Selesaikan Karya Tulis Ilmiah 15 Lembar Selama Delapan Jam

0
419 views
Siti Adawiah saat mengikuti lomba karya tulis ilmiah Alquran.

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVIII

Lomba karya tulis ilmiah Alquran cukup menguras energi dan pikiran. Peserta yang diberi tema berbeda-beda harus mampu menulis sesuai kriteria dan selesai tepat waktu.

Laporan: Aas Arbi Syahrostani – Padang

Minggu pukul tujuh pagi Prof Dr Sholeh Hidayat berangkat menuju kampus Universitas Andalas bersama Siti Ahdawiah dan Tb Rifat, dua peserta lomba karya tulis ilmiah Alquran pada MTQ Nasional XXVIII

“Kita harus datang tepat waktu. Sebelum lomba dimulai, harus sudah di sana. Biar ada persiapan,” kata Sholeh.

Ketua Kafilah Provinsi Banten Prof Sholeh Hidayat (kanan) menyemangati Tb Rifat (tengah) dengan terus mendampingi saat berlomba.

Ketua kafilah Provinsi Banten ini meminta Siti Ahdawiah yang akan lomba mulai pukul delapan pagi mengecek laptop dan buku-buku referensi yang akan dipergunakan saat lomba. Kalau  tertinggal, sangat beresiko. Apalagi lokasi lomba karya tulis ini paling jauh dari tempat penginapan kafilah Banten di pusat Kota Padang. Terletak di wilayah perbukitan Limau Manis, Kecamatan Pauh, sekira 12 kilometer dari ibukota Sumatera Barat.

Semua peserta harus datang lebih awal. Panitia, panitera, dan dewan hakim tepat waktu melaksanakan lomba. Aturan ini berlaku untuk semua lomba. Tidak lupa, protokol kesehatan wajib dipatuhi.

Di ruang aula Pusat Kegiatan Mahasiwa Universitas Andalas, peserta dari provinsi lain sudah hadir. Siti Ahdawiah yang biasa disapa Ahda punya nomor urut registrasi MQ-29, mendapatkan meja di baris keempat atau paling belakang.

Sementara Tb Rifat menyaksikan dari luar. Pria kelahiran Cikoromoy, Pandeglang ini berlomba pada esok hari, Senin (16/11). “Ingin tahu lokasinya dulu. Buat persiapan,” kata Rifat.

Di dalam ruang aula, Ahda sudah siap di depan laptop yang sudah diperiksa panitia dan tidak ada file dokumen apa pun. Di samping laptop, mahasiswi akhir STAI Syekh Manshur ini meletakkan 16 buku, seperti tafsir, kitab hadis, Kamus Besar Bahasa Indonesia, serta 13 judul tulisan jurnal  yang berkaitan dengan komunikasi dan media sosial.

Ahda bersama 22 peserta dari provinsi lain tampak serius. Peserta yang diberi waktu istirahat satu jam untuk salat zuhur dan makan siang, memanfaatkan secara singkat. Mereka berpacu dengan waktu hingga pukul lima sore.

“Dapat tema tentang etika komunikasi di media sosial. Alhamdullah selesai. Dapat nulis 15 halaman selama delapan jam,” ungkapnya setelah keluar ruangan.

Perempuan asal Ciekek Pabuaran, Pandeglang ini bersyukur dapat menyelesaikan lomba. Ia mengaku hanya menemui kesulitan secara teknis.

“Kesulitannya secara teknis saja, karena biasa pakai bodynote, tiba-tiba di arena suruh pakai footnote. Footnote itu memakan halaman dan membuat waktu nulis tidak efisien,” ungkapnya.

Tb Rifat yang lomba pada Senin (16/11), juga tidak menemui kesulitan. Ia menyiapkan 20 buku referensi dan 40 judul tulisan jurnal.

Saat istirahat salat zuhur dan makan siang pukul setengah satu siang, mahasiswa pascasarjana Universitas Gajah Mada ini sudah menulis 11 halaman. Tema tulisan tentang etika komunikasi di media sosial.

“Kebetulan dapat tema yang sama dengan Ahda dari Dewan Hakim.  Tema yang lain tentang patriotisme perspektif Islam,” ungkap alumnus UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini.

Begitu dapat tema etika komunikasi di media sosial, Rifat kemudian membuat tulisan berjudul Literasi Qurani Dalam Melawan Hoaks. Pada isi tulisan sebanyak 15 lembar, pria berkacamata ini mengungkapkan fenomena hoaks, mengutip tujuh ayat Alquran dan dua hadis tentang tabayyun, serta memaparkan tentang solusi melawan hoaks dalam perspektif Islam.

“Karena sudah tau tema besarnya, semua buku referensi saya bawa dan diberi tanda di bagian yang akan dikutip. Ya butuh konsentrasi penuh dan kecepatan dalam menulis,” ungkapnya.

KREATIVITAS MENULIS

Sholeh Hidayat yang jadi pembina peserta lomba karya tulis ilmiah Alquran ikut mendampingi peserta di kompleks Universitas Andalas pada Minggu dan Senin (15-16/11) dari pagi  hingga selesai pukul lima sore. Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa periode 2011-2015 dan 2015-2019 ini berharap utusan kafilah Banten tidak menemui kesulitan membuat karya ilmiah.

“Sesuai mekanisme, peserta mendapatkan tema besar sebelum lomba. Saat perlombaan tinggal menulis saja. Lomba ini menguras energi, kerja mengolah pikir hingga sembilan jam,” jelas Sholeh.

Sholeh menuturkan, peserta karya tulis ilmiah Alquran mendapatkan tiga tahapan pembinaan. Mereka dilatih menulis sesuai kriteria dan harus mampu mempresentasikan.

Kriteria tulisan antara lain, pada bobot materi harus relevan antara judul dan tema besar, terdapat kebaruan gagasan, terdapat pendalaman isi dan kandungan  Alquran, keluasan wawasan dan kekayaan referensi. Kemudian penggunaan kaidah dan tata bahasa, logika dan organisasi pesan.

Keteraturan berpikir, sistematika gagasan, dan aliran tulisan.

Pada tahap penyisihan yang diikuti  Sholeh berharap Ahda dan Rifat masuk babak semifinal (Rabu, 18/11) yang diikuti enam peserta. Kemudian masuk lagi pada babak final (Kamis, 19/11) dengan tiga peserta.

Pada babak final, peserta mempresentasikan hasil karya pada babak semifinal. Saat presentasi di depan dewan hakim, harus mampu memaparkan karyanya, mampu menjawab pertanyaan, memiliki etika presentasi dan kematangan emosi.

“Mari kita berdoa semoga mereka berhasil mengharumkan nama Banten,” kata Sholeh kemarin sore dalam perjalanan pulang ke tempat penginapan. (air)