Kisah kali ini datang dari seorang lelaki berstatus duda, sebut saja namanya Cueng (51), yang kemudian menikahi Siti (30), wanita muda cantik jelita. Parahnya, bak cerita Siti Nurbaya, rumah tangga mereka diwarnai adegan-adegan menegangkan yang penuh kepedihan.

“Ini kayak cerita Siti Nurbaya, tapi sebaliknya, saya yang tersiksa. Kejadiannya tuh pas saya usia 46 tahun dan Siti 25 tahun,” curhat Cueng kepada Radar Banten.

Bagaimana tidak, mungkin karena takut kehilangan Siti, Cueng seolah tak punya nyali di hadapan sang istri. Bagai ksatria yang rela turun gunung dan mengarungi lautan demi sang dewi, apa yang diminta Siti pasti dituruti. Widih, ngeri amat sih, Kang!

“Ya begitulah, waktu itu saya takut dia meninggalkan saya. Soalnya, bersyukur banget bisa menikah sama dia,” ungkap Cueng.

Sewaktu muda, Cueng berasal dari keluarga berada. Ayah petani yang sukses, ibu sibuk di rumah. Ia anak kedua dari empat bersaudara. Memiliki fisik tinggi, kulit sawo matang, dan rambut hitam tersisir rapi. Meski begitu, kalau dari segi penampilan, ia memang termasuk lelaki modis. Jiwa playboy-nya sudah terasa sejak remaja.

Singkat cerita, selama menjalani masa-masa pencarian pendamping hidup baru, setelah bercerai dengan istrinya, keseharian Cueng berubah 180 derajat. Mungkin itulah bentuk kasih sayang Tuhan, setelah mengalami perceraian, ia sempat bekerja dan dijanjikan dapat jatah warisan dari orangtua. Asyik. Eh, memang dulu cerai kenapa sih, Kang?

“Ya enggak cocok saja. Ditambah lagi saya memang menganggur dan sering masih mau main-main,” katanya. Lah terus, sudah punya anak sama istri pertama itu?

“Sudah dua, semua diasuh sama dia. Saya setiap bulan tinggal kirim uang saja,” jawabnya santai.

Cerita berlanjut, menyandang status duda, Cueng semakin beringas dalam mencari pengalaman cinta. Sampai suatu ketika, tak sengaja berkunjung ke rumah teman, Cueng terpana melihat wanita yang lewat di depannya. Bagai melihat uang tergeletak di jalan, Cueng tak bisa diam seolah ingin segera mendekatinya. Widih.

Seolah jiwa muda kembali bergelora, ia menanyakan status serta alamat rumah sang wanita pada temannya. Saat itulah, Cueng tahu kalau sang wanita ialah Siti. Katanya, ia kembang desa. Sempat menikah dengan teman SMA, tapi cerai setelah punya anak satu. Oh, jadi Teh Siti itu janda muda?

“Iya, Kang. Waktu pertama dengar juga saya kaget. Soalnya, dia kelihatan masih seperti perawan,” terang Cueng.

Pada pandangan pertama, gairah Cueng sebagai duda pencari cinta sempat meredup lantaran diberi saran untuk tidak mendekati Siti. Soalnya, ia mengaku, waktu itu ada banyak lelaki yang juga berniat menikahi. Tapi, entah dapat keberanian dari mana, keesokan harinya Cueng langsung datang ke rumah Siti dan menyatakan ingin segera menuju pelaminan. Aih, yang benar Kang?

“Atuh benarlah, saya enggak peduli dia sudah punya pacar atau belum. Kalau sudah begini mah, langsung saya datangi. Uang sudah siap, segala-galanya siap, tunggu apalagi,” tukas Cueng.

Beruntungnya, mungkin memang sudah jodoh, kebetulan saat itu Siti memang sedang jomblo. Meski awalnya tampak ragu, tetapi setelah dijelaskan kalau Cueng sudah mapan, ditambah dengan embel-embel punya banyak tanah dan sawah, yang namanya wanita, tentu tak bisa menolak. Daripada menanti yang tak pasti, Siti pun bersedia menjadi pendamping hidup Cueng.

Dengan pesta yang digelar meriah, suasana kampung Siti menjadi ramai. Berbagai jenis penjual kaki lima turut memadati sepanjang jalan dekat hajatan. Mengikat janji sehidup semati, Siti dan Cueng resmi jadi sepasang suami istri. Berjalan setahun usia pernikahan, mereka dikaruniai anak pertama, membuat hubungan semakin mesra.

Siti yang awalnya penurut dan sangat patuh pada suami, entah karena bosan atau termakan bisikan teman, perlahan sikapnya berubah tak seperti biasanya. Banyak menuntut minta dibelikan ini dan itu, tingkah Siti terkesan hanya memanfaatkan Cueng. Aih, masa sih, Kang?

“Selama setahun itu saya menumpang di rumah kakak yang lagi kerja keluar kota, Kang. Tapi, saya ngaku ke dia kalau itu rumah saya. Wah, saat itu kita ribut setiap hari karena enggak bisa turuti apa yang dia mau. Tabungan juga habis, enggak punya apa-apa,” curhat Cueng. Aih.

Usut punya usut, ternyata Cueng mengaku, setelah menjalani bahtera rumah tangga, ia baru sadar kalau alasan Siti mau menerimanya sebagai suami karena soal harta. Di situ ia mulai tak nyaman. Ya namanya juga hidup di dunia yang fana. Ia yang katanya akan diberi banyak tanah dan beberapa aset yang dijanjikan, nyatanya tak memberi peran berarti. Loh, kenapa, Kang?

“Ya beginilah nasib, Kang. Kan memang saya dapat jatah kebun dan sawah, eh ternyata itu rebut-rebutan sama saudara. Akhirnya kebagian sedikit,” kata Cueng. Oalah.

Akhirnya, di malam selepas isya, saat mereka duduk berdua di ruang tengah, berkatalah Cueng tentang status yang sebenarnya, tentang semua janji dan pemilik rumah yang mereka tempati. Apa mau dikata, merasa dibohongi, mengamuklah Siti. Keributan tak dapat dihindari.

Saat itu juga, Siti pulang ke rumah membawa serta anaknya. Ia mengadu pada orangtua tentang apa yang baru saja diceritakan Cueng. Dua hari kemudian, Cueng datang berniat menjemput pulang, tetapi Siti mengelak. Karena tak ada kejelasan, mereka pun mengakhiri rumah tangga untuk selamanya. Astaga.

Makanya, lain kali jujur saja, Kang. Urusan harta mah bisa dicari, yang penting hidup sederhana dan bahagia. (daru-zetizen/zee/ira)