimbau masyarakat agar siaga dan waspada karena saat ini memasuki tahap musim penghujan dengan intensitas tinggi. “Kondisi ini tidak menutup kemungkinan berbagai bencana terjadi seperti banjir, longsor dan angin puting beliung, maka dari itu kita harus siaga dan waspada,” katanya. (tur-dib/alt)