Rob Menerjang Kampung Baru Dadap, Warga Tetap Bertahan

0
80

TANGERANG – Banjir rob yang melanda permukiman nelayan Kampung Baru Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang, belum menunjukkan tanda-tanda surut. Sebanyak 1.700 keluarga di sana tetap memilih tetap bertahan meski air laut sudah hampir sepekan merendam rumah mereka. Meski demikian, warga tetap menolak adanya penataan. Sikap ini yang membuat Pemkab Tangerang menahan diri untuk melakukan pembangunan tanggul.

Camat Kosambi Toni Rustoni menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang untuk menyiapkan perahu karet dan alat penyelamatan lainnya jika sewaktu-waktu air pasang semakin tinggi.

”Air laut sudah masuk rumah, tingginya hampir 70 centimeter tapi warga tetap bertahan. Saat Pemkab berencana buatkan tanggul, warga menolak. Mereka masih saja curiga ini kaitan dengan reklamasi. Padahal, kami sudah komit bahwa ini adalah penataan dan menanggulangi banjir rob,” terangnya.

Toni menyebut, banjir rob merupakan siklus tahunan dan biasa terjadi di pinggiran Muara Dadap dan sekitarnya. Meski penataan telah disosialisasikan, namun mereka belum mau dipindahkan. Disinggung mengenai penolakan, menurutnya di tengah kondisi begini, banyak warga Dadap yang meminta Pemkab Tangerang segera menanggulangi bencana ini.

”Sudah banyak warga yang meminta kami segera melakukan tindakan. Tapi nyatanya ada saja segelintir warga yang menolak. Baik dengan alasan ini-itu, kami kan jadi keteteran,” terangnya.

Senada, Lurah Dadap Fauzi mengatakan keselamatan dan kesehatan penduduk terancam jika banjir rob terus berlanjut. Masuknya air laut yang kotor ke perkampungan dikhawatirkan membawa bibit penyakit.

”Warga membutuhkan bantuan logistik dan perahu karet,” tuturnya. Banjir rob sudah lima hari merendam tiga RW, yakni RW 001, 002, dan 003, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Tokoh Masyarakat Dadap Haji Misbach mengatakan, pihaknya masih terus bertahan, meski air sudah mencapai paha di rumahnya di RW 02. ”Kami masih bisa bertahan, tapi harta benda banyak yang rusak, perabot, barang elektronik tak sempat diselamatkan,” ujarnya.

Dijelaskannya, air laut biasanya mulai masuk ke perkampungan pada siang hari. Menjelang tengah malam, ketinggian rob kembali susut seiring dengan siklus pasang surut air laut. “Sudah tiga hari ini siklusnya seperti itu,” ucapnya.

Warga mengeluhkan masih menunggu bantuan dari Pemkab Tangerang. Apalagi saat ini sejumlah anak-anak di lokasi banjir sudah mulai terserang berbagai penyakit. (Togar/RBG)