Serang – Sampah visual memenuhi berbagai sudut di Kota Serang. Iklan berupa spanduk, baliho, banner dan sebagainya seperti kolase yang tak beraturan dan mengganggu kenyamanan mata para pengendara yang memandang. Parahnya lagi, beberapa iklan dipasang menghalangi
rambu-rambu lalu lintas.

Mengenai hal ini, kesadaran warga kota sangat besar perannya dibandingkan penertiban yang dilakukan secara rutin oleh pamong praja. “Tiap kota sebaiknya punya divisi visual, entah itu lembaga formal atau tidak. Lembaga ini merespons apa yang dilakukan warga kota mengenai pemasangan spanduk dan sebagainya,” terang Pengamat Budaya Arip Senjaya dari Untirta kepada radarbanten.com, melalui sambungan telpon pagi ini, Senin (2/1/2015).

Berbicara keindahan kota, Arip menyebutkan, untuk kota-kota urban masih sulit diciptakan. “Pemasangan atribut dan sebagainya seharusnya mempertimbangkan tanda lain yang sesuai. Misalnya, tanda lalu lintas tidak boleh terhalang, pemasangan harus sesuai dengan K3, dan melalui aturan yang jelas,” paparnya.

Dikatakan, bahwa di Kota Serang dan kota-kota lainnya, sangat sulit menciptakan ketertiban visual ini. “Kecuali Bali mungkin di sana sudah tertib,” ujarnya.

Selanjutnya, membeludaknya sampah visual ini, ada peran pemilik percetakan yang tidak hanya mengutamakan kepentingan bisnis. “Pemilik percetakan juga sebaiknya punya pendapat. Tidak hanya memproduksi produk-produk yang mengotori kota dengan sampah visual,” terangnya.(Wahyudin)