Selama PSBB, Pelabuhan Merak Tetap Beroperasi

Beberapa penumpang saat berada di Pelabuhan Merak, Minggu (13/9). Selama PSBB berlangsung di Kota Cilegon pelabuhan ini tetap beroperasi melayani penyeberangan ke Pulau Sumatera.

CILEGON – Selama pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Cilegon, Pelabuhan Penyeberangan Merak tetap beroperasi seperti biasa. PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak selaku operator Pelabuhan Merak memastikan pengguna jasa penyeberangan, baik perorangan maupun berbagai macam jenis kendaraan masih bisa mendapatkan layanan penyeberangan dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni.

General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Hasan Lessy menjelaskan, kebijakan PSBB tidak membuat layanan penyeberangan ditutup  sebab tidak ada instruksi penutupan dari pemerintah. “Kami tetap melayani masyarakat dengan mengedepankan protokol kesehatan,” ujar Hasan Lessy, Minggu (13/9).

Kata Hasan, operasional pelabuhan tetap berjalan selama penerapan PSBB karena pihaknya hanya bersifat melayani dengan asumsi masyarakat yang datang di pelabuhan telah melalui pos penjagaan yang dibuat oleh pemerintah.

Kendati seperti itu, pencegahan tetap dilakukan. Seluruh layanan, baik dari kawasan pelabuhan hingga di atas kapal mengacu upaya pencegahan Covid-19. Ia mencontohkan, saat di pelabuhan, setiap penumpang menjalani pemeriksaan suhu tubuh serta diwajibkan menggunakan masker dan menjaga jarak saat berada di ruang tunggu. Pembelian tiket sudah sepenuhnya melalui sistem daring untuk menghindari antrean penumpang di loket.

Di atas kapal, tempat duduk penumpang sudah ditandai physical distancing. “Jumlah penumpang juga hanya 50 persen dari kapasitas kapal,” ujar Hasan.

Terpisah, Walikota Cilegon Edi Ariadi menjelaskan, selama PSBB, Pemkot Cilegon dibantu oleh TNI, Polri serta sejumlah stakeholder memperketat akses masuk dari luar daerah. Pemerintah membangun pos Covid-19 di setiap pintu tol yang ada di Kota Cilegon serta di sejumlah jalur arteri.

Kata Edi, di pos tersebut, seluruh masyarakat yang melintas dilakukan cek suhu tubuh menggunakan thermogun. Jika suhu tubuh melebihi batas wajar yang ditetapkan, maka pengecekan berulang akan dilakukan. “Jika masih tinggi suhu tubuhnya maka akan di-rapid test di tempat, cuma-cuma. Jika hasil rapid test reaktif kita suruh pulang ke tempat asal,” ujar Edi.

Jika tak ingin pulang ke tempat asal, Pemkot Cilegon memberikan izin kepada yang bersangkutan untuk isolasi mandiri selama 14 hari di Kota Cilegon. “Tempatnya di mana, apakah di Cikerai (Rumah Singgah milik Dinas Sosial) atau di mana, nanti dibahas, karena kan kita juga meminta hotel untuk menyiapkan fasilitas untuk isolasi mandiri,” papar Edi. (bam/alt)