Sakit Hati, Istri Dipacari Sahabat Sendiri

KALAU sudah berurusan dengan cinta, jangankan sahabat, bahkan keluarga sendiri pun terkadang tak bisa jadi alasan untuk tidak menyatakan rasa cinta. Seperti dialami kisah persahabatan tiga perantau yang hancur karena pengkhianatan asmara.

Sebut saja namanya Ujel (34), Kosim (35), dan Malik (37), mereka perantau dari Cirebon yang mengadu nasib di suatu kampung di Kota Serang. Menjalani hidup sederhana dengan niat ingin menjadi lebih baik, ketiganya mengalami susah senang bersama. Kedekatan mereka seperti saudara.

Apa mau dikata, mendapat jodoh terlebih dahulu dengan wanita asli kampung setempat, sebut saja Iyem (31), Ujel yang berusia lebih muda tak bisa menahan hasrat ingin segera meminangnya. Dengan uang tabungan seadanya, ia melamar sang pujaan hati dan menyatakan ingin serius menuju pelaminan.

Sebagai sahabat, tentu Kosim dan Malik mendukung penuh rekan seperjuangan. Membantu menyiapkan segala keperluan, mereka menjadi teman sekaligus keluarga saat Ujel melepas masa lajang. Hingga hari bersejarah itu datang, Ujel dan Iyem resmi menjadi suami istri.

Mengontrak rumah sederhana, kedua pasangan muda itu mengawali hari mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan saling menjaga perasaan satu sama lain, baik Iyem maupun Ujel malu-malu menunjukkan sikap aslinya. Biasalah, mereka seperti pengantin baru pada umumnya.

Di tengah kebahagiaan menjalani hari, Ujel mendapat panggilan untuk bekerja ke Jakarta. Dengan berat hati, ia pergi meninggalkan sang istri tercinta. Meski awalnya sempat tak direstui, Iyem menangis melarang sang suami. Namun, Ujel tak bisa berbuat banyak, ia membujuk Iyem agar mengizinkannya. Duh sedihnya, Kang!

“Ya, biasalah namaya juga pengantin baru. Sedih juga saya waktu itu, soalnya ini kerjaan penting, upahnya lumayan besar,” kata Ujel kepada Radar Banten.

Dengan menitipkan Iyem pada kedua sahabatnya, Ujel berjanji untuk segera pulang. Kepercayaan yang terbangun dengan Kosim dan Malik membuat Iyem dan Ujel merasa tenang meski mereka terpisah jarak yang saling berjauhan.

“Pokoknya kalau ada apa-apa, telepon saja Kosim dan Malik, mereka pasti membantu. Jangan takut tinggal sendirian,” begitu pesan Ujel kepada sang istri.

Singkat cerita, seperginya Ujel ke ibukota, Malik dan Kosim seminggu sekali datang menjenguk Iyem. Menjaga hubungan persahabatan dengan Ujel yang tengah merantau, mereka sesekali menelepon sambil bercerita kabar masing-masing. Ujel pun sempat mengirim uang untuk makan istri dan dua sahabatnya.

Hingga suatu hari, merebaknya kasus pencurian di kampung membuat Iyem ketakutan tinggal seorang diri. Ia menelepon Kosim dan Malik, meminta bantuan untuk menemani. Lantaran Kosim tak bisa datang karena ada pekerjaan, jadilah Malik yang menemani. Sejak saat itulah benih-benih perselingkuhan mulai tumbuh. Waduh, bahaya nih!

“Ya, dia juga sebenarnya izin ke saya kalau minta Kosim dan Malik menginap, tapi kalau masalah si Kosim enggak bisa datang dan hanya ada Malik yang menemani, wah, dia enggak cerita,” tukas Ujel.

Seperti diceritakan Ujel, usut punya usut, sang istri dan Malik diam-diam menjalin hubungan terlarang. Itu semua ia ketahui dari laporan Kosim yang tak tega melihat nasib Ujel yang dikhianati istri dan sahabatnya. Parahnya, seolah lupa pada ikatan persahabatan, Malik santai saja mengunjungi Iyem setiap malam.

Yang membuat Ujel tak percaya, mereka sering jalan berdua layaknya sepasang muda mudi yang dimabuk cinta. Sudah berkali-kali dinasihati Kosim, baik Malik maupun Iyem tak pernah mendengarkan. Mereka menikmati kebersamaan bagai dunia hanya milik berdua.

Enam bulan bekerja, Ujel memutuskan pulang untuk menemui istri tercinta. Namun, ia tak mengabari bahwa akan datang. Sesampainya di rumah, betapa kagetnya Ujel melihat Iyem sudah tampil cantik dengan lipstik serta bedak menghiasi wajah. Ketika ditanya, Iyem mengaku memang sengaja ingin dandan malam itu.

Anehnya, setelah berbincang menyambut Ujel yang baru datang, ia pamit keluar untuk membeli sesuatu. Rasa curiga itu semakin menjadi-jadi, Ujel menelepon Kosim dan segera menemuinya. Dari sanalah keluar semua informasi tentang kelakuan Iyem dan Malik selama ini.

“Saya benar-benar enggak nyangka, teganya mereka mengkhianati. Wah, waktu itu emosi sudah enggak bisa ditahan lagi, Kang,” curhat Ujel.

Namun, atas saran Kosim, Ujel diminta jangan bertindak gegabah tanpa ada bukti nyata. Mengatur siasat untuk membuktikan perselingkuhan sang istri dengan sahabat sendiri, Ujel dan Kosim berencana untuk memergoki mereka di tempat yang biasa jadi pertemuan antara Iyem dan Malik.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, besoknya, sang istri kembali meminta izin pergi. Ngakunya sih mau ketemu teman, ternyata malah janjian sama selingkuhan. Tanpa menunggu lama, Ujel segera mengabari Kosim dan melancarkan aksinya. Kepergoklah Malik dan Iyem yang sedang duduk berdua.

Tak kuat menahan emosi yang telanjur membara, Ujel langsung memukuli Malik. Ia tak terima, dibalaslah pukulan Ujel tepat di bagian wajah, keduanya saling baku hantam di tengah keramaian. Iyem yang berteriak histeris mencoba menghentikan, tak mampu melawan amarah kedua lelaki yang kini ada di hatinya itu.

“Kesal saya, Kang. Kalaupun sampai mati, ya mati deh saya malam itu. Pokoknya enggak bisa kontrol emosi,” tukasnya.

Parahnya, bukannya sadar atas apa yang telah diperbuatnya. Malik malah semakin membuat Ujel murka dengan mengatakan ia dan Iyem akan menikah. Padahal, malam itu Iyem ingin mengakhiri perselingkuhan mereka. Ujel semakin mengamuk. Beruntung datang aparat kepolisian mengamankan ketiganya.

Sempat mendekam di penjara selama beberapa hari, Ujel akhirnya menceraikan Iyem dan pergi mencari tempat baru untuk menenangkan diri. Beruntung Kosim masih setia menemani. Kini Ujel tak lagi berkomunikasi dengan Malik.

Duh, sabar ya Kang Ujel. Hidup itu memang berat, semoga cepat dapat istri lagi. Amin. (Daru-Zetizen/RBG)

BAGIKAN