Sama-sama Genit, Bersatu Kian Sulit

Sifat pasangan suami istri, Tarno (42) dan Wati (32), keduanya nama samaran, bagai pinang dibelah dua. Keduanya sama-sama mempunyai sifat genit kepada lawan jenis. Kondisi itu membuat rumah tangga mereka menjadi tidak harmonis dan sulit dipersatukan kembali karena sama-sama egois. Sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk pisah ranjang. Yassalam.

Kisah rumah tangga Tarno dan Wati kerap menjadi buah bibir keluarga dan tetangga. Tarno sering menggoda perempuan yang dilihatnya, begitu pula dengan Wati sama-sama enggak keruan. Tarno bahkan kerap kepergok menggoda tetangga dan suka terang-terangan kalau dia punya selingkuhan. Wati juga demikian, sering menggoda laki-laki yang ditemuinya. “Awalnya kita nikmatin aja sifat genit masing-masing,” aku Wati. Dasar ya, pasangan yang aneh. “Lama-lama gerah juga sama kelakuan genit suami yang makin menjadi-jadi,” kesalnya. Tuh kan, makanya jangan ikut-ikutan genit dong Mbak.

Ditemui di Kawasan Pondok Cilegon Indah (PCI), Kota Cilegon, Senin (24/6), Wati baru turun dari mobil dan duduk di sebuah warung terlihat sedang menunggu seseorang. Tak mau membuang kesempatan, Radar Banten langsung menghampiri Wati. Di tempat itu,  Wati tak sungkan diajak mengobrol dan menceritakan seputar rumah tangganya yang kini sedang bermasalah. Diceritakan Wati, pertemuannya dengan Tarno saat ia baru masuk kerja di salah satu perusahaan di Cilegon. Kebetulan saat itu Tarno atasan Wati di kantor. Meski menjabat atasan, Tarno selalu menunjukkan sikap ramah dan banyak membantu Wati dalam pekerjaannya. Awalnya, Wati menganggap perhatian Tarno hanya sebatas urusan pekerjaan. Seringnya berkomunikasi, perlahan cinta keduanya tumbuh berkembang. “Saya suka Mas Tarno selain punya jabatan, juga good looking- (tampan-red)-lah. Badannya juga macho. Dagunya berewokan dulu. Pokoknya tipe gue bangetlah,” kenangnya. Dasar mata keranjang.

Apalagi di kantor, penampilan Tarno selalu terlihat keren dengan setelan jas hitam meski usianya tak lagi muda. Beda sepuluh tahun dengan Wati. Begitu pula dengan Wati yang mempunyai paras manis semanis madu. Usianya saat itu juga masih muda, fresh kayak jus buah dan cerdas yang membuat Tarno sulit berpaling darinya. Melihat Wati tatapan Tarno seperti melihat daging segar. Belum lagi Wati ditunjang bodi yang aduhai, kulitnya putih mulus kayak perosotan TK yang membuat Tarno klepek-klepek dibuatnya.

“Sejak awal ketemu, dia (Tarno-red) tuh ketahuan banget naksir saya. Sikapnya baik dan perhatian. Beda pokoknya dibanding ke karyawan perempuan lain,” aku Wati bangga. Ah dasar aja Mas Tarnonya hidung belang.

Seringnya komunikasi dan bertemu di kantor, keduanya mulai saling melakukan pendekatan. Sebulan mereka dekat, pas gajian Tarno mengajak Wati makan malam di sebuah restoran. Malam itu menjadi malam yang indah bagi keduanya. Mereka makin lengket setelah saling terbuka menceritakan latar belakang masing-masing. “Rasanya langsung nge-klop dan yakin kalau dia jodoh saya,” ucap Wati. Pedenya.

Merasa ada kecocokan, tak butuh waktu lama untuk keduanya menjalin hubungan ke arah lebih serius untuk duduk sampai pelaminan. Tiga bulan kemudian, keduanya memutuskan untuk menikah. Pesta pernikahan pun digelar cukup meriah. Mengawali rumah tangga, Tarno langsung memberikan hadiah Wati rumah baru. Situasi itu tentunya membuat hubungan keduanya semakin harmonis. Mereka bahkan menyempatkan pergi bulan madu ke Bali selama seminggu. “Indah banget pokoknya kalau inget dulu. Kita main di pinggir pantai malem-malem,” kenangnya. Habis itu main apa Mbak? “Main petak umpet Mas sama kuda-kudaan,” guyonnya. Bisa aja.

Setahun kemudian mereka dikaruniai anak pertama. Wati cuti bekerja sementara dan fokus mengurus anak. Tiga bulan kemudian, Wati kembali bekerja dan menyewa pembantu rumah tangga untuk merawat anaknya. Sejak punya anak, ekonomi rumah tangga terus mereka semakin hari semakin membaik. Namun, kesibukan keduanya membaut mereka lupa berkumpul di rumah dan mengurus anaknya. “Waktu itu memang sudah agak renggang (hubungan Wati dan tarno karena kesibukan-red). Tapi, kita masih komunikasi kalau di rumah,” akunya. Sisihkan waktu dong buat kumpul sama anak.

Tiga tahun berlalu, lahirlah anak kedua. Sejak itu Wati memutuskan berhenti kerja dan memilih di rumah mengurus anak sambil berbisnis online. Kondisi itu bukannya membuat Tarno semakin semangat bekerja, malah dijadikannya kesempatan untuk bermain api, tanpa pengawasan Wati. Sejak Wati berbisnis di rumah dan tak lagi sekantor sama suami, memberikan peluang bagi Tarno untuk bebas. Tarno pun jadi sering pulang malam.

Bahkan, Wati sering kecolongan oleh suami yang sering keluar rumah mengendap-ngendap tengah malam. Setiap ditanya Wati keesokan harinya, Tarno selalu beralasan ada urusan mendadak di kantor. Wati yang sudah menaruh curiga tidak tinggal diam. Wati mulai mengecek isi ponsel Tarno saat suaminya sedang tidur. Betapa kaget Wati ketika mengetahui kalau suaminya punya simpanan di luar. “Sakit hati banget. Tapi, saya enggak mau nangis di depan dialah, mending dibales selingkuh lagi aja,” tukasnya. Yey, sama gilanya.

Menyadari suaminya berbuat serong, Wati malah ikut-ikutan menjalin hubungan dengan mahasiswa. Setiap minggu Wati keluar rumah membawa mobil pribadinya menjemput sang kekasih. Peristiwa itu berlangsung selama enam bulan lebih. Sampai akhirnya, Wati jengah dan tersiksa dengan situasi yang ia jalani karena pasangannya banyak mintanya daripada memberi. “Saya curhat ke saudara kalau kita sama-sama genit, eh malah dimarahin,” kesalnya. Ya iya lah.

Rahasia Wati dan Tarno pun akhirnya terbongkar dan diketahui kedua pihak keluarga. “Kita ribut seharian. Besoknya dia pergi enggak pulang seminggu,” sesalnya.

Sampai akhirnya Wati dan Tarno memutuskan untuk pisah ranjang dan tidak lagi saling komunikasi. “Sudah setahun kita pisah. Sambil nenangin pikiran dan fokus sama hidup masing-masing, enggak tahu kapan selesainya,” ungkap Wati. Semoga pengalaman pahit Mbak Wati jadi pelajaran berharga ya. (mg06/zai)