Sekolah Gratis di Cilegon, Buku Penunjang Diharapkan Beli

Kota Cilegon

CILEGON – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Cilegon, Mukhtar Gozali menekankan agar pihak sekolah di Kota Cilegon tidak membebankan biaya pungutan sekolah yang merepotkan kepada orang tua atau pun wali murid. Ia menegaskan, saat ini di Kota Cilegon pihak sekolah negeri tidak melakukan pungutan pendaftaran dan daftar ulang bagi siswanya serta iuran bulanan yang bersifat membebankan.

“Tahun ini sudah saya instruksian agar sekolah tidak membebankan peserta didik baru baik atribut dan seragam. Yang sudah digratiskan adalah buku paket, SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan). Tapi untuk memberikan buku penunjang, pemerintah daerah saat ini masih belum mampu, jadi wali murid harus membelinya sendiri, tapi tidak dipaksakan bagi yang tidak mampu,” ujar Mukhtar Gozali saat meninjau SDN Blok I Kota Cilegon, Kamis (21/7).

Lebih lanjut Mukhtar mengatakan, ia memastikan agar program yang diberikan Pemkot Cilegon dapat berjalan di setiap sekolah di Kota Cilegon. Termasuk juga saat pengenalan lingkungan sekolah (PLS) lalu. “Saya meninjau untuk melihat apakah semua sudah sesuai dengan kebijakan walikota. Insya Allah minggu ke depan KBM (kegiatan belajar mengajar) sudah berjalan, dan akan kita cek sejauh mana hasil guru dalam pengajarannya,” katanya.

Sementara itu, Yulia, salah seorang wali murid di SDN Blok I mengaku walaupun buku paket tidak diperjualbelikan, namun ia diwajibkan untuk membeli buku lembar kerja siswa (LKS) serta buku penunjang lainnya. “Barusan saya beli di koperasi sekolah tiga buku penunjang yaitu TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), Bahasa Inggris, dan Agama seharga Rp170 ribu,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Sekolah SDN Blok I Kota Cilegon, Lili Rumliah mengatakan, sebagai salah satu sekolah negeri, mantap ia membedakan sekolahnya dengan sekolah umum lainnya adalah dari fasilitas sekolah yang lebih baik, tingkat kedisiplinan guru dan cara mengajar guru pendidik yang lebih berkualitas. “Total jumlah siswa kita di sini sebanyak 608 orang. Dan murid yang menerima bantuan (beasiswa) tidak mampu ada sekitar 46 siswa,” tuturnya. (Riko)