Saat Pandemi Covid-19 Belum Berakhir, Budidaya Lele di Kramatwatu Tetap Produktif

Kasi Ekbang Kecamatan Kramatwatu Mamak Abror (kiri) mengunjungi peternak budidaya ikan lele di Kampung Krapcak, Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu, Senin (14/9).

Di tengah kemerosotan ekonomi, budidaya ikan lele menjadi alternatif dan solusi sebagai sumber penghasilan. Seperti para peternak lele di berbagai wilayah di Kabupaten Serang. Meski pandemi Covid-19, mereka tetap produktif dan menghasilkan keuntungan.

Haidar – Serang

Melirik pelaku usaha peternak budidaya lele di Kampung Krapcak, Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu, Senin (14/9), Radar Banten bersama Kepala Seksi (Kasi) Ekonomi Pembangunan Kecamatan Kramatwatu Mamak Abror bertemu dengan Ridwan. Ia adalah seorang pegawai swasta yang banting setir menjadi peternak lele sekira sejak lima tahun lalu.

Di samping rumah, di lahan seluas 100 meter persegi, ia membuat belasan kolam lele yang dikelola bersama keluarga besar. Menurut lelaki berkumis itu, daya tahan lele yang kuat untuk hidup di segala kondisi serta diminati banyak orang membuat budidaya lele lebih menguntungkan.

Sekali panen, dalam waktu dua atau tiga bulan, Ridwan bisa meraup keuntungan sekira jutaan rupiah. Ia mengaku, konsumen ikan lele tak pernah berkurang, terutama para pengusaha warung pecel lele yang selalu datang setiap dua hari sekali untuk membeli stok lele. “Alhamdulillah, peminatnya ada aja,” ujar Ridwan kepada Radar Banten.

Di Kampung Krapcak, setidaknya ada empat pelaku usaha budidaya ikan lele. Jika ditotal kurang lebih ada 26 kolam ikan yang biasa digunakan untuk usaha masyarakat baik pembenihan maupun pembesaran ikan. Namun, Ridwan dan peternak lele lainnya mengakui masih ada kendala seperti saat musim kemarau yang sulit mendapatkan air.

Padahal, untuk budidaya ikan tersebut sangat membutuhkan banyak air yang kondisinya baik dan sehat agar sirkulasi cukup memadai. Apabila dipaksakan melanjutkan budidaya lele dengan kondisi volume air minim, kemungkinan ikan tersebut akan sakit dan bisa jadi akhirnya akan mengalami dampak kerugian yang cukup signifikan. “Paling kita mengandalkan dari zet pump dan pasti berimbas pada peningkatan bayar listriknya,” keluh Ridwan.

Sementara itu, Kasi Ekbang Kecamatan Kramatwatu Mamak Abror menambahkan, para peternak lele juga kadang merasa kesulitan mencari bibit ikan dan pakan. Solusi yang dilakukan peternak biasanya menggunakan pakan alami seperti cacing sutra atau pelet.

Abror menilai, potensi kegiatan usaha ekonomi masyarakat dengan budidaya lele ini sangat baik dan patut dicontoh. Karena menurutnya, melalui usaha sektor peternakan inilah prekonomian dapat terus bergerak walaupun dampak covid betul-betul dirasakan warga. “Jangan jadikan covid sebagai alasan untuk malas berusaha, tapi harus jadi acuan untuk lebih giat dan kreatif seperti peternak lele ini,” ungkapnya.

Terpisah, kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Serang Suhardjo mengatakan, sudah menyediakan kawasan pembenihan ikan tawar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Benih Ikan (BBI) di Desa Panyirapan, Kecamatan Baros. “Ini program yang sudah berjalan bagus, banyak pembudidaya lele yang menjalankan usahanya berjalan lancar,” kata Suhardjo.

Selain itu, ia juga sudah membentuk UPR (Unit Pembenih Rakyat) di daerah yang sulit mendapatkan air yakni tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Pabuaran, Ciomas, Padarincang, Cinangka, Gunungsari, Kramatwatu, Pamarayan Cikeusal, Petir dan lainnya. Para peternak lele diimbau menggunakan sistem bioflok, teknik ini mennggunakan bantuan mikroorganisme seperti bakteri heterotrof dan fitoplankton. “Tujuannya untuk meningkatkan kualitas air kolam,” ujarnya.

Dijelaskan Suhardjo, pihaknya juga menyediakan wadah komunikasi bagi pembudidaya baik teknis, tentang pakan, informasi harga, pengolahan sampai informasi pasar melalui Unit Pembinaan Pengembangan (UPP). “Buat warga yang mau belajar tata cara budidaya lele juga bisa magang di sana,” ungkapnya. (mg06/alt)