Salah Satu Tahanan Kejari Serang Gunakan Narkoba Baru Jenis Kratom

SERANG – Kratom, narkoba jenis baru ditemukan di Kota Serang. Seorang tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang AS kedapatan memiliki kratom saat berada di ruang tahanan Pengadilan Negeri Serang usai menjalani persidangan kasus pengeroyokan, Selasa (26/11). Beruntung bagi AS, dia lolos dari jerat pidana lantaran kratom belum dibuat undang-undangnya.

“Bukan sabu, tapi kratom, narkoba jenis baru. Ada dua bungkus di tangannya (Setyadi-red),” kata salah satu penjaga tahanan yang enggan disebut namanya, Rabu (27/11).

Terungkapnya kepemilikan kratom tersebut bermula saat AS didatangi oleh seorang pemuda saat berada di ruang tahanan Pengadilan Negeri Serang. Saat berbincang, AS tampak menerima sesuatu barang yang mencurigakan. Penjaga tahanan yang menyaksikan itu lantas melakukan pemeriksaan. “Saat itu kayak ada yang mau dikasih. Pas diperiksa narkoba itu (kratom-red),” katanya.

AS dan tiga rekannya lantas diamankan penjaga tahanan. Saat dilakukan penggeledahan didapati lima butir pil eksimer di dalam tas rekan AS. “Mereka bertiga (rekan AS-red). Yang ngasih barang itu (narkoba-red) ada temannya, sedangkan dua lagi duduk enggak jauh dari lokasi,” ucapnya.

Saat dilakukan interogasi, AS mengaku mendapatkan kratom tersebut dari rekannya. Rekannya tersebut, kata dia, telah meninggalkan lokasi. “Katanya diberi temannya. Nah, temannya ini sudah pulang,” ujarnya.     

Penjaga tahanan lalu melaporkan kasus tersebut kepada Satresnarkoba Polres Serang Kota. Polisi yang datang langsung menggelandang ketiga rekan AS ke Mapolres Serang Kota untuk dilakukan pemeriksaan. “Kalau untuk tiga nama orang itu, saya enggak tahu tapi sudah dibawa ke sana (Polres Serang Kota-red),” katanya.

Kasat Resnarkoba Polres Serang Kota Ajun Komisaris Polisi (AKP) Wahyu Diana membenarkan pihaknya mengamankan tiga orang di PN Serang. Namun, pihaknya tidak dapat memproses hukum terhadap AS dan rekannya karena belum ada dasar hukum untuk melakukan penindakan.     “Itu narkoba jenis baru belum bisa diproses, undang-undangnya belum ada,” kata Wahyu.

Saat disinggung terkait kepemilikan lima butir pil eksimer, Wahyu menuturkan, pihaknya mengambil langkah restorative justice atau penyelesaian hukum di luar pemidanaan. Sebab, pemilik obat keras tersebut masih tergolong anak di bawah umur. “Sudah diserahkan kepada orangtuanya. Dia masih anak di bawah umur,” tutur Wahyu.

Sementara itu, Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Rutan Kelas IIB Serang Elieser Indra K Simanjutak mengatakan, AS telah diberikan sanksi dikurung di sel isolasi selama 14 hari. “Yang bersangkutan kami masukkan ke dalam ruang sel isolasi selama 14 hari ke depan,” kata Indra.

Sanksi yang diberikan tersebut merupakan hukuman disiplin tutupan sunyi atau tidak diperkenankan menerima kunjungan maupun kiriman apa pun dari keluarga. “Dia tidak boleh menerima kunjungan selama berada di isolasi,” kata Indra.

Hukuman yang dialami warga binaan tersebut, tutur Indra, menjadi pelajaran bagi warga binaan lain. Mereka yang melanggar aturan akan diberikan hukuman baik dimasukkan ke dalam sel isolasi atau pun tidak diberikan remisi. “Kalau tidak berkelakuan baik tidak akan mendapatkan remisi,” tutur Indra.

Kabid Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Jemmy Suatan mengatakan, BNN Pusat telah mengusulkan kratom ke Kementerian Kesehatan agar diterbitkan undang-undangnya. “Iya benar masuk narkoba baru, sudah diusulkan BNN Pusat ke Kementerian Kesehatan untuk dibuatkan undang-undangnya,” kata Jemmy.

Pengungkapan kasus kratom belum pernah diungkap di Provinsi Banten. Pengungkapan di Pengadilan Negeri Serang bisa saja disebut sebagai kejadian yang pertama. “Kalau di Jawa Barat dan Kalimantan sudah pernah ungkap kasus itu. Di Banten belum, mungkin baru kemarin (di Pengadilan Negeri Serang-red),” ucap Jemmy.

Kratom masih belum dikenal seperti ganja ataupun sabu-sabu. Meskipun demikian, kratom telah ditemukan di Kalimantan Barat. Daun kratom yang nama latinnya mitragyna speciosa (dari keluarga Rubiaceae). Di Indonesia daun kratom dikenal dengan nama daun purik atau ketum, dan telah lama digunakan sebagai obat herbal penghilang rasa sakit, bisa dimakan mentah, diseduh seperti teh, atau diubah menjadi kapsul, tablet, dan bubuk.        

Namun, belakangan ini kratom mulai disalahgunakan sebagai narkoba karena efeknya yang mirip dengan opium dan kokain. Kratom memberikan dampak lebih berbahaya dari ganja dan kokain. “Kratom juga menimbulkan dampak ketergantungan,” tutur Jemmy. (mg05/air/ira)