: Romli Husen (tengah) saat dihadirkan di Mapolres Serang Kota, Jumat (17/5).

SERANG – Romli Husen (32) tersangka pembunuhan terhadap ustaz Samsudin, warga Kampung Keramat, Desa Kaduagung, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, mengaku melakukan aksinya secara sadar.

Pelaku mengakui telah membunuh ustaz Samsudin setelah menjalani pemeriksaan di Mapolsek Pabuaran. Motif penganiayaan yang berujung kematian tersebut dikarenakan sakit hati tersangka terhadap korban. Namun demikian, tersangka belum menjelaskan penyebab sakit hati tersebut kepada polisi.

“Itu hanya bagian pemicunya saja (perceraian), pemicu utamanya yaitu sentimentil atau sakit hati kepada korban yang tidak menjadikannya murid utama saat mempelajari ilmu tarekat. Pelaku secara sadar melakukan aksinya itu,” ujar Kapolsek Pabuaran Ajun Komisaris Polisi (AKP) Yudha Hermawan saat ekspos di Mapolres Serang Kota, Jumat (17/5).

Meski sadar mengakui perbuatannya, kepolisian berencana melakukan pemeriksaan kejiwaan pelaku. Sebab pelaku sempat menyatakan mendapatkan bisikan untuk melakukan perbuatan yang menyebabkan ustaznya tewas ditangannya. “Secara fisik dia baik, tapi untuk kejiwaannya kita akan kosultasikan dengan dokter kejiwaan,” kata Yudha.

Kamis (2/4) lalu sekira pukul 04.00 WIB Romli mengamuk di dapur rumah korban. Amukan tersangka tersebut, membuat korban terbangun dari tidur. Dia pun kemudian menghampiri muridnya tersebut. Nahas, saat akan mencoba menenangkan tersangka, korban justru menjadi sasaran penganiayaan. Tersangka yang sudah memegang golok menebaskan senjata tajam (sajam) tersebut ke leher korban.

Tebasan tersebut mengenai leher korban. Setelah tebasan satu kali tersebut, warga Kampung Sindang Baru, Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang tinggal di Desa Luwuk, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang itu kemudian beberapa kali mengayunkan sajam tersebut ke tubuh korban. Korban sempat menangkis
dengan menggunakan tangan. Namun tak lama setelah itu korban terkapar
di lantai karena menderita luka parah di bagian leher dan banyak mengeluarkan darah. “Tersangka mengambil golok tersebut di dalam kamar korban,” kata Yudha.

Suara gaduh dari dapur tersebut membangunkan istri korban. Dia langsung menuju ke dapur dan melihat suaminya sudah terkapar. Spontan istri korban berteriak minta tolong. Teriakan tersebut terdengar oleh warga sekitar. Mereka kemudian bergegas mendatangi rumah korban. Saat melihat korban sudah terkapar, warga yang tersulut emosi lantas menganiaya tersangka hingga tidak sadarkan diri. “Tersangka kami tangani secara medis di rumah sakit (diobati-red),” ucap Yudha.

Sebelumnya motif penganiayaan terhadap korban tersebut dikarenakan tersangka menderita depresi karena digugat cerai oleh istrinya yang merupakan warga Luwuk, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang. Namun belakangan setelah korban sadar dari rumah sakit, penganiayaan tersebut bukan dikarenakan persoalan rumah tangga melainkan karena tersangka sakit hati terhadap korban. “Tersangka kami jerat dengan Pasal 351 ayat 5 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan yang menyebabkan korbannya meninggal dunia. Ancamannya 7 tahun penjara,” tutur Yudha. (Fahmi Sai)