Sabar dan Lembut Bikin Istri Manut  

0
230

Minah (62) nama samaran mengaku, sudah merasa sempurna hidup di dunia dengan sang suami tercinta, sebut saja Plaud (65). Hidup sederhana dengan tiga anak yang mulai tumbuh dewasa, mereka pasangan suami istri yang selalu terlihat ceria.

Mengaku sering mendapat perhatian dan kasih sayang, Minah tak pernah termakan omongan orang tentang kelakuan lelaki yang sering terjadi di acara gosip televisi. Menganggap enteng semua persoalan dengan menghadapi penuh ketenangan, baik Minah maupun Plaud selalu bisa menciptakan kenyamanan satu sama lain. Widih.

“Ya saya sih sama suami santai-santai saja. Yang namanya masalah mah banyak, tapi kan enggak harus dihadapi pakai emosi,” ungkapnya kepada Radar Banten.

Namun meski selalu menunjukkan sikap santai, setelah ditelusuri, MInah pun mengaku, kalau dahulu ia juga termasuk orang yang gampang marah dan membentak suami. Katanya, emosinya bahkan melebihi wanita yang sedang PMS (premenstruasi syndrome). Tapi, semua sifatnya itu hilang setelah terjadi suatu peristiwa yang dialami bersama sang suami. Wih, peristiwa apa itu, Teh?

“Hmm, kejadiannya sudah lama banget, Kang. Awal-awal nikah sih, ya dulu saya memang saya masih harus banyak belajar buat jadi istri yang baik,” curhatnya.

Seperti diceritakan Minah, Plaud yang dikenalnya tak lama sebelum putus dengan sang mantan, memang terkenal ramah dan cepat bergaul. Memiliki banyak teman mulai dari yang seusia sampai jauh di atasnya, Plaud kerap menjadi pusat perhatian ketika tengah berkumpul bersama masyarakat kampung.

Terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja dan ibu pengrajin kue rumahan, Plaud memiliki masa muda berwarna. Ya, meski dari segi ekonomi biasa saja, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Tak heran, ketika sudah berumah tangga, Plaud kerap bercengkrama dengan wanita tetangga rumah atau teman lama. Oalah, wah bahaya itu Teh!

“Ah kalau untuk urusan itu sih saya enggak masalah, saya yakin dia setia. Itu mah sudah kita bicarakan dan saling mengerti,” kata Minah.

Minah sendiri bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga sederhana, tapi karena status sang ayah sebagai tokoh masyarakat, ditambah sosoknya yang manis dan menarik, membuat orang-orang menaruh hormat padanya. Tidak sembarang melayangkan rayuan gombal, para lelaki di kampung mengagumi secara diam-diam.

Memiliki tubuh ideal dengan kulit nan putih, tak membuat Minah sombong kepada para pemuda kampung. Kerap menebar senyum dengan sapaan hangat, Minah menjadi wanita incaran banyak pria. Katanya, dulu sampai ada yang datang ke rumah membawa bunga. Widih, romantis amat ya.

Sampai usia beranjak dewasa, lantaran desakan orangtua dan sindiran teman-teman yang sudah lebih dulu menikah, Minah mengalami masa-masa sulit dalam mencari pendamping. Cantik dan baik saja ternyata tak cukup membuatnya mudah mencari lelaki yang pas.

“Ya waktu itu tuh saya benar-benar merasa tertekan. Pokoknya kemana-mana, apalagi pas dateng ke acara nikahan, itu pasti ada orang yang nanyai kapan nikah. Kan kesel,” curhat Minah mengenang masa lalu.

Namun kesedihan itu tak berlangsung lama. Bagai menjawab doa Minah yang sering menitikkan air mata di tengah malam. Tuhan menghadirkan sosok Plaud sebagai ksatria yang menyelamatkan Minah dari belenggu tekanan atas pertanyaan pernikahan. Ditemani ayah serta paman yang ternyata kenal dekat dengan ayah Minah, Plaud percaya diri melamar sang wanita idaman.

Meski awalnya sempat ragu, namun Minah tak bisa berbuat banyak lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau. Maka seolah tak menunggu waktu lama, pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Minah dan Plaud resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, tidak seperti pasangan baru pada umumnya, Plaud tampak tak begitu canggung kepada keluarga sang istri. Santai dan banyak bicara, ia pandai mencuri hati. Berbaur dengan ayah mertua sampai ke pembantu rumah tangga, Plaud menunjukkan sosok hangat dan ramah.

Tapi yang namanya rumah tangga, pasti tak lepas dari urusan ekonomi. Parahnya, keadaan semakin diperparah dengan sindiran dan cacian dari bibi dan saudara sang istri yang membanding-bandingkan Plaud dengan manantu-manantu yang lain. Bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan swasta di Kota Serang, Plaud berjuang meraih kebahagiaan istri.

“Ya waktu itu saya sempat kemakan omongan bibi dan saudara yang mungkin bikin Kang Plaud sakit hati,” akunya. Kemakan omongan gimana maksudnya, Teh?

“Ya gitu, saya sering marah-marah. Terus ngebentak bahkan enggak ngomong sampai berhari-hari sama suami,” terang Minah.

Hingga peristiwa menegangkan itu terjadi. Berjalan dua tahun usia pernikahan, Minah dan Plaud dikaruniai anak pertama. Bayi laki-laki yang lucu dan menggemaskan, menjadi alasan Plaud dan sang istri untuk lebih harmonis lagi. Namun apa mau dikata, di balik kebahagiaan yang terpancarkan, ada kesedihan sekaligus tekanan yang datang bak anak panah menembus jantung.

Di sore yang teduh, Minah dan Plaud melaksanakan acara akikah sang buah hati tercinta. Mengundang masyarakat untuk turut mendoakan tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lantaran tak ada tabungan, Plaud pun meminjam uang kepada beberapa teman dan tetangga.

Meski dengan perayaan sederhana, acara sore itu terlaksana dengan lancar. Semua tamu undangan turut berbahagia menyambut anak Plaud yang sudah diberi nama. Menjelang malam, giliran seluruh anggota keluarga berkumpul sambil bercengkerama.

Namun kehangatan malam itu berubah panas ketika salah seorang saudara yang memang suka menyindir mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Apa mau dikata, di tengah keletihan seharian mempersiapkan acara, Minah pun terpancing dan meluapkan amarahnya. Waduh, memang dia ngomong apa sih, Teh?

“Masa dia bilang, duh anak ganteng-ganteng gini tapi kok dinamainnya pakai uang boleh minjem. Ini orangtuanya pada enggak becus amat, ya!” kata Minah meniru ucapan sang saudara.

Dibentaknya sang saudara sambil mengangkat satu tangan. Tak mau kalah, karena merasa usia lebih tua, saudara Minah balas membentak. Keributan pun tak dapat dihindari. Adu mulut kedua wanita itu membuat riuh suasana. Beruntung beberapa orang bisa melerai, sang saudara pun pergi dengan gerutuan yang membabi buta.

Parahnya, seolah belum puas akan keributan yang terjadi, Minah berbalik menyalahkan suami. Ia mengamuk dan memukuli tubuh Plaud. Namun hebatnya, seolah memahami kemurkaan sang istri, Plaud diam tak bereaksi. Ia membiarkan Minah puas melampiaskan emosi.

Hingga sang istri kelelahan memukuli, barulah Plaud merangkulkan kedua lengannya ke tubuh sang istri. Sambil berbisik lembut, ia mengucap kata sabar dan meminta maaf. Sejak saat itu, Minah pun terdiam, pikiran dan perasaannya hanyut dalam belai kelembutan sang suami.

Dua minggu kemudian, Plaud memutuskan pindah ke rumah kontrakan sederhana. Minah pun menurut dengan membawa serta sang buah hati tercinta. Dengan usaha dan kerja keras, sepuluh tahun kemudian, mereka berhasil membangun rumah. Kini Plaud dan Minah hidup bahagia.

Ciye, selamat ya Kang Plaud dan Teh Minah. Semoga sejahtera dan langgeng selamanya. Amin (daru-zetizen/zee/ags)