Selama Covid, 1.912 Wanita Hamil

0
2.258 views

CILEGON – Wabah Covid-19 di Kota Cilegon tampaknya berdampak terhadap laju pertumbuhan masyarakat di kota dengan julukan Kota Baja tersebut.

Pasalnya, selama masa pandemi Covid-19, yaitu dalam rentan waktu Februari hingga April, sebanyak 1.912 perempuan hamil.

Selama masa pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Cilegon sendiri mengeluarkan anjuran kepada masyarakat untuk tetap berada di rumah. Segala aktivitas, seperti belajar dan bekerja pun dilakukan di rumah.

Anjuran itu dikeluarkan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus yang pertama ditemukan di Wuhan, Tiongkok tersebut.

Dikonfirmasi wartawan, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon Arriadna menjelaskan, ribuan perempuan hamil baru itu berdasarkan catatan dinas yang dipimpinnya.

Dari data yang dimiliki, usia perempuan yang diketahui hamil baru itu berkisar di usia 20 hingga 45 tahun.

Kendati jumlah angka ibu hamil baru mencapai ribuan, jika dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Arriadna terjadi penurunan. “Kalau di Febuari 2019 wanita hamil mencapai 702 perempuan, Maret mencapai 727 perempuan dan April mencapai 644 perempuan,” ujar Arriadna, Jumat (29/5).

Arriadna memperkirakan, salah satu faktor terjadinya penurunan wanita hamil di Cilegon, karena kecenderungan para perempuan telah mematuhi dan mengikuti anjuran untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB).

Arriadna pun mengingatkan kepada para perempuan hamil itu untuk semakin berhati-hati dalam beraktivitas, khususnya saat di luar ruangan.

Ia meminta kepada para ibu hamil baru itu untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta melaksanan protokol pencegahan Covid-19 dalam berbagai macam kesempatan.

Pada kesempatan lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Cilegon, Heni Anita Susila menjelaskan, salah satu faktor  menurunnya tingkat kehamilan di Cilegon ini, lantaran kaum perempuan ini mengalami stres menghadapi kondisi masa pandemi Covid-19.

Selain itu, adanya penyakit bawaan mulai dari penyakit diabetes hingga adanya ketakutan kaum wanita untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.

“Mungkin faktor utama itu selain kesadaran para wanita ini menggunakan suntik KB dan minum pil KB. Kami tidak akan bosan-bosan untuk memberikan himbauan kepada kaum wanita agar tetap menjaga auto imun agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (bam/air)