Saling Klaim Ahli Waris, Lahan Bakal Kantor OPP Disoal

Sejumlah bangunan yang sudah diratakan sendiri oleh pemiliknya untuk dibangun kantor OPP
Sejumlah bangunan yang sudah diratakan sendiri oleh pemiliknya untuk dibangun kantor OPP

MERAK – Pembebasan lahan di Lingkungan Lahar Mas Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon untuk rencana pembangunan Kantor Otoritas Pelabuhan Penyeberangan (OPP) Merak terganjal oleh adanya aksi saling klaim antar ahli waris. Pembongkaran sejumlah bangunan di lokasi, Selasa (5/1/2016), batal dilakukan.

Padahal, pembeli lahan sudah mendatangkan alat berat di lokasi. Hal ini terjadi lantaran ahli waris bersikukuh bila mereka masih memiliki hak atas sejumlah luas lahan.

Saiful Bahri, salah seorang warga yang mengaku sebagai ahli waris mengatakan dalam tanah yang dijual untuk Kantor OPP tersebut terdapat lahan yang menjadi miliknya, yang saat ini didirikan bangunan toko oleh-oleh Bandung, sebuah rumah makan padang dan sebuah rumah yang ia huni.

“Lahan yang saat ini dibangun toko oleh-oleh Bandung, rumah makan padang dan rumah saya itu, punya saya. Tapi dalam jual beli itu, tiga lahan itu termasuk dijual. Kamipun sudah melakukan upaya hukum atas lahan saya seluas 752 meter persegi,” ujar pria yang biasa disapa Ujang ini.

Sebelumnya, kata dia, dirinya sempat ditawarkan uang sebesar Rp3 juta oleh Munandar, salah seorang saudaranya sebagai pengganti bangunan itu saja. Tapi karena merasa masih memiliki hak atas lahan tempat berdiri tiga bangunan tersebut, ia memilih menolak.

Sementara itu, Munandar, warga lainnya yang juga mengaku sebagai ahli waris mengatakan pihaknya menjual tanah tersebut berdasarkan ahli waris orang tuanya berupa sertifikat tanah. Ia mengatakan, lahan miliknya tersebut termasuk lahan tempat sejumlah bangunan berdiri yang diklaim sebagai milik Ujang.

“Saya kan menjual berdasarkan bukti sertifikat yang ada. Dalam sertifikat ini, lahan yang menjadi rumah Pak Ujang, toko oleh-oleh Bandung dan rumah makan padang itu termasuk. Tapi akan diselesaikan secara kekeluargaan dulu,” katanya.

Saling klaim antar kedua belah pihak itupun berujung pada mediasi yang diinisiasi Polsek Pulomerak.

Tubagus Syahroni, selaku pembeli lahan yang juga berada di lokasi pada saat itu mengatakan pihaknya hanya akan melakukan pembongkaran sesuai dengan sertifikat yang ada. Adapun masalah masih adanya permasalahan di internal keluarga ahli waris, pihaknya tidak ingin ambil pusing.

“Jadi saya juga sudah sepakat, saat ini rumah milik Pak Saiful Bahri (Ujang), toko oleh-oleh Bandung dan rumah makan padang itu tidak dibongkar dulu. Walaupun di dalam sertifikat yang saya beli termasuk ketiga lahan tersebut. Saya memberikan toleransi kepada keluarga mereka untuk menyelesaikan persoalan ini,” tuturnya. (Devi Krisna)