Seba Baduy Bisa ke Istana Negara

Kemenpar Tunggu Pemprov

Jaro memberikan Laksa kepada Gubernur Banten Wahidin Halim didampingi Wakil Gubernur Andika Hazrumy pada acara Seba Baduy di halaman Pendopo Lama Gubernur, Kota Serang, Sabtu (21/4).

SERANG – Berdasarkan penanggalan adat warga Suku Baduy, April ini merupakan bulan Safar awal tahun baru bagi warga Baduy. Sesuai amanat leluhur (pikukuh karuhun), mereka wajib melakukan upacara Seba kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten sebagai penguasa wilayah setahun sekali.

Upacara Seba 2018 dimulai sejak Jumat (20/4) di Pendopo Bupati Lebak. Seba Baduy diikuti 1.388 warga, 47 orang di antaranya adalah warga Baduy Dalam. Puncaknya, upacara Seba dilakukan pada Sabtu (21/4) malam di Pendopo Lama Gubernur, Kota Serang. Dipimpin oleh Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Saija dan tokoh adat Baduy yang mewakili 12 tokoh adat masyarakat Baduy atau Putra Jaro Tangtu 12, yaitu Ayah Saidi.

Ritual paling sakral dalam upacara Seba adalah penyerahan Laksa (makanan khas Baduy) yang diawali dengan pembacaan rajah panganteur (rajah pembuka). Laksa kemudian diserahkah Ayah Saidi kepada Bapak Gede atau Gubernur Banten. Disaksikan langsung oleh perwakilan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), unsur muspida, wakil gubernur, Sekda Banten, Bupati Pandeglang dan pejabat di Lingkungan Pemprov Banten.

Pantauan Radar Banten saat upacara Seba, ada dua hal menarik yang tidak terjadi pada Seba Baduy sebelumnya. Pertama, wacana Seba Baduy dilaksanakan hingga Istana Negara di Jakarta. Kedua, soal isu bencana gempa dan tsunami di Banten yang juga menjadi perhatian warga Baduy.

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural merangkap sebagai Ketua Pelaksana Program 100 Calender of Event Wonderful Indonesia (CoE WI) 2018 Kemenpar, Esthy Reko Astuti mengatakan, Seba Baduy bukan hanya tradisi yang terus dijaga, tapi juga pelestarian budaya.

“Kami selama ini berbagi tanggung jawab dengan Kemendikbud dan pemerintah daerah. Bagaimana Seba Baduy ini dikemas sebagai destinasi wisata unggulan Provinsi Banten tanpa mengurangi inti dari tradisi Seba itu sendiri,” kata Esthy.

Terkait rencana kegiatan Seba dikemas hingga bisa dilaksanakan ke pemerintah pusat, Esthy mengatakan rencana itu bisa dilakukan asalkan ada usulan dari pemerintah daerah. “Di Istana kewenangannya kan berbeda. Saya rasa kegiatan Seba bisa saja hingga Istana Negara. Sebab tradisi ini kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia,” ungkapnya.

Wakil Gubernur Andika Hazrumy mendukung kegiatan Seba Baduy bisa hingga Istana Negara. Namun begitu, Pemprov harus meminta izin para tokoh dan kaolotan warga Baduy terkait Seba Nasional.

“Kalau warga Baduy setuju, Pemprov bisa mengusulkan tahun depan ke pusat agar Seba hingga ke presiden. Tapi kan ini menyangkut kebiasaan dan tradisi, kalau warga Baduy tidak setuju ya tidak bisa dipaksakan Seba hingga Istana Negara,” katanya.

Andika menambahkan, sepengetahuan dirinya, Seba hanya dilakukan di wilayah Provinsi Banten sesuai amanat leluhur warga Baduy di Desa Kanekes. Tapi bila Seba ke Jakarta tidak melanggar aturan, bisa dikemas dari sisi budayanya sebagai destinasi wisata. “Prinsipnya untuk melestarikan tradisi dan budaya seba, bukan untuk yang lain,” ungkapnya.

Sebelumnya, usai menyerahkan laksa kepada gubernur, Jaro Saija menyampaikan amanat puun warga Suku Baduy. Ia menyampaikan kerusakan alam di Provinsi Banten sudah mengkhawatirkan dan harus segera dicegah oleh pemerintah.

“Kalau dirusak akan rusak buminya, akan datang banjir dan sebagainya. Pemerintah harus bertanggung jawab menjaga bumi Banten dari kehancuran,” kata Jaro Saija.

Selain meminta menjaga bumi, pesan Puun yang disampaikan melalui Jaro Saija juga menitipkan Gunung Pulosari, Gunung Karang, Gunung Kembang dan gunung lain yang berada di wilayah Banten untuk dijaga kelestariannya.‎ Jika permintaan dapat dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Banten, maka masyarakat Baduy dan masyarakat Banten pada umumnya dapat hidup dengan tenang dan nyaman.

“Kami bukan mengakui gunung milik kami. Tapi amanat Puun, kami harus bertanggung jawab menjaganya,” ungkapnya.

Kepada Gubernur, Jaro Saija juga menyampaikan ketakutan warga Baduy terkait kawasan permukiman sekitar Baduy yang mulai beralih fungsi sehingga rawan terjadi bencana.

“Kami berdoa dan puasa, agar tidak terjadi bencana alam. Termasuk ancaman tsunami di Banten Selatan,” katanya.

“Kami juga mohon maaf apabila kedatangan kami menyusahkan dan merepotkan semua pihak,” tutup Jaro Saija dengan logat Sunda khas Baduy.

Menanggapi amanat para puun warga Baduy yang disampaikan Jaro Saija, Gubernur Wahidin Halim mengatakan, Pemprov Banten tidak akan mengubah kawasan Baduy, dan akan terus membantu sesuai kewenangan pemerintah daerah. “Saya sebagai Bapak Gede sudah melarang ada pembangunan sekitar kawasan Baduy yang merusak lingkungan. Saya juga mengingatkan semua tamu untuk tidak merusak apa pun di kawasan Baduy,” katanya.

Wahidin secara khusus memberikan pesan kepada masyarakat Banten agar mencontoh perilaku masyarakat Baduy dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai pusat kehidupan.

Kepala Dindikbud Banten Engkos Kosasih dalam laporannya mengatakan, Seba Baduy 2018 merupakan seba kecil sehingga hanya diikuti kurang dari 1.500 warga Baduy. “Peserta seba tahun ini 1.338. Kami sudah siapkan 25 bus untuk mengantarkan pulang, khususnya warga Baduy Luar,” katanya.

Engkos menambahkan, Seba Baduy 2018 merupakan seba pertama yang dilaksanakan Dindikbud. Sebelumnya digelar oleh Dinas Pariwisata. “Tahun ini upacara Seba Baduy programnya ada di Dindikbud, tapi Dispar juga mendukung penuh dengan menggelar exciting Banten on Seba Baduy yang fokus pada destinasi pariwisatanya,” katanya.

Engkos menambahkan, semua warga Baduy yang ikut seba, panitia telah menyiapkan bingkisan menarik dan uang saku. “Semua peserta seba mendapatkan oleh-oleh kesukaan mereka yaitu ikan asin, terasi dan garam. Khusus untuk para tetua ditambahkan gambir,” ungkapnya.

Berdasarkan data panitia, dalam tiga tahun terakhir, Seba Baduy di Pemprov Banten diterima oleh Bapak Gede yang berbeda-beda. Seba ‎2016 diikuti 1.317 orang dan diterima Bapak Gede Rano Karno saat masih menjabat gubernur.

Selanjutnya Seba 2017 diikuti 1.658 warga Baduy ditemui Bapak Gede atau Penjabat Gubernur Banten Nata Irawan. Sedangkan tahun ini, 1.388 warga Baduy yang ikut seba, diterima Gubernur Wahidin Halim. (Deni S/RBG)