Selama 2019, Pelajar Dominasi Pecandu Narkoba

0
549 views

SERANG – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten merilis jumlah pengguna narkoba selama 2019. Selama satu tahun kalangan pelajar mendominasi dengan persentase 49,5 persen. Jumlah tersebut terpaut jauh dibandingkan kalangan wiraswasta 19,81 persen dan Polri 9 persen yang termasuk dalam tiga besar.

“Pelajar masih mendominasi selama setahun terakhir ini. Persentasenya hampir 50 persen,” ujar Kepala BNN Provinsi Banten Brigadir Jenderal Polisi Tantan Sulistyana saat ekspos di Kantor BNN Provinsi Banten, Senin (30/12).

Selama satu tahun jumlah warga yang mendatangi BNN Provinsi Banten untuk direhabilitasi karena ketergantungan narkoba berjumlah 111 orang. Berdasarkan kriteria pengguna narkoba tersebut selain pelajar, anggota Polri, juga ada aparatur sipil negara (ASN) berjumlah empat orang dengan persentase 3,6 persen. Kemudian, ibu rumah tangga (IRT) empat orang dengan persentase 3,6 persen, belum bekerja 6 orang dengan persentase 5,4 persen, mahasiswa tiga orang dengan persentase 2,7 persen, dan buruh satu orang dengan persentase 0,9 persen.

Berdasarkan wilayah, Kota Serang menyumbang paling banyak dengan jumlah 55 orang, Kabupaten Serang 24 orang, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Pandeglang masing-masing sembilan orang. Kemudian Jakarta empat orang, Kabupaten Lebak tiga orang, Kota Cilegon dan Kota Tangerang masing-masing dua orang. “Dari Bandung ada tiga orang,” ujar Tantan.

Dijelaskan, tingginya pengguna narkoba dari kalangan pelajar dikarenakan kurangnya pengawasan dari orangtua. Selain itu juga pelajar yang masih labil dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap narkoba sehingga mengonsumsinya. “Selain karena usia labil juga karena kurangnya pengawasan dari orangtua menjadi salah satu faktor,” kata jenderal polisi bintang satu tersebut.

Kalangan pelajar yang menjadi pengguna narkoba mayoritas bukan mengonsumsi sabu atau ganja. Mereka kebanyakan mengonsumsi obat-obatan keras seperti tramadol dan eximer serta obat keras yang melebihi dosis. “Pelajar ini banyak menggunakan bukan narkotika tapi obat-obatan keras. Dia gunakan dengan dosis melebihi sama efeknya dengan narkotika. Contohnya, obat sakit kepala dan obat penenang tapi melebihi dosis serta tramadol eximer,” kata Tantan.

Layanan yang diberikan BNN Provinsi Banten terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba yang melapor tersebut berupa layanan rawat jalan. Selain itu juga layanan pasca rehabilitasi dan layanan asesmen terpadu. “Kami akan tetap memberikan layanan rehabilitasi berkelanjutan kepada mereka yang datang kepada kami,” kata mantan wakapolda Kepulauan Bangka Belitung tersebut.

Selama satu tahun terakhir, BNN Provinsi Banten menangani 16 kasus dan 16 tersangka. Jumlah barang bukti yang diamankan narkoba jenis sabu seberat 15 kilogram dan ganja seberat 150 kilogram. Jumlah tersebut, kata Tantan, jika dilihat dari jumlah kasus dan tersangka dibanding tahun 2018 mengalami penurunan. Namun, melihat barang bukti yang diamankan mengalami kenaikan seperti sabu pada tahun 2018 hanya seberat 7,5 kilogram. “Seperti sabu tahun lalu 7,2 kilogram, sekarang 15 kilogram hampir 100 seperti termasuk ganja tahun ini 150 kilogram dengan hanya satu kegiatan,” tutur Tantan.

Pada bagian lain, selama 2019 Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cilegon hanya berhasil mengungkap satu kasus. Kepala BNN Kota Cilegon Asep M Jaelani menjelaskan, dari kasus tersebut, pihaknya mengamankan dua orang tersangka yaitu inisial Z dan M yang diidentifikasi bagian dari jaringan  peredaran narkotika.

Salah satu dari pelaku adalah warga binaan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Cilegon. “Terhadap keduanya sudah diputus oleh hakim Pengadilan Negeri Serang Nomor: 280/Pid.Sus/2019/PN Srg dan Nomor 281/Pid.Sus/2019/PN Srg,” ujar Asep dalam kesempatan press release, Senin (30/12).

Menurut Jaelani, 2019 pihaknya lebih mengedepankan pencegahan. Selama satu tahun terakhir pihaknya banyak melakukan upaya preventif yang bertujuan memberikan kekebalan sehingga tingkat penyalahgunaan narkoba semakin menurun.

Upaya preventif dilakukan melalui kegiatan diseminasi informasi P4GN dan kampanye stop narkoba dengan melibatkan pemerintahan serta masyarakat secara langsung. “Kita pun selama tahun 2019 secara rutin menggelar tes urin, baik di pemerintahan maupun di tempat publik, yang terbaru adalah di Terminal Merak dalam rangka Operasi Lilin Kalimaya libur Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.

Selama 2019, BNN Kota Cilegon pun melayani rehabilitasi pecandu narkoba di klinik pratama. Sebanyak 25 orang menjalani rehabilitasi rawat jalan, sedangkan dua orang lain dirujuk be Balai Besar Lido. “Karena di kita tidak ada fasilitas rawat inap,” ujarnya.

Sementara di Polda Banten, selama  2019 sebanyak 928 orang ditangkap. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018 yang  berjumlah 804 orang. “Untuk tahun 2019 ada 732 kasus yang kita ungkap dengan 928 tersangka penyalahgunaan narkoba. Dari jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dengan jumlah 644 kasus dan 804 tersangka,” kata Direktur Resnarkoba Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Yohanes Hernowo.

Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba tertinggi terjadi di wilayah hukum Polresta Tangerang dengan 333 kasus dan 385 tersangka. Kemudian Polda Banten dengan jumlah 102 kasus dan 145 tersangka, Polres Serang sebanyak 64 kasus dan 78 tersangka. Lalu, Polres Cilegon sebanyak 91 kasus dan 117 tersangka, Polres Serang Kota sebanyak 62 kasus dan 93 tersangka, Pandeglang sebanyak 42 kasus dan 55 tersangka. “Terakhir Polres Lebak sebanyak 37 kasus dengan 54 tersangka,” kata Yohanes.

Adapun barang bukti yang diamankan yaitu narkoba jenis sabu sebanyak 3,7 kilogram, ganja sebanyak 234 kilogram, tembakau gorilla sebanyak 627 gram, ekstasi sebanyak 36 butir, zenith sebanyak 201,853 gram, psikotropika 42 butir dan obat-obatan keras sebanyak 494.972 butir. “Sabu kita ada 3,7 kilogram,” ujar Yohanes.

Banyaknya kasus narkoba yang diungkap di Tangerang dikarenakan daerah tersebut berbatasan dengan Jakarta. Selain itu kultur budaya masyarakat dan daya beli masyarakat. “Karena Tangerang berbatasan dengan Jakarta, kultur budayanya juga heterogen sekali dibandingkan dengan daerah lain seperti Lebak dan Pandeglang yang agamisnya kuat,” tutur Yohanes. (mg05-bam/air/ags)