Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama Arfi Hatim. Foto: Kemenag

JAKARTA – Kementerian Agama meminta kepada seluruh calon jemaah umrah pada saat mendaftar ke Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau biro travel agar membuat surat perjanjian tertulis. Hal ini dilakukan sebagai jaminan untuk kepastian keberangkatannya.

“Harus juga ada perjanjian tertulis kedua belah pihak, didalamnya harus jelas kapan berangkatnya,” Kata Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama Arfi Hatim saat menjadi pembicara dalam Dialog Umrah di Rumah Sakit Haji Jakarta. Kamis (15/3), sebagaimana dilansir Kemenag.

Menurut Arfi, dari banyaknya kasus penipuan agen travel umrah, dapat disimpulkan bahwa modus yang paling banyak digunakan adalah menawarkan biaya murah. Harga di bawah Rp20 juta yang ditawarkan biro-biro nakal untuk keberangkatan umrah sangat tidak logis.

“Penerbangan dari Jakarta ke Jeddah itu kalau low season saja Rp12-13 juta ini harus diketahui, belum biaya lainnya,” ujar Arfi.

Arfi juga menjelaskan, beberapa kewajiban yang harus dilakukan oleh agen travel kepada jemaah, antara lain memberikan fasilitas manasik minimal satu kali serta transportasi untuk jamaah. Selain itu, jemaah juga harus menerima akomodasi hotel yang tidak terlalu jauh jaraknya dari Masjidilharam, Makkah.

Berdasarkan ketentuan Kemenag, maksimal jarak yang dibolehkan untuk jemaah umrah adalah 1 Km. Katering juga berupa prasmanan,bukan nasi kotak. Jemaah juga wajib didampingi pembimbing yang ahli dibidangnya.

Saat ini, Indonesia tercatat pangsa pasar umrah terbesar di dunia. Tren masyarakat menunaikan umrah juga terus meningkat. Pada 2016 ada 700.000 jemaah, kemudian meningkat menjadi 870.000 jamaah setahun berikutnya. Tahun ini diperkirakan akan ada 1 juta warga Indonesia yang berangkat umrah.

“Kami prediksi jamaah bisa mencapai 1 juta orang,” ujar Arfi. (HA/Kemenag/Aas)