Saham Bank Banten Mentok Rp50

0
2.484 views

SERANG – Nilai saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) tidak mengalami pergerakan sejak pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten berkode saham BEKS itu nilainya hanya Rp50 per lembar. Nilai terendah di pasar modal.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Provinsi Banten Muhammad Fadil Fatah mengatakan, nilai saham seperti itu (Rp50-red) dalam istilah pasar modal sering disebut saham tidur karena tidak ada pergerakan. “Saham terendah di pasar modal reguler,” katanya kepada Radar Banten, Rabu (29/1).

Menurutnya, biasanya nilai saham yang tidur seperti Bank Banten, karena kinerja perusahaan kurang baik dan perusahaan tersebut terus merugi sehingga minat investor berkurang.

“Bukan hanya Bank Banten yang nilainya rendah, tapi juga ada emiten lain, seperti MNC Bank,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, nilai saham itu bisa lebih rendah ketika masuk dalam tahap negosiasi. Di BEI, ada pasar saham reguler dan pasar saham negosiasi. Di negosiasi berlaku untuk semua emiten. Pasar negosiasi itu biasanya jika ada investor yang ingin membeli dalam jumlah besar. 

“Nilainya pada 28 Januari 2020, nilai saham negosiasinya lebih rendah, yakni Rp15,” ungkapnya.

Meski saham Bank Banten saat ini terparkir dengan nilai terendah, ia berharap saham perbankan daerah tersebut bisa ada pergerakan. Jika kinerjanya sudah bagus, biasanya banyak investor yang tertarik menanamkan modal.    

“Mudah-mudahan kinerjanya semakin lebih baik,” katanya.

Mengenai volume transaksi saham BEKS, karyawan Indopremier Sekuritas Dinda mengungkapkan, pada 29 Januari 2020, jumlah transaksi BEKS cukup banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya yang mencapai 124 lot. Setiap satu lot terdiri dari 100 lembar saham. Dari 124 lot perdagangan tersebut dengan nilai Rp620.000. 

“Karena nilainya kecil ada di posisi terendah,” katanya.

Ia mengatakan, banyaknya transaksi karena dalam waktu dekat perbankan daerah tersebut akan menggelar RUPS pada 26 Februari 2020. Selain itu, pada 29 Januari 2020 merupakan batas terakhir investor yang ingin mengikuti RUPS Bank Banten.

“Salah satu persyaratan untuk mengikuti RUPS harus menjadi investor. Kalau tidak RUPS jarang ada yang beli,” katanya.

Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi Banten Hadi Sujipto mengatakan, kinerja Bank Banten memang masih menjadi sorotan. Pemerintah Provinsi Banten harus tetap support untuk mengawal dan mengembangkan bank daerah agar terus meningkatkan kinerjanya. 

“Sementara Bank Banten harus terus berinovasi dan berhati-hati dalam berinvestasi untuk mendapatkan kepercayaan stakeholder,” katanya. (skn-den/alt/ira)