Saksi Kunci yang Dihadirkan Jaksa Malah Untungkan Dahlan

0
580 views
Oepojo Sardjono, salah satu saksi kasus penjualan aset BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, PT Panca Wira Usaha, di Kediri dan Tulungagung menyalami Dahlan Iskan di Pengadilan Tipikor, Surabaya, Juanda, Sidoarjo, kemarin (13/1). (GHOFUR EKA/JAWA POS)

FAKTA kriminalisasi terhadap Dahlan Iskan dalam restrukturisasi aset PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim makin terang. Saksi kunci yang dihadirkan jaksa dalam sidang kemarin (13/1) justru tidak menyebut peran dan keterlibatan Dahlan. Padahal, saksi-saksi tersebut diajukan pihak jaksa.

Menurut para saksi, segala proses pelepasan aset diatur Sam Santoso dan Wisnu Wardhana (WW).

Saksi kunci yang dihadirkan jaksa itu adalah Oepojo Sardjono. Pria 73 tahun tersebut berkongsi mendirikan PT Sempulur Adi Mandiri bersama Sam Santoso. Perusahaan itu yang kemudian membeli dua lahan PT PWU di Kediri (bekas pabrik minyak) dan di Tulungagung (bekas pabrik keramik).

Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya, Oepojo panjang lebar mengungkap fakta penjualan aset PWU. Meski dia adalah saksi yang diajukan jaksa, ternyata banyak keterangannya yang menguntungkan Dahlan Iskan selaku terdakwa. Sejak awal dia menyebutkan, segala proses pembelian tanah diatur koleganya, Sam Santoso. Sementara itu, dari pihak PWU, Oepojo berkali-kali menyebut peran WW.

Ketika jaksa memulai pertanyaan soal awal mula pembelian lahan, misalnya, Oepojo mengaku awalnya tidak tahu ada aset PWU yang akan dijual. Dia tahunya dari Sam. Mulanya Oepojo datang menemui Sam untuk menawarkan tanah di Jakarta. Namun, Sam justru menawari Oepojo berkongsi membeli tanah PWU yang merupakan bekas pabrik minyak di Jalan Hayam Wuruk, Balowerti, Kediri.

“Waktu itu Pak Sam bilang nanti ada orang PWU datang ke Kediri membawa gambar tanah yang akan dijual, temui saja,” cerita Oepojo. Jaksa langsung mengejar cerita Oepojo. “Siapa orang PT PWU yang Saudara maksud?” tanya jaksa Trimo. Oepojo menjawab, “Ir Wisnu Wardhana.”

Oepojo mengaku sering mendengar cerita dari Sam bahwa selama ini koleganya itu selalu berhubungan dengan WW soal urusan pembelian lahan PWU. Baik tanah di Kediri maupun Tulungagung. Kala itu WW memang menjabat kepala biro aset di PWU.

Bukan hanya kata Sam, Oepojo juga sempat melihat sendiri. Ketika itu Oepojo pernah pergi ke kantor Sam. Di sana datang WW. Oepojo juga pernah diajak Sam ke kantor PWU di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. “Di sana kami ditemui pejabat PT PWU. Bukan Pak Dahlan. Kalau tidak salah Pak Suhardi,” katanya. Suhardi merupakan mantan direktur keuangan PWU.

Jaksa tampaknya tak puas atas pengakuan Oepojo. Jaksa Trimo sempat mengejar agar nama Dahlan keluar dari mulut Oepojo. “Terdakwa pernah ketemu?” tanya jaksa. Oepojo menjawab tak pernah bertemu dengan Dahlan untuk membicarakan penjualan tanah. “Saya itu ketemu Pak Dahlan pertama kali ya tanda tangan akta jual beli saja di hadapan notaris,” ujar Oepojo.

Nah, keterangan Oepojo itu ternyata dipelintir jaksa penyidik. Dalam BAP, penyidik menuliskan bahwa Oepojo pernah bertemu dengan Dahlan di kantor notaris. Dengan menulis seperti itu, seolah-olah jaksa ingin menunjukkan bahwa Dahlan terlibat dalam negosiasi dan pengaturan harga penjualan di notaris.

Padahal, versi Oepojo, dirinya tak pernah bertemu Dahlan di kantor notaris. Di hadapan sidang, Oepojo mengaku kali pertama bertatap muka dengan Dahlan di hadapan notaris Warsiki Poernomowati. Namun, di mana menghadapnya, Oepojo mengaku lupa.

Di hadapan notaris yang telah meninggal dunia pada 2013 itu, Oepojo bersama Sam Santoso. Di sana para pihak tak membicarakan harga. “Kami hanya mendengarkan pembacaan poin-poin dalam akta,” ujarnya. Lantaran ucapannya dipelintir penyidik, Oepojo memilih mencabut keterangannya dalam BAP.

Keterangan Oepojo itu menegaskan bahwa Dahlan sebenarnya hanya bertindak menandatangani akta. Sebab, tak ada pembicaraan mengenai apa yang harus dituangkan dalam akta. Isi akta mungkin telah diatur Sam dan WW.

Jaksa juga sempat mengejar Oepojo mengenai adanya akta nomor 39 tertanggal 10 Juli 2003. Akta itu merupakan pembatalan atas akta jual beli nomor 5 dan nomor 6 tertanggal 3 Juni 2003. Setelah adanya akta pembatalan tersebut, proses jual beli dilanjutkan melalui akta nomor 40, 41, dan 42 tertanggal 10 Juli 2003. Dengan tegas Oepojo menjawab bahwa seluruh proses itu diatur Sam Santoso. “Semua itu yang tahu Pak Sam,” tegasnya.

Ketika memberikan kesaksian dalam sidang, Oepojo sempat kesal karena merasa ditekan jaksa. Namun, cara Oepojo menyampaikan kekesalannya justru mengundang gelak tawa pengunjung sidang. “Jangan tekan-tekan saya, Pak Jaksa. Jantung saya ini sudah dipasangi ring,” ucapnya.

Dalam memberikan keterangan, Oepojo beberapa kali tampak kesal dengan JPU. Sebab, dia merasa pernyataannya yang ditulis dalam BAP tidak sesuai dengan keterangan yang dia berikan. “Bahasa yang diketik itu mungkin berbeda (dengan keterangan lisan). Saya khawatir diplesetkan,” katanya.

Dia mengaku punya masalah kalau membaca tulisan dalam bahasa Indonesia. Sebab, dia hanya mengenyam pendidikan di sekolah Tionghoa. Sehingga, kesulitan memahami tulisan berbahasa Indonesia. Karena itu dia tidak membaca lagi BAP setelah pemeriksaan. “Mungkin bapak menulis versi singkat,” ucapnya kepada Jaksa Trimo yang membacakan keterangannya di BAP terkait pembelian tanah PWU.

Seusai persidangan, Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa keterangan Oepojo sebagai saksi kunci sangat menguntungkan kliennya. “Saksi kunci mengungkap banyak hal. Dia membeberkan peran Sam Santoso dan Wisnu Wardhana. Dan tak sedikit pun diungkap peran Pak Dahlan,” terang Yusril.

Keterangan Oepojo, menurut Yusril, makin menegaskan bahwa kliennya tak punya peran penting dalam perkara penjualan aset PWU. “Sebab, semuanya dilakukan staf. Beliau hanya tanda tangan sebagai proses akhir sebagai direktur utama,” jelasnya. Oepojo jelas tak pernah menyebut Dahlan mengatur penjualan aset. Bahkan melakukan negosiasi pun tak pernah.

Sidang Dahlan Iskan dilanjutkan Selasa pekan depan (17/11). Ketua majelis hakim Tahsin memutuskan, sidang digelar dua kali dalam sepekan, yakni tiap Selasa dan Jumat. (atm/c9/tel/JPG)