RS Swasta Jadi Target Vaksin Palsu

Vaksin
Ilustrasi/Inet

SERANG – Peredaran vaksin palsu membuat resah kaum ibu yang memiliki anak di bawah lima tahun (balita). Lantaran itu Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Serang bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten dan Dinkes kabupaten kota membentuk tim khusus sejak Senin (27/6) untuk menelusuri peredaran vaksin palsu.

Tim khusus sebagai tindak lanjut pengungkapan jaringan pendistribusian vaksin palsu di Perumahan Puri Bintaro Hijau, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Tim ini sudah dibentuk sejak Senin (27/6).

Kepala Balai POM Serang Mohamad Kashuri mengatakan, pembentukan tim bertujuan untuk melakukan penelusuran terkait keberadaan vaksin-vaksin palsu di yang kemungkinan beredar di Banten. “Ini perintah dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) untuk menindaklanjuti pengungkapan jaringan distribusi vaksin palsu,” katanya di sela-sela acara konferensi pers terkait hasil pengawasan obat dan makanan di kantor BPOM Serang, Senin (27/6).

Tidak hanya itu, tim akan mendata para pasien yang telah menerima suntikan vaksin imunisasi palsu di Banten. Jika penelusuran telah rampung, pemerintah akan melakukan program vaksinasi ulang bagi para pasien tersebut. “Karena kualitas vaksin palsu itu tidak sesuai aslinya maka akan dilakukan program vaksinasi imunisasi ulang,” jelasnya.

Pengakuan Kashuri, pihaknya bersama Ditreskrimsus Polda Banten pada dasarnya telah membentuk tim dan pernah melakukan beberapa pengungkapan terkait vaksin imunisasi palsu dan ilegal. Pada 2013, tim telah menyita vaksin ilegal dengan nilai Rp150 juta. “Kami sita vaksinnya, lalu pelaku sudah divonis. Namun, karena vaksinnya memenuhi syarat hanya distribusinya yang salah maka hanya dikenakan denda,” tuturnya.

Pada 2014, tim mendapatkan temuan peredaran vaksin palsu, sayang pelaku berhasil kabur bersama barang bukti. Akhirnya pada awal 2016, tim kembali menemukan vaksin palsu di beberapa rumah sakit. Ini telah dikembangkan dan pelaku sudah ditangkap April lalu. “Mereka pedagang farmasi fiktif dan menyalurkan vaksin imunisasi fiktif. Kasus ini sudah masuk tahap penyidikan dan sudah tahap kesatu. Korelasinya dengan temuan Mabes Polri, kami belum tahu apakah memang ada atau tidak,” jelasnya.

Pada dasarnya, lanjut Kashuri, BPOM Serang telah melakukan penelusuran terkait peredaran vaksin imunisasi palsu tersebut. Hasil sementara, target peredaran sebagian vaksin-vaksin palsu ini yakni terhadap rumah sakit swasta. “Kami baru melakukan penelusuran di wilayah Tangerang Raya, sementara Serang dan Cilegon masih berlangsung. Di Tangerang Raya, vaksin-vaksin itu berada di rumah sakit-rumah sakit swasta. Kalau di rumah sakit umum daerah tidak ditemukan,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten M Yanuar membenarkan terkait pembentukan tim khusus. Selain melakukan penelusuran, tim ini juga akan melakukan pembinaan.“Tidak hanya rumah sakit, tapi juga klinik-klinik. Pembinaannya, beli vaksin itu jangan asal murah sebab kalau ada apa-apa bisa repot,” katanya.

Tim ini, lanjut Yanuar, akan mulai bergerak hari ini (28/6). Pihaknya akan mendata para pasien yang telah menerima vaksin palsu. “Kalau sudah terdata, rumah sakit atau klinik terkait yang diwajibkan melakukan vaksinasi ulang di bawah supervisi kami,” ujar Yanuar. (Sigit/Radar Banten)