Saat WFH, Ibu Bijak Bisa Mengatur Anggaran Keluarga

Ilustrasi uang (Pixabay).


Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) belum usai sehingga kita masih harus tetap bekerja di rumah dan menjaga jarak. Jika saat ini Anda harus bekerja dari rumah sekaligus mengatur rumah tangga, jangan jadikan hal ini sebagai beban tetapi tantang diri Anda bahwa jika ibu lain di luar sana bisa maka Anda pun pasti bisa.

Saat work from home (WFH), sebagai ibu, Anda tentu diharapkan dapat menjadi andalan terutama soal mengatur angggaran keluarga. Sebenarnya, saat WFH bisa lebih berhemat karena tidak ada biaya transportasi, makan siang, atau pun kongko bersama teman di kafe usai jam kantor. Namun pada kenyataannya, banyak ibu yang mengeluhkan justru banyak pengeluaran saat WFH dan mereka khawatir tidak cukup uang hingga gajian berikutnya.

Regional Head of Agency Development Sequis, Fourrita Indah mengatakan, permasalahan mengatur keuangan dihadapi oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang bertanggung jawab mengatur keuangan keluarga. Dalam hal ini biasanya oleh ibu. Permasalahan, ibu bekerja belum tentu lebih ringan dari mereka yang tidak bekerja. Malahan banyak ibu rumah tangga yang kreatif menggunakan keahliannya untuk menambah penghasilan keluarga, memanfaatkan jejaring mereka di lingkungan, sekolah anak, atau teman di media sosial untuk menjadi konsumennya.

“Justru ibu yang bekerja dengan penghasilan tetap terkadang bingung mengatur keuangan. Kuncinya adalah pengeluaran tidak boleh lebih banyak dari pendapatan tiap bulan,” kata Fourita dalam keterangan tertulis, Senin (20/4).

Artinya, ibu bekerja harus disiplin membelanjakan uangnya dan mampu memilah mana kebutuhan yang harus menjadi prioritas, mana yang bisa ditunda, dan yang tidak perlu dibelanjakan. “Apalagi jika mereka memiliki anak. Jangan sampai anak mengira bahwa ibu adalah sumber uang yang tidak terbatas untuk memenuhi keinginan mereka,” sebut Fourita.

Keuangan dirasa tidak cukup bisa terjadi saat WFH, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan memenuhi keinginan anak untuk menyenangkan mereka. Perlu kita ingat anak mudah merasa bosan dan mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di media sosial atau mendengar keseruan dari teman-temannya sehingga ajarlah anak bahwa penting hidup sederhana dan tidak meniru orang lain.

Penyebab lainnya adalah panic buying. Para ibu mulai belanja karena takut kehabisan barang di supermarket atau dalih agar anak tidak rewel sehingga persediaan rumah tangga perlu diperbanyak. Ini tidak salah karena dengan memiliki persediaan berarti mengurangi saat harus keluar rumah, tetapi sesuai kata kunci yang disampaikan Fourrita bahwa pengeluaran tidak boleh lebih dari pendapatan. Belanja lebih daripada yang kita butuhkan sama dengan menghabiskan uang tunai sebelum waktunya atau menumpuk utang di kartu kredit yang akan menjadi beban tambahan di bulan depan.

Fourrita menyarankan para ibu untuk belajar dari Kartini, yaitu memanfaatkan masa WFH untuk belajar dan mengevaluasi diri apakah sudah cerdas dalam mengatur keuangan. Adapun Kartini pada masanya harus dipingit karena terbentur oleh kebiasaan dan tradisi, tetapi semangatnya untuk belajar tidak surut meskipun ditentang oleh ayahnya sendiri. Ia menghabiskan waktu dengan membaca hingga memiliki pengetahuan dan mampu menyampaikan perhatiannya pada dunia soal kehidupan perempuan termasuk mengkritisi masalah sosial dan kesetaraan hukum yang tidak dimiliki perempuan pada masa itu.

Katanya, jika Kartini tahu bagaimana memanfaatkan waktu saat dipingit maka kisah dan semangat Kartini bisa menjadi inspirasi kita perempuan modern, terutama saat kondisi pandemi Covid-19, yaitu mengubah pola pikir bahwa saat ini kita bukan sedang terjebak (stucked), tetapi sedang menyelamatkan diri dan anggota keluarga dari risiko terkena sakit. Tinggal bagaimana saat WFH dengan penghasilan yang ada, kita mampu mengaturnya agar cukup memenuhi kebutuhan dan dapat memanfaatkan waktu untuk tetap produktif.

“Gunakan penghasilan semaksimal mungkin untuk hal-hal yang prioritas dahulu, termasuk membayar cicilan dan premi asuransi sebelum jatuh tempo. Jika sudah memenuhi semua biaya bulanan yang wajib, seperti cicilan, premi, biaya sekolah anak, tagihan rumah tangga, seperti listrik, keamanan barulah Anda bisa memenuhi keinginan gaya hidup agar tetap bisa menikmati saat WFH bersama keluarga,” ungkapnya.

Membayar cicilan adalah kewajiban debitur. Ini harus Anda penuhi dan tidak bisa ditunda. Jika cicilan Anda adalah kartu kredit, bayarlah sesuai besar tagihan bukan cicilan minimum karena cicilan minimum hanya akan menambah utang di bulan mendatang yang terdiri dari tagihan bulan berjalan, sisa tagihan bulan sebelumnya berikut bunganya.

Demikian juga jika memiliki asuransi maka bayar juga preminya sebelum jatuh tempo agar polis tetap aktif. Risiko jika telat membayar premi maka premi akan dibebankan di bulan berikutnya sehingga pengeluaran di bulan depan pun akan bertambah. Jika terus menunda akan berisiko polis menjadi lapse atau tidak aktif yang akan merugikan Anda sendiri. Apalagi, di masa seperti ini asuransi adalah andalan keluarga jika terjadi risiko gangguan kesehatan.

Setelah semua kewajiban biaya bulanan rutin terpenuhi mulailah berhemat. Salah satunya dengan masak sendiri. Masak makanan kesukaan bersama anggota keluarga. Selain menyenangkan, juga melatih hidup hemat. “Berhemat bukan berarti kita tidak mampu membeli, berhemat berarti kita menjaga keuangan agar tetap stabil di masa sulit dan berkesempatan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” kata Fourrita. (aas)