Kenyataan hidup berumah tangga, tak seindahan khayalan Tari (38) nama samaran. Menjalani hari dengan lelaki yang sempat menemani hidupnya, sebut saja Muin (41), dahulu, mereka pernah bermimpi memiliki segala kenikmatan dengan modal usaha keras dan kepercayaan.

“Salahnya terlalu banyak percaya omongan dia yang enggak pernah ada buktinya. Waktu itu kejadiannya pas saya usia 24 tahun dan Kang Muin 27 tahun. Kesal kalau diinget-inget lagi,” ungkap Tari kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Tari, Muin merupakan lelaki pendatang yang sudah lumayan lama tinggal di kampungnya. Hidup penuh kesederhanan serta perjuangan, Muin pemuda miskin yang terbiasa hidup sendiri. Meski awalnya ia tinggal bersama temannya, namun lambat laun mereka pergi ke tempat lain.

Jadilah Muin hidup sebatang kara. Mungkin tak kuat menahan malu jika harus pulang ke kampung halaman, ia rela kerja keras menekuni segala macam pekerjaan mulai dari kuli bangungan, pedagang kaki lima, sampai membantu mengurus masjid kampung. Muin menjalani hari penuh semangat bak hidup di dunia selamanya.

“Ya sebenarnya sih dia orang baik. Banyak yang senang juga sama dia. Jadi sesusah apa pun, pasti ada saja rezeki mah,” terang Tari.

Tak jauh berbeda dengan Muin, Tari juga termasuk perempuan baik dan berasal dari keluarga sederhana. Anak terakhir dari lima bersaudara itu, sering membantu ibunya membereskan pekerjaan rumah. Maklumlah, sang ibu yang sudah tua renta, tak bisa lagi banyak bekerja. Muin dan Tari sudah setahun lebih menjalin kisah cinta. Hubungan mereka berjalan lancar karena keluarga Tari memang tak begitu peduli dengan dunia asmara anak-anaknya.

Singkat cerita, suatu hari, mungkin lantaran termakan omongan tetangga, kalau nikah itu rezeki pasti datang. Tidak membuat Muin berpikir panjang terlebih dahulu. Dengan uang seadanya, ia tak bisa menahan hasrat untuk segera mengakhiri masa lajang. Meminang Tari gadis tetangga kampung, mereka sepakat menuju jenjang pernikahan.

Mengikat janji sehidup semati, Muin dan Tari resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan pesta pernikahan sederhana, tamu undangan tampak ikut berbahagia. Sosok Muin yang bersahaja, akhirnya menemukan wanita yang akan menemani hidupnya.

Di awal masa pernikahan, Muin bersikap penuh perhatian. Seraya menjaga kelakuan agar terlihat baik di depan keluarga sang istri, meski dengan uang pas-pasan, ia sering berusaha mengeluarkan uang untuk segala macam hal. Pokoknya, setelah menikah, Muin jadi lebih giat bekerja. Akhirnya ia diterima kerja di salah satu Pom Bensin di Kota Serang.
Seiring berjalannya waktu, Tari pun melahirkan anak pertama. Membuat hubungan mereka semakin mesra. Berkat kehadiran sang buah hati, Muin pun menjadi lebih leluasa tinggal bersama keluarga istri. Ia tak canggung lagi. Meski begitu, nyatanya keadaan harus memaksa Muin berbesar hati.

Soalnya, tak lama setelah kehadiran sang buah hati, ibunda Tari menghembuskan napas terakhir, membuat seluruh keluarga berduka. Hingga akhirnya, setahun berjalan, entah bagaimana awalnya, Tari yang memang sudah tak punya ayah dan ibu, terlebih ia anak terakhir dari lima bersaudara, tak bisa menahan kakak-kakaknya yang ingin membagi warisan. Katanya, kalau ingin tetap tinggal di rumah, Muin dan Tari harus membayar sejumlah uang. Aih, kok bisa gitu sih Teh?

“Ya gimana ya, Kang. Susah sih kalau sudah enggak ada orangtua mah. Mungkin kakak mikirnya saya sudah menikah, jadi sudah bisa hidup mandiri. Mereka ingin ambil bagian jatah warisan yang cuma ada beberapa sawah dan rumah itu. Soalnya bagian saya sudah dipakai buat biaya nikah,” katanya.

Apa mau dikata, Muin dan Tari pun memilih mengontrak rumah sederhana yang tak jauh dari kampungnya. Menjalani hari penuh misteri, mereka berjibaku menghadapi kerasnya hidup. Katanya, saat itu Tari mulai belajar hidup mandiri di usia muda tanpa kehadiran keluarga.

Namun mungkin masih sakit hati dengan kelakuan kakak-kakak Tari, setiap malam, sang suami pasti membicarakan kegundahan dan amarah terhadap mereka. Terpaksa, setiap malam juga Tari harus memasang telinga lebar-lebar mendengarkan keluhan Muin.
“Ya mau enggak mau saya dengerin dia ngoceh. Meski sudah saya ingetin kalau enggak usah diungkit lagi, tapi dia terus-terusan jelekin kakak saya,” ungkap Tari.

Tari masih terus mencoba bersabar. Meski dalam hati ia juga sempat geram dengan perlakuan sang kakak, namun Tari tak mau terlalu lama memendam benci. Hidup harus terus dijalani. Namun tampaknya hal itu berbeda dengan apa yang dipikirkan Muin. Meski dengan penghasilan sebagai penjaga pom bensin sudah mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia terus saja mengumpat.

Hingga suatu hari, dengan kondisi yang semakin terhimpit, Muin terus saja menyesalkan sikap sang kakak ipar. Berbeda dari sebelumnya, Tari yang cenderung diam dan mendengarkan, saat itu membalas keluhan suami dengan memintanya untuk tidak mengungkit lagi.

Tak disangka, Muin marah dan mencaci maki keluarga Tari. Katanya, kalau saja sang kakak punya hati dan tidak serakah dengan uang, mereka tidak akan menderita seperti sekarang ini. Tari naik pitam, dibalaslah ocehan suaminya. Keributan tak dapat dihindari.

Keesokan harinya, di pagi yang masih berselimut gelap, seusai salat subuh, tanpa ada kata sedikit pun yang keluar dari mulutnya, Muin tampak sibuk membereskan pakaian dan memasukkan ke dalam koper besar. Sebagai istri, Tari tak bisa tinggal diam, ia mencegah Muin pergi. Namun tekad Muin sudah bulat. Ya ampun, ditinggal pergi, Teh?

“Katanya saat itu dia bilang mau pulang dulu sebentar, nanti balik lagi. Tapi pas saya tanya kapan baliknya, dia enggak jawab,” kata Tari.

Seminggu, dua minggu tak juga datang. Akhirnya Tari dan sang anak tinggal bersama kakaknya. Sampai sebulan berjalan, Muin tak juga menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya, karena terlalu lama menunggu dan tak ada kejelasan, mereka pun berpisah untuk selamanya.

Astaga, sabar ya Teh Tari. Semoga kembali mendapat pengganti yang jauh lebih baik lagi. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)