Ini kisah penuh drama dan air mata. Sang lelaki, sebut saja Baong (56), yang mengaku pernah menjalani rumah tangga bersama Eyah (54), nama samaran, kini hanya bisa menelan pahitnya penyesalan. Ya, di balik sosoknya yang selalu terlihat ceria dan semangat, siapa sangka, masa lalunya penuh luka. Aih, memangnya ada apa sih, Kang?

“Hehe, ya setiap orang pasti punya pengalaman pahit di hidupnya. Waktu itu kejadiannya pas saya usia 39 tahun dan Eyah 37 tahun,” terang Baong kepada Radar Banten.
Seperti diceritakan Baong, ia warga asli di salah satu kampung di Kabupaten Tangerang. Terlahir dari keluarga sederhana, tak kaya tapi tak bisa dianggap miskin juga, Baong tumbuh menjadi lelaki yang penuh motivasi dalam meraih sesuatu.

Hebatnya, meski kesehariannya tak terlalu susah dalam hal ekonomi karena sang ayah berprofesi sebagai guru dan ibu berjualan, Baong kecil sudah dididik menjadi pengusaha.

Ya, katanya, di saat teman-temannya asyik bermain, ia justru berjualan es keliling buatan sang ibu. Subhanallah.

Baong bercerita, mulai dari situlah, ketika ia sudah mampu mencari uang sendiri di usia masih belia, keinginan menjadi pengusaha itu tertanam dalam dirinya. Terbukti, ketika beranjak dewasa, Baong mencoba meningkatkan penghasilan dengan berjualan makanan di areal sekolah.

Tak hanya itu, ia juga membuka warung peralatan sekolah seperti pulpen, buku, dan lain-lain. Namun lantaran tak sanggup membayar biaya sewa ruko, akhirnya bisnis tak bertahan lama. Mencoba beberapa usaha lainnya, tetapi kegagalan terus-menerus menghampiri.

Tapi, bukan Baong namanya kalau menyerah pada keadaan. Ia terus berdagang dan berdagang, sampai usia beranjak dewasa, bisnisnya belum juga menemukan jalan mulus. Hingga akhirnya ia tak bisa membantah kemauan orangtua, Baong pun mengakhiri masa lajang dengan menikahi wanita anak rekan sang ayah, wanita itu tak lain adalah Eyah.

Dengan pesta pernikahan sederhana, Baong dan Eyah resmi menjadi sepasang suami istri. Lantaran mereka tak mengenyam pendidikan formal, terpaksa Baong berjuang memenuhi ekonomi dengan kerja serabutan. Berdagang apa saja yang penting halal, ia bekerja keras mencari nafkah.

Beruntung, Baong mendapat istri yang selalu mengerti keadaan suami. Eyah tak pernah lelah menemani meski kesulitan ekonomi menghampiri. Sampai dua tahun kemudian, mereka dianugerahi anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Dan mungkin benar kata pepatah yang mengatakan, banyak anak banyak rezeki, sejak kelahiran sang buah hati, lantaran Eyah asli Serang, Baong diminta orangtua sang istri pindah dan diberi satu ruko di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Serang.

Dua tahun kemudian lahirlah anak kedua. Sejak saat itu, seolah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi orang kaya. Karena keuletan dan kejujuran dalam berdagang, Baong diberi kepercayaan oleh para pelanggannya. Otomatis, usahanya pun berjalan lancar. Widih, memang usaha apa sih, Kang?

“Ya waktu awal-awal sih sempat coba jual perabotan, terus ganti sembako, tapi akhirnya ya balik lagi, rezekinya di jualan lemari, kasur, dan barang-barang rumahan gini,” kata Baong.

Ekonomi meningkat, Baong dan Eyah mulai dipandang masyarakat. Mengumpulkan uang dan terus bekerja keras, ia sanggup membeli kendaraan pribadi dan membangun rumah. Pokoknya, waktu itu ia dianggap orang kaya baru di mata masyarakat kampung.

Namun, lagi-lagi, mungkin ini cara Tuhan menguji Baong dalam menjalani hidupnya. Masalah satu selesai, timbul lagi masalah baru. Kejamnya dunia bisnis, bukan hanya berbicara untung rugi, tapi juga persaingan sesama pedagang yang terkadang menghalalkan berbagai cara untuk menjatuhkan. Aih, kenapa, Kang?

“Ya memang, sebelum saya tempati ruko, di sampingnya tuh ada yang usaha perabotan juga. Mungkin pas ada ruko saya, pelanggan dia pada lari ke ruko saya. Tapi, jahatnya, dia tega fitnah saya,” ungkap Baong. Aih, fitnah bagaimana, Kang?

Baong pun mulai bercerita. Siang itu, sang pesaing bisnisnya memang tampak cemberut. Ketika disapa dan mencoba mengakrabkan diri, hanya raut masam yang Baong terima. Mencoba tak memikirkan hal itu, Baong fokus menjalankan bisnis.

Namun, apalah daya, mungkin menemukan satu titik yang bisa dijadikan cara untuk menyerang, sang pesaing bisnisnya itu kerap melihat Baong berbicara berdua dengan wanita keturunan Tionghoa. Wanita itu tak lain rekan pedagang di seberang jalan.

Bagai mengetahui kelemahan lawan perang, dibuatlah isu Baong ada hubungan spesial dengan sang wanita itu. Parahnya, seolah membayar beberapa orang untuk meramaikan kebohongan itu, Eyah pun mendengar dan bersikap reaktif meski belum terbukti benar.

Apalah daya, merasa dikhianati Baong, Eyah mengamuk dan membuat ramai orang-orang pasar. Kata Baong, saat itu Eyah mengeluarkan kata-kata yang membuatnya terluka. Jadilah Baong merasa terhina dan naik darah. Membalas amukan dengan amukan, keributan pun semakin menjadi-jadi.

“Masa dia bilang di depan orang banyak, ini suami enggak tahu diri. Ruko ini awalnya punya keluarga saya dan dikasih ke dia, eh sekarang malah mendua,” kata Baong mengikuti ucapan Eyah.

Keributan berlangsung sampai di rumah. Seminggu kemudian, meski sudah dijelaskan tetapi Eyah tetap tak mau mendengarkan, Baong pun berjanji akan membayar tanah ruko jika Eyah ingin berpisah. Akhirnya, mungkin telanjur sakit hati, keduanya pun bercerai.

Katanya, setelah setahun berlalu, sebenarnya mereka sempat kembali dekat dan ingin rujuk. Namun, Eyah memilih lelaki lain yang lebih kaya. Baong pun akhirnya menemukan istri baru dan kini hidup bahagia.

Oalah, sabar ya Kang Baong, semoga langgeng sama istru barunya dan dijauhkan dari fitnah. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)