Kata Een (35) nama samaran, Jebod (37) bukan nama sebenarnya ialah lelaki tampang pas-pasan yang bertindak tanpa dipikirkan. Entah ada masalah apa, Een begitu emosional menceritakan kisah lelaki yang ternyata, pernah menjadi suaminya itu. Oalah.

“Ya jadi dulu kita memang pernah berumah tangga. Tapi saya usia 21 tahun dan Kang Jebod 23 tahun, saya enggak bisa lagi terima kelakuan dia,” curhat Een kepada Radar Banten.

Een bercerita, semua berawal ketika ia lulus SMA. Bagai bidadari turun dari kayangan, Een yang sedari kecil tidak begitu menarik perhatian lelaki lantaran berpenampilan ala kadarnya dan belum bisa dandan, tiba-tiba saja hadir dengan penampilan baru yang lebih modis dan tampak dewasa.

Berbekal motivasi tinggi ingin menjadi wanita paling cantik di antara teman-temannya, Een tak peduli jika harus mengeluarkan banyak biaya untuk pergi ke salon dan membeli baju-baju baru. Maklumlah, meski tarlihat sederhana, sebenarnya ia termasuk wanita yang terlahir dari keluarga berada.

Sang ayah yang memiliki usaha kuliner di Jakarta dan Tangerang, sejak muda memang tak pernah menghambur-hamburkan uang untuk kepuasan sementara. Menerapkan pola hidup sederhana dan apa adanya, mereka keluarga bersahaja di salah satu kampung di Pandeglang.

Setelah ditelusuri, wajar saja, ternyata Een anak ketiga dari empat bersaudara dan wanita satu-satunya. Apa yang diminta, pasti dituruti kedua orangtua. Sampai Een meminta kendaraan pribadi sekalipun, ayahnya membelikan motor untuk sang buah hati tercinta.
Hingga suatu hari, apa yang dilakukan Een tidak sia-sia. Dengan penampilan baru yang lebih menggoda, banyak lelaki datang mendekat. Mulai dari teman seusia sampai yang lebih tua, berlomba-lomba mendapatkan cintanya. Berbagai usaha pun dilakukan, ada yang diam-diam meminta nomor telepon, mengirim surat, bahkan ada juga yang nekat datang ke rumah. Widih, keren amat.

Singkat cerita, dari sekian banyak lelaki yang berlomba mendapatkan Een, akhirnya, seperti apa yang dialami banyak wanita pada umumnya, ia harus memilih satu lelaki pujaan hati yang menurutnya paling baik di antara yang terbaik. Tak disangka, lelaki itu ialah Jebod.

Berpenampilan keren dengan gaya ala-ala orang kaya, ia sukses meyakinkan Een sehingga memilihnya. Singkat cerita, seiring bertambahnya usia, banyak teman-teman Een mengakhiri masa lajang, setiap kali kondangan berdua, selalu saja ada yang menanyakan kapan menyusul? Mungkin karena hal itulah, setelah lulus SMA, Een dan Jebod ngebet ingin segara menuju pelaminan.

Apa mau dikata, lagi-lagi, sambil merengek di hadapan sang ayah, Een meminta segera dinikahkan. Meski awalnya tidak disetujui, namun berkat lembutnya hati sang ibu yang tak tega melihat buah hati tersiksa, keluarga besar pun mengabulkan permintaan Een.
Tak lama kemudian, datanglah Jebod beserta keluarga besar melamar sang kekasih hati. Een yang malam itu mengenakan kebaya putih dengan kain batik, membuat siapa pun terkagum-kagum melihatnya. Apalagi ketika bersanding dengan Jebod yang berkemeja dengan celana bahannya, mereka tampak serasi bak raja dan ratu.

Selesai acara lamaran, kedua keluarga saling berunding untuk menentukan tanggal pernikahan. Sebulan kemudian, persta pernikahan pun dilaksanakan. Tamu undangan dari berbagai kalangan turut memeriahkan. Mengikat janji sehidup semati, Jebod dan Een resmi menjadi sepasang suami istri.

Namun apalah daya, pesta yang jadi hari bersejarah bagi Een itu, nyatanya hanya menjadi kenangan penuh luka. Baik keluarga pihak wanita maupun mempelai pria, sama-sama tak menyangka hal mengerikan itu terjadi pada rumah tangga Een dan Jebod. Oalah, memangnya kenapa sih Teh?

“Hmm, saya kalau inget kejadian itu suka sedih, Kang. Ya semoga hal yang saya alami enggak terjadi ke calon pengantin di mana pun. Perih rasanya!” keluh Een.

Saat bercerita pada tahap ini, memang ada yang berbeda dari sikap Een. Meski tidak sampai menitikkan air mata, dari raut wajahnya, Een memang tampak tak bergairah menceritakan kisah masa lalunya ini. Namun mengaku ingin berbagi pengalaman atas apa yang dialami, ia pun melanjutkan kisahnya.

Tiga hari setelah pernikahan, semua tampak biasa dan tak ada yang aneh. Baik Een atau Jebod masih terlihat bahagia menyandang status pengantin baru. Bersikap manja seolah menunjukkan keromantisan, mereka merasa dunia hanya milik berdua. Orang lain mengontrak. Hehe.

Namun apalah daya, malamnya, saat hendak tidur melepas lelah mengurus hal-hal sisa pesta yang perlu diselesaikan, Jebod tak henti-hentinya menerima telepon dan pesan singkat dari seseorang yang Een sendiri tak tahu siapa. Wajahnya berubah pucat. Ketika ditanya, Jebod menghindar. Anehnya, malam itu juga, ia pergi dari rumah. Aih, kenapa sih, Teh?

“Saya juga waktu itu enggak tahu, Kang. Dia main pergi gitu saja. Saat itulah saya dan keluarga mulai curiga,” kata Een.

Akhirnya, apa yang ditakutkan pun terjadi juga. Tiga hari setelah kepergian suami, datanglah utusan dari keluarga Jebod menyampaikan permohonan maaf. Mendengar pengakuannya, Een mengaku seperti tertusuk tombak tepat di ulu hati. Ternyata, sebelum pesta pernikahan, sang suami sudah menjalin hubungan terlarang dengan wanita lain.

Saat itu juga, seluruh keluarga Een murka dan menganggap Een dan Jebod resmi bercerai. Meski berusaha menutup-nutupi masalah demi menjaga nama baik keluarga, namun akhirnya, hal itu menyebar cepat di masayarakat kampung. Sebulan lebih Een tak berani keluar rumah.

Beruntung, setahun kemudian, setelah kembali aktif bergaul dan melupakan kenangan pahit masa lalunya, Een dipersunting lelaki tampan tetangga kampung. Hingga saat ini, ia hidup bahagia dengan dua anaknya. (daru-zetizen/zee)